Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Belahan Jiwa


__ADS_3

Akhir pekan berikutnya saat Mas Darwin akan pulang ke Kayuagung, Alya mual dan muntah-muntah di wastafel kamarnya. Mas Darwin membantu mengurut-urut punggung Alya lalu memapahnya untuk berbaring di kasur.


"Aku buatkan jeruk hangat dulu untuk kamu," ucap Mas Darwin.


Alya segera menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Sayang. Kamu di sini saja. Aku butuh kamu di sini."


"Temani aku! Aku benar-benar tidak enak badan." Lalu, tiba-tiba Alya merasa mual kembali dan, "Huekk! Huekkk!" Ia muntah kembali di kamar mandi.


Karena terlalu banyak muntah, badannya pun menjadi lemas. Mas Darwin meminta pembantu mereka untuk membuatkan segelas jeruk hangat agar mual Alya berkurang. Mas Darwin juga memintanya membuat makanan untuk Alya karena sejak tadi Alya terlalu banyak muntah. 'Pasti perut Alya menjadi kosong,' pikir Mas Darwin. Ia tak mau Alya bertambah pusing dan akhirnya jatuh sakit.


Setelah itu, Mas Darwin menyuapi Alya makan hingga tak terasa sudah pukul satu siang. Setelah itu, Alya tertidur sambil menggenggam tangan Mas Darwin. Perlahan Mas Darwin melepas genggaman tangan Alya.


Mas Darwin ingin berdiri dari posisi duduknya yang berada di samping Alya. Namun, Alya terbangun. Ia melirik Mas Darwin yang sudah berdiri. "Kamu mau kemana, Sayang?" tanyanya.


"Aku mau siap-siap ke Kayuagung. Nanti kesorean," jawab Mas Darwin.


"Sayang," Alya segera menggenggam tangan Mas Darwin. "Jangan tinggalkan aku! Temani aku di sini!" rengek Alya dengan manja.


"Tapi, aku harus ke Kayuagung dulu, Sayang. Minggu lalu aku sudah tidak pulang ke sana karena kita ke Palembang. Aku harus adil," jelas Mas Darwin.


"Kali ini saja, Sayang."


Mas Darwin tak tega melihat Alya yang masih pucat. Ia benar-benar tak sehat. Karena itu, Mas Darwin mengurungkan niatnya untuk kembali ke Kayuagung. Ia kembali duduk dan membelai rambut Alya.

__ADS_1


"Iya, aku akan menemanimu di sini," ucap Mas Darwin dan membuat Alya mengembangkan senyumnya


Sementara itu, di Kayuagung aku sedang sibuk membuka setiap kupnat di bajuku. Baju-bajuku sudah terasa sempit, sebagian baju sudah tak bisa kupakai lagi. Rokku pun sudah tak bisa kupakai sejak berbulan lalu. Yang tersisa hanya gamis dan beberapa dress panjang yang kupnatnya sedang kubuka saat ini.


Sejak kejadian melarikan diri waktu itu Mas Darwin sudah berhenti memberikan uang kepadaku. Ia juga menahan dompetku. Aku tak bisa membeli apapun lagi.


Meskipun Mas Darwin berpesan agar aku memberitahukan padanya jika ingin membeli sesuatu atau memerlukan apapun agar ia membelikannya untukku. Namun, aku memutuskan untuk berusaha tidak merepotkan dan meminta kebaikan darinya. Aku harus terbiasa mandiri, tidak bergantung padanya. Karena, perasaan itu hanya akan menyakitkan hatiku.


Semakin aku bergantung padanya maka aku akan semakin mengharapkan kehadirannya dan ingin memilikinya. Aku harus sadar diri. Aku hanya akan meminta bantuannya jika terdesak saja. Selagi bisa mengusahakan sendiri aku akan berusaha sendiri.


Hari pun berlalu tanpa kedatangan Mas Darwin dan aku tidak kecewa. Aku sudah memaklumi jika ia tidak bisa pulang. Ia pasti sibuk mengurusi Alya yang sedang hamil muda. Namun, ada sedikit kegetiran dalam hatiku karena merasa tidak dipedulikan. Tapi, perasaan itu segera kuhapus.


'Aku tak boleh merasa seperti itu. Aku tak boleh mengharapkan kepeduliannya. Aku harus tegar," tekanku dalam hati.


Ia tak rela Mas Darwin meninggalkannya. Ia berusaha menahannya dengan berkata, "Lebih baik kamu hari ini tidak pulang, Sayang. Besok kamu kan sudah harus masuk kerja. Sore kamu sudah pulang ke sini lagi. Nanti kamu capek bolak-balik."


"Aku akan kembali ke sini besok, Sayang. Aku akan berangkat fajar besok dari Kayuagung dan langsung ke kampus untuk kerja." Mas Darwin bersikeras ingin pulang ke Kayuagung.


Alya akhirnya tak dapat menolak keputusan Mas Darwin. Ia hanya terdiam saat Mas Darwin berkata, "Aku akan segera pulang. Jaga anak kita baik-baik!" Lalu, Mas Darwin pergi meninggalkannya.


Ia menangis menyadari suaminya akan pergi menemui wanita lain. Alya benar-benar tak rela harus membagi suaminya. Ia sangat merindukan Mas Darwin yang dulu, yang ada hanya untuk dirinya, bukan untuk wanita lain.


'Dimana suamiku yang dulu?' batinnya. 'Mengapa sekarang kamu sangat jauh berbeda? Dulu kamu bilang aku belahan jiwamu, hanya aku. Tapi, sekarang... kamu benar-benar sudah lupa itu.' Alya menyeka air matanya, namun air mata yang lainnya tetap berjatuhan.

__ADS_1


Sementara itu, Mas Darwin memutuskan untuk tidak langsung pulang ke Kayuagung. Ia memutar arah dan akhirnya masuk ke pintu tol menuju Palembang. Mas Darwin mendatangi mall yang akhir pekan lalu dikunjunginya bersama Alya.


Ia berjalan menuju ke sebuah patung. Mas Darwin membeli dress toska yang dilihatnya tempo hari di sana. Ia juga membeli beberapa baju lainnya dan jilbab. Setelah selesai berbelanja ia kembali ke jalan tol menuju Kayuagung.


"Krekkk!" Aku membuka pintu kamarku dan melangkah masuk. Kulihat kantong belanjaan bertumpuk di atas kasur. 'Punya siapa?' pikirku.


Selembar kertas berada di dekat tumpukan itu. Aku membaca tulisannya dalam hati, 'Rania... maaf aku kurang perhatian padamu.'


"Mas Darwin," gumamku. 'Apa dia pulang ke sini?' pikirku. Lalu, "Kreekk!" Pintu kamar dibuka. Mas Darwin masuk ke kamar. Ia baru saja dari kamar mandi.


"Sejak kapan kamu pulang, Mas?" tanyaku.


"Baru saja," jawabnya. Ia melirik kantong belanjaan yang sama sekali belum kusentuh. "Itu semua untuk kamu. Bukalah!" ucapnya kemudian.


Aku menoleh pada kantong belanjaan dan mengeluarkan pakaian dari dalamnya. Semuanya terlihat bagus dan anggun. Aku tidak pernah mempunyai pakaian seperti ini sebelumnya.


"Semoga kamu suka," ucap Mas Darwin.


Aku tersenyum kecil dan berkata, "Terima kasih, Mas." Lalu, aku membuka kantong yang lainnya. Kantong itu berisi beberapa lembar jilbab. Kantong lainnya berisi baju-baju daster. Kantong berikutnya berisi ....


Aku tercengang ketika mengeluarkan isi kantong ketiga. Mas Darwin segera berkata, "Aku pikir mungkin saja punyamu yang lama sudah sempit, ukurannya tidak muat lagi. Jadi, aku juga belikan pakaian dalam untukmu."


Wajahku memerah dan segera memasukkan pakaian-pakaian dalam itu ke dalam kantongnya. 'Mas Darwin pasti terpikir hal yang aneh-aneh ketika membelikan pakaian dalam ini untukku,' pikirku.

__ADS_1


Dan, itu benar... Mas Darwin terbayang dengan momen di Bali saat membelikan pakaian dalam itu untukku. Ia meminta pramuniaga di stand pakaian dalam memilihkan semua pakaian dalam itu untukku. Kemudian, tiba-tiba saja ia teringat pada aroma tubuhku yang membiusnya malam itu, membuatnya sangat ingin mengulanginya lagi. Namun, itu takkan terjadi karena aku takkan membiarkannya terjadi lagi.


__ADS_2