
Hari sudah malam. Mas Darwin masih terus gelisah memikirkan dimana aku berada. Ia menelepon Yuk Selvi, mencoba memastikan apakah aku pulang ke Kayuagung. Namun, jawaban yang ia terima adalah tidak. Aku tidak pulang ke sana.
Mas Darwin lalu menghubungi Nelly. "Apakah Rania menemuimu? Apakah Rania ada bersamamu?" tanya Mas Darwin memburu.
"Tidak, Mas," jawabnya.
"Jika kamu tahu informasi keberadaan Rania, tolong kabari aku secepatnya," ucap Mas Darwin.
"Iya," ucap Nelly.
"Terima kasih." Lalu, Mas Darwin mengakhiri pembicaraannya dengan Nelly.
Nelly meletakkan ponselnya sambil memandang aku yang sedang berada tepat di hadapannya. "Rania," ucap Nelly agak ragu. "Sepertinya Mas Darwin sangat mengkhawatirkanmu."
"Mengapa kamu tidak jujur saja jika kamu ada di sini bersamaku? Dari siang tadi Mas Darwin mencarimu," ucap Nelly.
"Dia tidak mengkhawatirkanku, Nelly. Dia tak peduli padaku. Yang dia khawatirkan itu hanya anak yang ada di perutku saat ini," tandasku.
Perkataanku membuat Nelly terkejut dan berkata, "Hah! Kamu hamil?"
Aku mengangguk pelan. Sedangkan, Nelly segera berkata, "Rania mengapa kamu nekat pergi jika kamu tahu kamu hamil? Kamu harus pulang, Rania. Temui Mas Darwin, selesaikan dan bicarakan semuanya baik-baik!"
"Tidak akan, Nelly. Aku tidak akan pulang. Aku akan bercerai dengan Mas Darwin dan aku akan membesarkan anakku ini sendiri," ucapku.
"Rania, jangan bodoh! Anak ini butuh ayahnya. Membesarkan anak seorang diri itu tidak mudah. Apalagi, kamu harus memenuhi banyak kebutuhannya."
"Aku akan kerja, Nelly. Aku akan punya penghasilan sendiri untuk membesarkan anak ini." Aku tetap keras kepala.
__ADS_1
"Kerja?" ucap Nelly ragu. "Siapa yang mau menerima kamu bekerja Rania dengan kondisi kamu hamil seperti ini?"
"Lebih baik kamu pulang, Rania. Temui suamimu!" bujuk Nelly.
Aku menggelengkan kepalaku. Berusaha tetap pada pendirianku. Aku tidak akan pulang dan kembali menjadi istri boneka Mas Darwin. Aku ingin bercerai dan hidup mandiri.
Sementara itu, Mas Darwin begitu gusar memikirkan keberadaanku. Ia kembali menghubungi seseorang. Kali ini ia menghubungi Tante Ros, sepupunya yang menjadi tetanggaku dahulu di Palembang. Namun, jawaban yang ia dapatkan tetap sama. Ia tak menemukan keberadaanku.
Mas Darwin pun menatap langit malam dari jendela kamarnya dan Alya. Langit cukup terang malam ini. Dalam hati Mas Darwin terucap, 'Dimana pun Rania sekarang berada, semoga dia baik-baik saja.'
Lalu, tiba-tiba Alya memeluk tubuh Mas Darwin dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di punggung Mas Darwin. Mas Darwin tak berkutik sedikit pun, ia diam saja. Lalu, perlahan Alya berkata, "Sayang, sudah tujuh tahun kita menikah."
Mas Darwin tetap diam saja. Lalu, Alya kembali berkata, "Bagaimana jika kita ... melakukan program bayi tabung?"
Mas Darwin tetap terdiam, tak merespon apapun. "Aku ingin sekali memiliki anak darimu, Sayang. Anak kita, anak yang akan menghiasi rumah ini dengan tawa dan tangisnya," ucap Alya. "Banyak malam telah kuhabiskan dengan memimpikan memiliki seorang bayi. Bayi itu begitu menggemaskan, aku menggendongnya, memandikannya, memeluknya."
"Aku ingin kita program bayi tabung. Kamu mau kan, Sayang?" Alya melepas pelukannya dan kini berdiri di hadapan Mas Darwin begitu dekat. Ia menunggu jawaban yang keluar dari bibir Mas Darwin sambil tersenyum sumringah.
Seketika senyuman di wajah Alya luntur, berganti perasaan emosi kesedihan menggebu. "Aku juga ingin memiliki anak dari kamu, Sayang. Bukan hanya Rania yang berhak mengandung anakmu."
"Bukan begitu," ucap Mas Darwin segera.
"Mengapa kamu terus memikirkan Rania? Kamu tidak memikirkan perasaanku?" Air mata sudah berjatuhan di wajah Alya, membasahi wajahnya yang masih sembab karena terlalu banyak menangis.
"Kamu berubah. Seharian ini kamu hanya terus memikirkan dia. Apa itu murni karena dia sedang mengandung anakmu? Atau, karena kamu sudah jatuh cinta padanya?"
Mas Darwin terdiam mendengar pertanyaan Alya. Ia menatap Alya dengan lekat. Wanita yang dicintainya itu berurai air mata. Sejak tadi sore berurai air mata, kini terulang lagi.
__ADS_1
"Aku hanya mengkhawatirkan kandungan Rania, Sayang," ucap Mas Darwin.
"Sebesar itukah kekhawatiranmu? Hingga kamu lupa denganku, dengan perasaanku."
Mas Darwin hanya terdiam. Lalu, Alya kembali berkata, "Aku iri pada Rania. Dalam sekejap ia mendapatkan semua perhatianmu hanya karena ia mengandung anakmu. Aku juga ingin mengandung anakmu, Sayang. Aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu."
Mas Darwin pun segera memeluk Alya dengan erat. "Apapun yang terjadi aku tetap mencintai kamu," bisik Mas Darwin. "Kamu cintaku."
Alya mendengar semua ucapan Mas Darwin, namun itu tak cukup meredakan semua emosi kesedihan di hatinya. Ia terus menangis, menangisi cinta Mas Darwin yang kini diketahuinya tidak lagi hanya mengisi hatinya saja. Namun, ada wanita di luar sana yang juga mendapatkan percikan kehangatan cinta dari suaminya.
Ia benci mendengar suaminya membicarakan Rania. Ia ingin membuang semua pikiran Mas Darwin tentang Rania. Ia ingin Mas Darwin memikirkan masa depan kebahagiaan rumah tangga mereka berdua.
"Lupakan, Rania! Kamu milikku," suara Alya terdengar di tengah gemuruh tangisnya.
Mas Darwin memeluk Alya dengan erat untuk menenangkannya. Namun, di dalam pikirannya tetap saja bergentayangan kecemasan dan pertanyaan tentang keberadaan Rania.
Malam pun akhirnya berlalu dan aku masih terus memaksa Nelly untuk memberitahuku informasi lowongan pekerjaan. Karena, Nelly memiliki banyak teman sesama pelayan rumah makan dan bergabung di grup info lowongan pekerjaan di seputar kawasan tempat tinggalnya. Sementara itu, Nelly tidak mau membagi informasinya.
"Kamu sedang hamil muda. Bahaya untuk kandunganmu kalo kamu kerja berat, Rania. Kamu itu harusnya banyak beristirahat," ucap Nelly.
"Aku tidak kerja berat, Nelly. Aku mau kerja di rumah makan lagi saja. Pelayan rumah makan pekerjaannya tidak terlalu berat. Aku sudah biasa dari dulu, Nelly," ucapku. Aku memilih untuk menjadi pelayan rumah makan karena itu pekerjaan serabutan yang tidak memerlukan ijazah pendidikan. Jika bekerja menjadi pelayan toko, sudah pasti pemilik toko akan meminta pendidikan minimal SMA. Aku sudah pernah mencoba melamar banyak pekerjaan dulu, namun semua menolakku karena aku tak tamat SMA. Oleh karena itulah, dulu aku akhirnya bekerja sebagai pelayan rumah makan.
"Bantulah aku, Nelly! Aku membutuhkan uang untuk melanjutkan hidupku. Aku tidak mungkin terus menumpang di rumahmu seperti saat ini. Aku butuh uang untuk mencari kontrakan. Sebagian uangku sudah habis untuk membeli pakaian ganti. Aku butuh pekerjaan Nelly untuk membiayai kehidupanku dan anak ini. Bantulah aku!" Aku berusaha memohon pada Nelly.
Sehingga, akhirnya Nelly pun luluh dan memberikan informasi pekerjaan padaku. Aku pun segera mendatangi rumah makan yang sedang membutuhkan pelayan itu sebelum jam sembilan pagi.
Saat aku tiba di sana, rumah makan itu baru saja dibuka. Aku segera bertemu dengan pemilik rumah makan. Ia membutuhkan pelayan untuk menghidangkan makanan dan beres-beres. Aku menyanggupi semua persyaratan yang diajukannya dan tidak memberitahukan tentang kehamilanku.
__ADS_1
Aku memberitahunya bahwa aku pernah bekerja di rumah makan juga sebelumnya. Hal itu membuat pemilik rumah makan cukup tertarik. Aku memiliki pengalaman sehingga akhirnya ia pun menerimaku dan memintaku bekerja mulai hari ini juga.
Sementara itu, Alya sejak pagi ini jatuh sakit. Badannya pucat karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Untuk membahagiakan Alya Mas Darwin berusaha menemaninya seharian di rumah. Sejak pagi ia merawat Alya, menyuapinya bubur, menghiburnya. Mas Darwin berusaha melupakan sejenak pikirannya untuk mencariku, meskipun dalam hatinya yang terdalam sesungguhnya ia galau dan ingin segera menemukanku.