Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Dompet Usang


__ADS_3

"Dompetku...." gumamku pelan.


Aku melirik jalan di sekitar rumah. Mobil Mas Darwin sudah benar-benar tidak ada. Dia seperti menghilang begitu saja, tanpa sempat bicara apapun. Mas Darwin kini sudah dalam perjalanan kembali menuju Indralaya. Aku bergegas masuk dan kembali ke kamarku.


'Mas Darwin mengembalikan dompetku,' pikirku. Aku cukup senang. Tanpa diminta Mas Darwin akhirnya mengembalikan sendiri dompetku. Aku memeluk dompetku karena bahagia.


Aku menatap dompetku yang tampak usang. Di dalamnya terdapat KTPku. Aku membutuhkannya untuk mengurus gugatan cerai. Aku pun membuka dompetku untuk memastikan ada KTPku di sana.


"Apa ini?" gumamku ketika menemukan selembar kertas yang dilipat di dalamnya.


Aku membukanya. Ternyata itu adalah sebuah surat. Ternyata, Mas Darwin tadi masuk ke dalam mobilnya dan mengambil selembar kertas. Ia menuliskan surat itu di dalam mobilnya dan memasukkannya ke dalam dompetku.


Rania, maafkan aku. Aku tak bisa memberimu kebahagiaan yang layaknya didapatkan oleh seorang istri. Maafkan aku jika membuatmu tersakiti. Kamu layak bahagia.


Aku kembalikan dompet ini padamu. Di dalamnya ada KTP yang saat ini sangat kamu butuhkan untuk mengurus perceraian. Di dalam tabunganmu terdapat uang. Setiap awal bulan aku memasukkan uang bulanan yang tak kuberikan kepadamu ke dalam rekeningmu. Kamu bisa gunakan kartu ATMmu untuk mengeceknya.


Berhentilah menerima orderan peyek! Kesehatanmu dan anak kita jauh lebih penting. Kamu bisa gunakan uang di tabunganmu untuk mengurus perceraian.


Setelah bercerai nanti tak usah bekerja, fokus saja rawat anak kita! Aku akan menanggung biaya kehidupanmu dan anak kita setiap bulannya.


Mulai hari ini berbahagialah, Rania! Aku tak mau melihatmu menangis lagi. Aku sangat berharap bisa membesarkan anak kita bersama-sama. Tapi, mungkin akan lebih baik bagimu jika kita tidak bersama.


Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Terima kasih telah memberikan kenangan dan kebahagiaan padaku. Maafkan aku yang hanya selalu menyakitimu.


Satu hal yang harus kamu tahu ... aku melepasmu bukan karena ingin mengakhiri hubungan denganmu. Aku harus melepasmu karena aku tak ingin kamu terus terluka. Aku terpaksa melepasmu karena aku mencintaimu.


Aku terdiam setelah membaca surat itu. Bibirku kaku seketika. Harusnya aku tersenyum setelah membacanya. Bukankah ini yang aku inginkan... bercerai dengan Mas Darwin?


Bukankah ini yang aku perjuangkan selama ini... pergi dari rumah ini dan perpisahan dengan Mas Darwin secepatnya? Tapi, mengapa lidahku menjadi kelu dan bibirku kaku seketika. Aku tak bisa tersenyum lalu, "Tess!"


Satu tetesan air mata menetes di pipiku disusul tetesan-tetesan lainnya. Air mata seketika menghujani wajahku. Aku sendiri bingung, mengapa aku malah menangis?

__ADS_1


Aku tak dapat menahan kesedihanku. Dalam sekejap hatiku terasa perih dan perasaanku malah terluka membaca surat itu.


Aku teringat momen saat pertama kali aku bertemu dengan Mas Darwin dulu. Waktu serasa terhenti saat itu, aku begitu terpesona dengannya. Aku teringat saat ia datang dan membelaku dari perlakuan kasar pemilik warung makan tempatku bekerja. Aku teringat saat ia memelukku. Aku teringat banyak momen bersamanya.


'Mengapa perasaanku begitu lemah?' pikirku. 'Tak seharusnya aku menangis seperti ini.'


'Mas Darwin adalah lelaki yang membuatku tertipu dan terjebak dalam pernikahan ini,' tekanku dalam hati. 'Mengapa aku harus menangisinya?'


Aku benci pada diriku sendiri saat ini. Harusnya aku tegar, tak boleh lembek seperti ini. Mas Darwin sudah punya istri, aku harus sadar itu. Dan, dia lebih memilih Alya sebagai istrinya daripada aku. Mengapa aku harus menangisinya?


Namun, air mata di kedua pipiku tetap saja berderai hebat. Aku bahkan jadi teringat dengan ucapanku sendiri dulu saat di Bali. 'Aku ingin menua bersamamu.' Kalimat itu berdengung di telingaku. Saat itu aku bertekad akan mempertahankan Mas Darwin apapun yang terjadi.


'Siapapun wanita itu, aku akan berusaha memiliki suamiku sepenuhnya. Aku bertekad akan mempertahankan suamiku apapun yang terjadi. Aku mencintainya meski ia tak mencintaiku.' Aku teringat semuanya.


Sungguh tak kuduga pada akhirnya akan jadi seperti ini. Perpisahanku dengan Mas Darwin sudah di depan mata. Harusnya aku bahagia. Inilah yang aku cari selama ini. Namun, aku malah merasa hatiku sangat perih dan perasaan pilu tak bisa terelakkan. Aku sesegukan berusaha menahan tangisku yang malah semakin menjadi-jadi.


Sementara itu, Mas Darwin memacu mobilnya dengan kencang, meninggalkan rumahnya di Kayuagung dengan perasaan bercampur aduk. Ada kesedihan dalam hatinya, namun ia tak mau menampakkannya. Ia hanya terus memacu mobilnya dengan kencang agar bisa segera sampai di Indralaya.


'Aku akan segera pergi dari sini,' batinku. Tapi, sebelum itu terjadi, aku harus melunasi hutang membuat peyek pada pelanggan peyekku. Aku harus profesional.


Aku pun segera mulai membuatnya. Namun, entah mengapa hari ini semuanya berjalan seakan tidak lancar. Peyek yang kugoreng menghitam karena gosong. Percikan minyak panas dari wajan mengenai tanganku. Sehingga, aku spontan berusaha menghindar dan tanganku tak sengaja menyenggol adonan peyek hingga tumpah di lantai.


Aku memandangi adonan itu dan menghela nafas. Lalu, aku pun terpaksa membuat adonan yang baru. Saat itu, aku sudah merasa tidak ingin melanjutkan pekerjaanku ini. Namun, pesanan yang sudah menunggu untuk dipenuhi membuatku harus tetap lanjut hingga selesai.


Sejujurnya aku benar-benar tidak mood mengerjakan semua ini. Perasaanku kacau, belum bisa move on dari kejadian kemarin. Otakku terus terpikir tentang hal itu.


Lalu, tiba-tiba saja muncul denyutan yang samar terasa di perutku. Aku tetap saja menggoreng peyek, berusaha menyelesaikannya secepat mungkin. 'Setelah itu, aku bisa beristirahat.!' pikirku.


Namun, makin lama denyutan itu terasa semakin jelas. Aku mulai berpikir ada hal aneh yang terjadi pada tubuhku, tapi aku tak tahu itu apa. Aku masih saja meneruskan pekerjaanku.


Semakin lama denyutan itu malah menjadi rasa sakit. Aku terpaksa menghentikan tanganku membuat peyek. Aku meraba perutku yang sudah seperti balon. Setiap beberapa menit sekali denyutan itu terasa dan menyakitkan.

__ADS_1


Aku bergegas ke kamar dan duduk bersandar di tempat tidurku. Aku berusaha menenangkan diriku walaupun pikiranku berkecamuk. 'Ada yang salah dengan perutku,' pikirku.


Setiap denyutan itu datang aku merasa sangat sakit hingga ingin menangis. Lalu, denyutan itu menghilang untuk sejenak, memberikan jeda padaku untuk merasa lebih tenang sementara. Tapi, denyutan itu selalu datang lagi dan lagi.


Aku tak bisa terus seperti ini. Aku butuh bantuan seseorang. Tapi, aku tak bisa berjalan ke luar kamar dan tak ada juga orang yang menghampiriku di kamar. Sementara itu, aku merasakan sakitnya semakin hebat.


Lalu, samar kudengar suara ibu mengoceh di dapur. "Rania ini, habis masak ditinggalkan begitu saja, tidak dibereskan lagi. Mentang-mentang ada pembantu."


Aku pun spontan memanggil, "Bu...." Aku memanggil dari dalam kamar, "Bu...."


Tak lama ibu sudah hadir di ambang pintu kamarku. "Rania... kamu ini jangan jadi kebiasaan ya...." Ucapan ibu terhenti seketika saat menyadari aku meringis memegang perutku.


"Kamu kenapa?" tanya ibu sambil segera mendekatiku.


"Sakit, Bu," ucapku. "Perutku sakit, semakin lama semakin sakit."


Ibu terdiam. Matanya segera menelusuri kakiku dan berkata, "Kamu tidak pendarahan."


"Rasa sakitnya seperti apa?"


"Sakit, Bu. Sebentar hilang, sebentar sakit lagi," ucapku.


"Lah, kamu itu berarti kontraksi." Ucapan ibu mengagetkanku. Aku tak pernah tahu sakit seperti ini yang disebut kontraksi.


"Kamu hamil belum sembilan bulan kan?" tanya ibu.


Aku mengangguk. "Baru tujuh bulan setengah."


"Jeda sakitnya semakin lama semakin cepat atau tidak?" tanya ibu.


"Hmmmh eh." Aku mengangguk.

__ADS_1


"Berarti kamu segera mau melahirkan." Ibu tampak panik dan aku benar-benar tak mengira akan melahirkan secepat ini.


__ADS_2