Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Menantu Hadiah


__ADS_3

"Sayang. Mengapa kamu ada di sini?" tanya Mas Darwin dengan cukup heran.


Alya tersenyum manis lalu berkata, "Aku ingin menemanimu, Sayang."


Ia segera maju melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Mas Darwin tak bisa menolak kedatangannya dan akhirnya ikut masuk ke dalam rumah.


Alya berdiri di ambang pintu kamar dengan balutan dress biru tua yang begitu anggun. Ia melihatku berada di kamar, duduk di pinggir tempat tidur. Ia memperhatikanku dari ujung kaki ke ujung rambut sambil tersenyum tipis. Entah apa isi pikirannya.


Lalu, ia berkata, "Kamu tampak benar-benar pucat."


Ia mendekatiku lalu kembali berkata, "Apa kamu sakit?" Dan, aku hanya diam, tak menggubris pertanyaannya.


"Apa kamu belum makan?" tanyanya lagi.


"Dia memang belum makan malam ini," jawab Mas Darwin.


Alya mengangkat pergelangan tangannya sambil berkata, "Sekarang jam tujuh malam, Sayang. Aku juga belum makan malam. Bagaimana kalo kamu beli makanan di luar untuk kita makan?"


"Tapi, nanti siapa yang akan menjaga Rania?" ucap Mas Darwin.


"Ada aku di sini, Sayang. Aku yang akan menjaganya," ucap Alya segera.


"Apa kamu tidak apa-apa berdua dengan Rania?" tanya Mas Darwin.


Alya tersenyum dan mengangguk. "Pergilah!" ucapnya.


"Baiklah, Sayang. Aku pergi dulu," ucap Mas Darwin dengan sangat lembut.


Baru kali ini aku melihat perlakuan Mas Darwin pada istri yang dicintainya itu. Interaksi mereka berdua benar-benar menunjukkan keharmonisan rumah tangga yang hakiki. Mereka benar-benar pasangan serasi. 'Akulah orang ketiga dalam rumah tangga ini,' sesalku dalam hati.


Aku kembali menangis dan Alya bertanya, "Mengapa kamu menangis?"


Aku menoleh padanya, menatapnya. 'Apa ia tahu apa yang aku alami dan mengerti perasaanku?' batinku. 'Ia pasti sangat membenciku.'


"Hapus air matamu, Rania! Jangan cengeng! Penderitaanku jauh lebih berat darimu." ucap Alya.


"Mengapa?" tanyaku. "Mengapa kamu membiarkan Mas Darwin menikahiku?"


"Hufffhhhh...." Alya menghembuskan nafasnya. "Istri mana yang mau merelakan suaminya mendua jika tidak karena terpaksa," ucap Alya.


"Aku terpaksa. Keadaan membuatku tidak bisa menolak takdir ini," ucapnya. "Ibu Mas Darwin mendadak sakit parah di rumah sakit. Mas Darwin mengira hidup ibunya takkan lama lagi. Saat itu ibunya memohon agar Mas Darwin segera menikah, menikah dengan wanita mana saja boleh... selain diriku."

__ADS_1


Aku terdiam mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari bibir Alya.


"Mas Darwin mengira itu permintaan terakhir ibunya. Dia mengiyakan dan berjanji akan segera menikah setelah ibunya keluar dari rumah sakit. Ibunya senang, kondisinya membaik dan akhirnya ia sehat. Ia pulang ke rumah dan terus menagih janjinya berulang-ulang hingga akhirnya kamu menikah dengan Mas Darwin," ucap Alya. Suaranya terdengar berat.


"Mas Darwin menikahimu hanya untuk menyenangkan hati ibunya," tegas Alya. "Kamu ... hanyalah menantu yang dihadiahkan Mas Darwin untuk ibunya." Ucapan Alya sangat menyakitkan hatiku.


"Akulah cinta sejati Mas Darwin yang sesungguhnya, bukan kamu." Alya berkata dengan begitu bangga. "Kini kamu tahu dimana posisimu sebenarnya. Menyakitkan bukan? Kamu tidak ada di dalam hati suamimu." Alya tersenyum dengan sinis.


"Aku ingin bercerai dari Mas Darwin," ucapku.


Alya agak sedikit tercengang lalu berkata, "Ouhh!"


"Aku ingin pergi dari sini."


"Tidak semudah itu," ucapnya dan aku tercengang.


"Mas Darwin akan mengejarmu kemanapun kamu pergi," ucapnya lagi. "Aku tahu betul sifat suamiku itu."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau menjadi istrinya lagi," ucapku.


Alya diam sambil memandangku. Lalu, ia membuka suara. "Kamu mau Mas Darwin berhenti mengejarmu dan tidak menemuimu lagi selamanya?"


"Gugurkan anak di kandunganmu!"


Seperti mendengar petir aku terkejut bukan main mendengar perkataan yang tercetus dari bibir Alya.


"Kandunganmu belum sampai empat bulan. Gugurkan saja! Jika belum sampai empat bulan, bayi di dalam kandungan itu belum punya roh, belum punya nyawa dan jiwa. Ia baru hanya segumpal darah. Kamu bisa menggugurkannya."


"Plakk!" Tamparanku segera mendarat di pipi mulusnya.


Tak kusangka ia benar-benar tega menyuruhku menghabisi anakku sendiri. Tak kusangka ia sekejam itu. Kupikir dia wanita dengan hati yang sangat lembut. Tega sekali ia ingin menghilangkan janin yang tidak berdosa ini.


Emosiku seketika menggelegak. Aku ibarat air mendidih mendengar perkataannya. Aku menamparnya dengan keras hingga wajahny terpaling ke samping.


Ia marah dan berkata, "Beraninya kau!"


"Plakkkk!" Ia balik menamparku dengan benar-benar keras hingga aku terjatuh di kasur dan bibirku berdarah.


"Alya!!!" Suara yang begitu keras mengagetkanku dan Alya. Kami berdua terbelalak melihat Mas Darwin sudah muncul di ambang pintu kamar.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mas Darwin dengan suara membentak. "Tega sekali kamu memukulnya."

__ADS_1


Alya terdiam dan masih menunjukkan ekspresi syok. "Aku benar-benar tak mengira kamu memperlakukannya seperti ini." Mas Darwin menghardik Alya dengan begitu keras. Matanya tajam dan wajahnya penuh amarah.


Alya seketika menitikkan air matanya. "Kamu membela wanita ini, Sayang," ucapnya. "Untuk pertama kalinya kamu bersikap kasar seperti ini padaku ... dan itu karena wanita pelakor seperti ini." Alya berkata dengan deraian air mata.


"Aku akan pergi," ucapnya. Ia lalu segera mengambil tas tentengnya di meja. Lalu, saat melintasi Mas Darwin ia berhenti sejenak. Ia berkata, "Asalkan kamu tahu... Rania yang lebih dulu menamparku. Aku hanya melakukan perlawanan untuk membela diriku."


Mata Mas Darwin terbelalak dan Alya segera pergi meninggalkan rumah. Kini mata Mas Darwin tertuju padaku.


"Apakah benar kamu menampar Alya?" tanya Mas Darwin padaku.


"Ya," jawabku dengan tegas. "Aku bukan hanya ingin menamparnya. Aku ingin mencabik-cabik dan merobek wajahnya," ucapku tanpa ragu sedikitpun.


"Rania!" Bentakan Mas Darwin menghentikan ucapanku. "Apa kamu sadar dengan ucapanmu? Kamu sadar?"


"Ya, aku sangat sadar, Mas."


"Kamu benar-benar keterlaluan," ucap Mas Darwin. "Alya sudah terlalu banyak mengalah untukmu."


"Aku tak pernah memintanya," ucapku segera.


"Tak bisakah kamu bersikap baik padanya, lebih menghargainya? Kalian berdua sama-sama istriku," ucap Mas Darwin.


"Aku tidak bisa, Mas. Kamu harus memilih," ucapku. "Kamu ingin cintamu, pilih Alya dan lepaskan aku! Jika kamu menginginkan anakmu, pilih aku dan tinggalkan Alya!" Ucapanku mulai terdengar egois.


"Rania!" bentak Mas Darwin sekali lagi.


Aku diam dan menatapnya. Mataku tak sedetikpun takut dengan semua perlakuannya.


"Beraninya kau memintaku memilih. Bahkan, Alya tak pernah memintaku untuk memilih kalian berdua," ucap Mas Darwin.


"Itu karena dia tahu dan sangat yakin Mas Darwin akan selalu hanya mencintainya. Sedangkan, aku... apa yang bisa aku harapkan dari pernikahan ini?" ucapku. "Suamiku tak mencintaiku dan setelah anak ini lahir, aku akan dibuang jauh dari anakku. Aku tak bisa. Ini semua tak adil untukku." Aku begitu emosi mengatakannya pada Mas Darwin.


"Mas Darwin harus melepaskanku atau tinggalkan Alya." Lagi-lagi aku memberikan pilihan.


"Hmmh, meninggalkan Alya," gumam Mas Darwin. Ia menyeringai dengan sinis padaku.


Ia mendekatkan wajahnya padaku. "Kau harus tahu... kau hanya wanita yang kunikahi untuk membahagiakan ibuku. Tak sepantasnya kau berharap lebih," ucap Mas Darwin dengan nada menekan dan kalimat-kalimat itu terdengar begitu menyakitkan hatiku.


Saat mendengar ucapan yang sama dari bibir Alya hatiku terasa sakit, tapi tak sesakit ini. Ketika kalimat itu keluar langsung dari bibir Mas Darwin, air mataku berjatuhan tanpa bisa kutahan.


Mas Darwin melihat aku menangis. Ia tersenyum sinis lalu pergi meninggalkanku. Ia tak peduli pada perasaanku yang hancur ketika mendengar ucapannya. 'Tak seberharga itukah aku dalam hidup Mas Darwin,' bisikku dalam hati. Aku terus menangis dan berusaha menahan semua sakit hati ini.

__ADS_1


__ADS_2