
Ibu panik dan menelepon Yuk Selvi. Sehingga, saat ini aku sudah berada dalam mobil Yuk Selvi bersama ibu. Yuk Selvi ingin mengantarku ke bidan terdekat.
"Kita ke Bidan Tri saja ya, Bu," ucap Yuk Selvi saat mulai mengemudikan mobilnya.
"Eh, jangan!" ucap ibu segera. "Rania ini mau melahirkan prematur, bawa ke rumah sakit! Nanti ada apa-apa dengan bayinya, peralatan di bidan kurang lengkap. Langsung saja ke rumah sakit!"
Sehingga, akhirnya Yuk Selvi dan ibu mengantarku ke rumah sakit di Kayuagung. Bidan dan dokter yang berjaga di sana segera mengecek kondisiku dan pembukaan jalan melahirkanku.
Sementara itu, Yuk Selvi yang menunggu di luar berinisiatif untuk menelepon Mas Darwin. Ia mengabarkan pada Mas Darwin bahwa aku berada di rumah sakit dan segera akan melahirkan.
Mas Darwin kaget ketika menerima telepon itu. Ia tercengang dan masih saja tercengang ketika panggilan telepon telah diakhiri.
"Ada apa, Sayang?" tanya Alya heran. "Telepon dari siapa?"
Mas Darwin menoleh pada Alya dan segera berkata, "Aku harus ke Kayuagung sekarang juga, Sayang."
"Loh, ada apa? Apa ada masalah?"
"Rania mendadak akan melahirkan. Aku pergi dulu," ucap Mas Darwin sambil mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah.
Sedangkan, Alya belum sempat berkata apa pun. Mas Darwin sudah pergi begitu saja. Mas Darwin biasanya akan mencium dahinya ketika pamit pergi. Tapi, tidak kali ini.
Ada kekecewaan yang tiba-tiba muncul dalam hati Alya karena sikap Mas Darwin. Mas Darwin tampak begitu cemas dan segera ingin menemuiku, madunya. Itu membuat Alya sakit hati. Namun, ia tak bisa berbuat apapun, ia hanya terdiam dengan hati yang membara.
Sementara itu, Mas Darwin memacu mobilnya dengan kencang, berusaha secepat mungkin untuk bisa tiba di Kayuagung. Ia ingin menemaniku melahirkan. Tak ada Alya dalam pikirannya saat ini. Yang ia pikirkan hanya keselamatan aku dan anakku.
'Mengapa Rania bisa melahirkan secepat ini,' pikirnya sambil terus memacu mobilnya. Dan, akhirnya ia sampai di rumah sakit.
Aku meringis berkali-kali menahan sakit. Saat denyutan itu datang aku jadi benar-benar lemas tak berdaya. Tulangku serasa remuk. Aku tak mengira kontraksi begitu menyakitkan seperti ini.
Sudah berjam-jam aku menahannya. Tidak ada satu pun orang yang bisa menghindarkanku dari rasa sakit ini. Ibu dan Yuk Selvi hanya bisa menemani dan memberikan semangat sejak tadi. Aku nyaris pingsan karena rasa sakit ini.
__ADS_1
Di luar sana seseorang dengan langkah begitu tergesa berjalan setengah berlari menuju ruanganku. Orang itu adalah Mas Darwin. Ia sudah sampai di rumah sakit dan kini membuka pintu ruanganku.
Aku, ibu, dan Yuk Selvi spontan menoleh. Terlihat di ambang pintu yang terbuka Mas Darwin berdiri dengan nafas terengah-engah. Ibu segera membuang muka.
'Mas Darwin,' pikirku. 'Mengapa dia ke sini? Bukankah dia sudah memutuskan untuk lebih memilih Alya. Kami sebentar lagi akan bercerai.'
Lalu, Mas Darwin berjalan masuk ke dalam ruangan. Dengan cepat ibu segera berdiri dan keluar dari ruangan. Kemarahannya pada Mas Darwin masih menggebu. Ia marah pada Mas Darwin karena lebih memilih Alya daripada ibunya sendiri. Yuk Selvi pun segera menyusul ibu.
Sehingga, kini hanya ada aku dan Mas Darwin di ruangan itu. Ia menatapku yang sudah tampak pucat dan lelah. Lalu, tiba-tiba denyutan itu datang lagi. Aku spontan menggenggam erat bantal yang ada di dekatku. Mas Darwin segera mengambil tanganku dan menggenggamnya. Seketika aku menatapnya tanpa bisa berkata.
"Apa yang kamu rasakan, Rania?" tanyanya.
Aku hanya diam. Badanku sudah lemas, aku tak ingin banyak bicara dan berdebat dengan Mas Darwin.
"Kamu pasti bisa melalui ini," ucap Mas Darwin menyemangatiku.
Lalu, denyutan itu datang lagi dan semakin lama semakin cepat, hampir tanpa jeda. Aku meringis dan menggigit bibirku. Air mataku tak terasa menetes.
"Kamu mengapa, Rania?" tanya Mas Darwin.
Mas Darwin bergegas memanggil perawat. Ternyata tanpa diduga air ketubanku sudah pecah. Perawat bergegas membawaku ke ruang tindakan. Mas Darwin ikut menemaniku di sana. Aku tak bisa menolak kehadirannya karena terlalu sibuk dengan rasa sakitku.
Setelah melalui perjuangan yang sangat menyakitkan dan cukup lama di ruang tindakan, akhirnya anakku lahir. Suara tangisnya memenuhi seisi ruangan. Mas Darwin tampak begitu bahagia. Sementara itu, aku hanya bisa bernafas lega, tak dapat melakukan apapun. Aku masih terbaring lemah dan tak sempat menyentuh anakku. Perawat segera membawanya ke luar ruangan untuk mendapatkan perawatan khusus karena ia terlahir prematur.
Mas Darwin segera mengikuti perawat itu. Sedangkan, aku masih harus menjalani proses penjahitan luka robekan melahirkan. Aku meneteskan air mata, bukan karena merasa sakit saat dijahit. Namun, karena aku senang anakku terlahir dengan selamat, meskipun badannya kulihat tampak masih mungil sekali karena prematur.
Tapi, tiba-tiba saja muncul kecemasan dalam hatiku. Aku teringat dengan ekspresi kebahagiaan Mas Darwin saat melihat anaknya lahir. Aku takut Mas Darwin berubah pikiran dan akan mengambil anak itu dariku.
Sementara itu, saat ini Mas Darwin sedang memandang anak kami dari kaca ruangan bayi. Ia begitu terkesan dengan bayi mungil itu dan ingin memeluknya. Namun, karena harus mendapatkan perawatan khusus, Mas Darwin hanya bisa memandangnya dari balik kaca.
'Dania,' gumamnya dalam hati sambil tersenyum sendiri. 'Aku akan memberinya nama Dania... Darwin-Rania.'
__ADS_1
Lalu, tiba-tiba ibu dan Yuk Selvi datang dengan tergopoh-gopoh. Mereka baru saja pulang dari membeli makanan karena sejak tadi mereka belum makan.
"Darwin, Rania sudah melahirkan ya?" tanya Yuk Selvi.
Mas Darwin mengangguk dan tersenyum.
"Sehat?" tanya Yuk Selvi dan Mas Darwin mengangguk lagi. "Alhamdulillah," ucap Yuk Selvi secara spontan.
"Mana bayinya?" tanya ibu. Lalu, Mas Darwin menunjuk bayi yang paling mungil dari bayi lainnya.
Ibu tersenyum. "Itu cucu ibu," ucapnya. "Sayang sekali, dia akan besar tanpa ayah kandungnya. Rania pasti akan membawanya pergi jauh."
Mas Darwin segera menoleh pada ibu, namun ibu segera membuang muka dan berjalan meninggalkan Mas Darwin. Sedangkan, Yuk Selvi segera memanggil ibu, "Bu, Ibu... tunggu!"
Ibu tidak menoleh, tetap berjalan di koridor rumah sakit. Sehingga, Yuk Selvi terpaksa untuk segera menyusulnya. Sementara itu, Mas Darwin terdiam. Ucapan ibu begitu membekas di hatinya. Seketika itu juga rasa bahagia di hatinya memudar. Ia ingat pada perceraian denganku yang sudah membayang di hadapannya.
Mas Darwin menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa ia sadari. 'Aku tidak ingin anak ini pergi dariku,' ucapnya dalam hati.
Sementara itu, di Indralaya Alya tampak gusar. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini padaku. 'Bukankah kehamilan Rania belum sampai sembilan bulan?' pikirnya.
'Mengapa ia tiba-tiba ada di rumah sakit dan ingin melahirkan?' tanya Alya dalam hatinya. 'Apakah bayinya baik-baik saja? Atau, terjadi sesuatu pada bayinya?'
Alya memutuskan untuk mencari tahu. Ia mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Mas Darwin. Namun, betapa terkejutnya Alya melihat foto profil Mas Darwin yang muncul di ponselnya adalah foto seorang bayi. Mas Darwin sudah mengganti foto profilnya dengan foto bayi.
'Secepat itu,' pikir Alya.
"A... Apakah ini ... bayi Rania?" tanyanya dengan bibir bergetar. "Apa Rania sudah melahirkan?"
Alya lalu mengecek status Mas Darwin dan foto bayi yang sangat mungil muncul sebagai gambar statusnya. Di bawahnya tertulis 'Dania'. Status kedua pun adalah video bayi itu sedang menangis, tertulis di bawahnya 'Alhamdulillah, telah lahir anak kami.'
Seketika itu juga perasaan Alya hancur, begitu hancur. Air mata meleleh di pipinya. Mas Darwin sangat jarang membuat status. Kali ini ia melakukannya pasti karena ia terlalu bahagia dan ingin meluapkan kebahagiaannya. Alya sangat memahami Mas Darwin.
__ADS_1
"Wanita itu... benar-benar merebut hatinya dariku," gumam Alya penuh amarah.
Alya kembali melihat status itu dan merasa sangat sedih bercampur kesal. "Hahkkhh!" Ia menjerit histeris dan, "Prrakkkkkk!" Alya melempar ponselnya ke dinding kamar dengan begitu keras.