Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Toska Bertabur Bunga


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Aku berusaha menghibur diri dengan menyibukkan pikiranku untuk mempelajari cara merawat bayi. Aku bosan menangis. Aku tak ingin anak dalam kandunganku ini jadi pemurung karena aku selalu menangis selama hamil.


Jika aku bersedih, maka aku akan berkata dalam hatiku, 'Apa yang kamu tangisi Rania? Mas Darwin memang bukan milikmu, ikhlaskan saja!'


Dengan begitu hatiku akan merasa lebih tenang. Perasaan untuk memiliki Mas Darwin akan hilang, walaupun kadang tiba-tiba muncul kembali tak terkendali. Apalagi, saat Mas Darwin pulang ia selalu bersikap seperti layaknya suami idaman. Semua itu membuatku kadang egois dan ingin memilikinya selamanya. Tapi, aku harus tetap sadar diri dan membuang jauh perasaan itu.


Mengurangi interaksi dengan Mas Darwin... itu adalah cara terbaik agar tidak terbawa perasaan sebagai istrinya. Karena itu, jika Mas Darwin mengajakku pergi aku selalu menolak. Jika Mas Darwin mengajakku berbicara, aku diam saja.


Ibu pun lebih banyak diam saat ini pada Mas Darwin. Aku rasa Mas Darwin sampai saat ini masih belum tahu jika ibu sebenarnya sudah mengetahui rahasianya. Aku pun tak memberitahu Mas Darwin bahwa ibu sudah tahu jika dia menikahi Alya. Aku tak ingin ikut campur dan lebih memilih diam.


Kini usia kehamilanku sudah memasuki bulan kelima. Aku bisa merasakan sedikit gerakan di perutku dan itu membuatku sangat bahagia. Mas Darwin mengajakku periksa kandungan untuk mengetahui jenis kelamin anaknya Sabtu sore ini. Tapi, ia membatalkan janjinya.


'Aku belum bisa pulang Sabtu ini Rania, aku harus ke Palembang. Ada yang mau kamu titip?' Aku membaca pesan dari Mas Darwin.


'Tidak ada.' Aku mengetikkan pesan jawaban dengan singkat.


Bagiku tidak masalah lagi Mas Darwin pulang atau tidak. Aku sudah tidak mengharapkan kedatangannya lagi. Lebih baik seperti itu agar aku tidak merasakan sakit hati.


Sementara itu, Mas Darwin sedang berada dalam perjalanan menuju Palembang bersama Alya. Kini usia kandungan Alya sudah dua bulan. Ia sangat bersemangat mempersiapkan semua kebutuhan bayinya.


Ia mengajak Mas Darwin ke supermarket bahan bangunan di Kota Palembang. Mas Darwin bertanya, "Mengapa tidak beli bahan bangunan di Indralaya saja?"


"Di sini pilihan granit dan vinil lantainya banyak, Sayang. Aku sudah tidak sabar lagi mewujudkan kamar bayi sesuai impianku," ucapnya begitu antusias. Sejak kehamilannya dimulai Alya memang sudah sibuk merenovasi sebuah kamar di rumahnya untuk dijadikan kamar bayi mereka.

__ADS_1


Karena, belum tahu jenis kelamin bayinya. Ia memutuskan kamar bayinya bernuansa biru muda agar lebih netral jika ditambahkan aksesoris perempuan atau laki-laki. Ia sibuk memilih wallpaper biru muda dan berkali-kali menanyakan saran Mas Darwin.


Setelah itu, Alya mengajak Mas Darwin meluncur ke sebuah swalayan peralatan bayi yang terlengkap di Kota Palembang. "Aku ingin beli box bayi, Sayang," ucap Alya dan di sana dia tidak hanya membeli box bayi. Dia juga membeli tas bayi, kasur bayi, gendongan bayi, bantal bayi, car seat, stroller, ayunan bayi, bak mandi, karpet matras, dan lain-lain.


"... Ukuran kamarnya 4x6 meter. Aku ingin semua lantai ruangannya dilapisi matras supaya aman untuk bayi main. Jadi, butuh berapa matras kira-kira?" tanya Alya pada pelayan toko tersebut.


"Alya," panggil Mas Darwin sedikit gusar.


"Iya, ada apa, Sayang?"


"Kamu banyak sekali beli barang. Mobil kita tidak cukup untuk mengangkutnya," ucap Mas Darwin berusaha mengingatkan Alya.


"Kita kan bisa sewa mobil box, Sayang," ucap Alya tak peduli. "Aku beli peralatan bayinya sekaligus supaya kita tidak repot bolak-balik ke Palembang."


Alya juga membeli bantal tidur khusus untuk ibu hamil agar tubuhnya tidur dengan nyaman. Ia juga membeli sabuk hamil, dan masih banyak lagi.


Setelah cukup lama berbelanja, perhatian Alya tertuju pada tumpukan popok dan pakaian bayi. Ia mengambil salah satu pakaian dan berkata dengan girang, "Bajunya lucu-lucu sekali, Sayang. Seandainya aku sudah tahu jenis kelamin anak kita, aku pasti sudah membeli baju-baju ini."


Mendengar ucapan itu tiba-tiba saja Mas Darwin teringat pada Rania. Ia ingat pada janjinya untuk mengajak Rania kontrol kandungan. Ia sangat penasaran dengan jenis kelamin anaknya.


'Rania,' gumam Mas Darwin dalam hatinya. 'Aku bahkan tak memberi apa-apa saat kamu hamil, aku hanya memberimu penderitaan.'


Setelah puas berbelanja perlengkapan bayi, Alya mengajak Mas Darwin ke salah satu mall. "Ke mall?" tanya Mas Darwin. "Mau beli apa?"

__ADS_1


"Mau beli baju, Sayang. Beli sepatu juga," jawab Alya. "Sepatuku semuanya model stiletto, bahaya untuk orang hamil. Kalo pake sepatu ceper aku tidak pede. Aku biasa pakai sepatu tinggi soalnya. Aku mau cari sepatu dan sandal model wedges supaya lebih aman dan nyaman."


"Temani aku ya, Sayang," pinta Alya. Mas Darwin pun mengangguk dan Alya tersenyum.


Sampai di mall Alya tidak langsung mencari sepatu. Tapi, ia melihat-lihat pakaian terlebih dahulu hingga sudah satu jam berlalu.


"Sebenarnya kamu mau beli apa, Sayang?" tanya Mas Darwin dengan lembut.


"Aku cari baju yang bisa dipakai ketika hamil, tapi tidak mau yang lebar seperti daster," jawab Alya. "Dari tadi belum bertemu yang cocok. Aku mau penampilanku tetap stylish Sayang meskipun sedang hamil."


"Baju kamu yang lama kan stylish semua," ucap Mas Darwin.


Alya menatap Mas Darwin dengan ekspresi heran namun tersenyum. "Kamu tidak sadar ya sebentar lagi perutku ini akan membuncit? Mana muat lagi lah pakaian yang lama," ucapnya.


Mas Darwin terpaku mendengar ucapan Alya. Ia memang seorang laki-laki yang belum berpengalaman mengurus wanita hamil. Ia tidak terpikir sampai ke sana. Selama Rania hamil ia tak pernah sekalipun membelikan pakaian untuk Rania. 'Pasti pakaian Rania sekarang semuanya sudah sempit,' pikirnya. 'Rania tak pernah meminta apapun padaku. Aku kurang memberi perhatian padanya.'


Mas Darwin memandang sebuah dress panjang longgar berwarna toska yang terpajang di patung. Dress itu bermotifkan bunga-bunga kecil berwarna soft pastel. Sederhana, namun terlihat sangat anggun. 'Rania pasti cocok pakai dress ini,' pikir Mas Darwin.


Mas Darwin ingin membelinya. Ia sudah menyentuhnya, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. 'Alya pasti akan sedih jika aku membelikan baju untuk Rania,' pikir Mas Darwin. 'Aku harus menjaga perasaan Alya.' Mas Darwin pun akhirnya mundur menjauhi dress itu.


Di perjalanan pulang Alya sangat antusias membahas barang-barang yang dibelinya. "Huhh... setelah cari sana cari sini akhirnya bertemu juga dengan wedges yang bisa membuat aku jatuh cinta. Aku senang sekali, Sayang."


Alya menatap Mas Darwin yang fokus menyetir dan berkata, "Terima kasih ya Sayang sudah menemani aku seharian." Lalu, ia mengecup lembut pipi Mas Darwin.

__ADS_1


Mas Darwin hanya diam saja, tidak bergeming sedikitpun. Sambil terus menyetir pikirannya melayang pada Rania. 'Setelah menikah aku bahkan belum pernah sekalipun membelikan pakaian, sepatu, tas, ataupun barang lainnya untuk Rania. Apalagi memberi hadiah padanya, aku tidak pernah.'


__ADS_2