Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Kelapa Muda


__ADS_3

Setelah pertengkaran yang terjadi di Indralaya, ibu dirawat di rumah sakit selama seminggu. Sementara itu, sebentar lagi usia kandunganku memasuki enam bulan. Sempat terpikirkan olehku untuk pergi dari sini. Tapi, aku tak tahu harus kemana. Aku tak punya uang. Bagaimana dengan nasib anakku nanti jika aku terlantar di jalanan?


Jika aku tidak sedang mengandung, aku pasti sudah melarikan diri sejauh mungkin. Tapi, aku tidak sendirian. Ada anak di dalam tubuhku yang keselamatannya juga harus kupikirkan. Belum lagi Mas Darwin yang pasti akan memburuku kemanapun aku pergi. Akhirnya, aku memutuskan untuk bertahan.


Hari ini ibu pulang ke rumah. Yuk Selvi memapah ibu untuk berbaring di kamar. Tapi, ibu memilih untuk duduk di ruang keluarga. "Ibu ingin bicara dengan Darwin," ucap ibu.


"Eehh... tapi... Bu... sebaiknya Ibu istirahat dulu! Jangan memikirkan masalah Mas Darwin! Nanti ibu sakit lagi," bujuk Yuk Selvi.


"Ibu cuma mau bicara," ucap ibu dengan jengkel. Ia tak mau dicegah.


"Rania, panggil Darwin!" pinta ibu.


Tiba-tiba, Mas Darwin sudah sampai di ruang keluarga sambil memanggul tas dan barang-barang ibu dari rumah sakit.


"Letakkan saja di sini!" Ibu memerintahkan Mas Darwin meletakkan barang-barang yang dibawanya ke lantai.


"Ibu ingin bicara," ucap ibu lalu Mas Darwin pun duduk di hadapan ibu.


Aku tak tahu apa yang ingin ibu bicarakan, namun aku khawatir ibu akan jatuh sakit lagi. Lalu, ibu mulai membuka suara, "Kamu cinta dengan Rania?"


"Deg!" Jantungku berdegup. 'Mengapa ibu tiba-tiba menanyakan hal seperti itu pada Mas Darwin?' tanyaku dalam hati. Ucapan ibu sangat jauh dari perkiraanku.


Mas Darwin spontan menatap ibu, namun dia terdiam. Ibu kembali bertanya, "Kamu cinta tidak dengan istrimu Rania?"


"Mengapa Ibu menanyakan itu?" Mas Darwin balik bertanya.


"Kamu tidak bisa menjawab," ucap ibu.


"Mengapa kamu tidak bisa menceraikan, Alya? Apa alasanmu?"


"Aku mencintai Alya, Bu," ucap Mas Darwin dan "Deg!" Jantungku kembali berdegup mendengar ucapan Mas Darwin. Ucapannya terdengar menyakitkan, aku seharusnya tak mendengar ini.


"Lupakan cintamu dan jalani hidupmu bersama Rania! Kamu bisa bahagia bersama Rania," ucap ibu. "Dia wanita yang kamu pilih sendiri untuk jadi istrimu, bukan pilihan ibu. Tak seharusnya kamu sia-siakan."


"Aku tidak bermaksud menyia-nyiakan Rania, Bu. Aku juga tak bisa menceraikan Alya."


"Hehhh...." Ibu menyeringai sinis. "Berarti kamu lelaki serakah."


Mas Darwin menatap ibu yang kemudian berkata, "Ceraikan, Alya! Ibu tak pernah meminta apapun padamu seumur hidup ibu. Hari ini ibu hanya meminta satu hal... kamu ceraikan Alya. Lupakan dia!"


Mas Darwin menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tolong mengertilah, Bu!"

__ADS_1


Ibu tetap berkata, "Ceraikan Alya!"


"Bu, dosa itu tidak diwariskan kepada anak," ucap Mas Darwin. "Alya tidak bersalah, Bu. Dia juga tidak mau ayahnya berbuat seperti itu. Jangan melimpahkan kesalahan ayahnya padanya, Bu!"


Mata ibu menajam mendengar perkataan Darwin. "Suka tidak suka, mau tidak mau... tak dapat dipungkiri di dalam tubuhnya mengalir darah pembunuh. Keturunan pembunuh. Watak seorang pembunuh ada dalam dirinya. Sampai kapanpun ibu takkan bisa menerimanya sebagai menantu."


"Bu...." Tiba-tiba Mas Darwin bersimpuh di kaki ibu. "Kumohon restui kami!"


Aku tak sanggup lagi melihat Mas Darwin memohon pada ibu untuk mempertahankan hubungannya dengan Alya. Terlalu menyakitkan bagiku menyadari begitu kuatnya kesetiaan Mas Darwin pada Alya. Aku segera pergi masuk ke dalam kamar, tak mau menyaksikannya lebih lama lagi.


Dan, dari kamar kudengar ibu tetap berkata, "Ceraikan, Alya!"


"Mengertilah, Bu...."


"Kamu yang harusnya mengerti bahwa ibu tak akan pernah menerima Alya. Jangan paksa ibu menerimanya!" Ibu berkata dengan lantang.


"Darwin, sudahlah!" ucap Yuk Selvi segera untuk menghentikan Mas Darwin bicara. "Ibu masih harus istirahat."


"Ibu beri kamu waktu satu bulan. Ceraikan Alya! Jika tidak, berhenti memanggilku ibu dan tak usah kembali lagi ke rumah ini!


Mas Darwin termangu mendengar ucapan ibu. Lalu, ibu berdiri dan berjalan menuju ke kamar dibantu Yuk Selvi. Ibu meninggalkan Mas Darwin yang masih duduk berlutut di lantai sendirian.


Sementara itu. di dalam kamar aku merasa benar-benar tak berarti bagi Mas Darwin. Cinta Mas Darwin pada Alya begitu kokoh. Aku hanya orang ketiga yang tak diharapkan. 'Secepatnya aku harus pergi dari sini,' pikirku.


Mas Darwin masuk ke kamar dan duduk di atas tempat tidur dengan keputusasaan. Aku tak berani memandangnya karena ia akan melihat wajah sembabku. Aku bergegas menuju pintu untuk keluar dari kamar.


"Rania!" panggilnya sebelum kulangkahkan kakiku keluar.


"Aku punya hutang janji padamu. Aku berjanji mengajakmu periksa kandungan. Sore ini kita pergi ke tempat praktek dokternya," ucap Mas Darwin.


Aku mengangguk dan menjawab, "Iya." Lalu, tanpa memandangnya aku kembali melanjutkan langkahku keluar kamar.


Sorenya aku bersiap untuk periksa kandungan. Aku memakai pakaian dan jilbab yang dulu Mas Darwin berikan padaku. 'Bahan pakaian ini begitu premium,' pikirku. Aku biasanya hanya memiliki baju yang biasa-biasa saja.


Setelah semuanya siap, aku berjalan keluar dari rumah. Mas Darwin menunggu di mobil. Dari balik kemudinya ia memperhatikanku, namun aku tak menyadarinya.


"Rania," gumam Mas Darwin seakan terpana. Ia tak mengira aku akan begitu anggun memakai pakaian dan jilbab itu.


Aku pun masuk ke mobil dan melihat sebuah senyuman tersungging di wajahnya. "Mengapa?" tanyaku heran. "Ada yang aneh?"


"Kamu lebih cantik hari ini."

__ADS_1


"Hmmhh...." Aku mendengus. "Bajunya yang cantik," ucapku mematahkan pujiannya. Aku tak merasa senang sedikitpun dia memujiku seperti itu.


"Waktu itu aku juga ingin membelikan sepatu dan sandal untukmu. Tapi, aku tidak tahu nomor kakimu dan model sepatu seperti apa yang kamu sukai. Nanti pulang dari periksa kandungan, kita mampir dulu beli sepatu."


"Tidak perlu," ucapku segera.


"Mengapa?" tanya Mas Darwin. "Aku ingin membelikan sepatu dan sandal untukmu."


"Tidak perlu berusaha berbuat baik seperti ini kepadaku, Mas. Aku tidak perlu simpatimu. Ceraikan saja aku! Itu lebih baik."


"Rania...." ucap Mas Darwin.


Aku segera berkata, "Kita harus segera berangkat sebelum praktek dokternya tutup."


Mas Darwin pun akhirnya menjalankan mobilnya dan di sepanjang perjalanan aku hanya diam membisu. Kami tak saling bicara.


Saat ini kami sudah berada di ruang periksa kandungan. Dokter menggerakkan alat USG di perutku dan berkata, "Jenis kelaminnya perempuan ya, Bu."


Mas Darwin segera menatapku, namun aku diam saja.


"Bayinya sehat. Hanya air ketubannya sedikit. Ibu harus banyak-banyak minum, minum air kelapa muda juga bagus," ucap dokter dan aku hanya mengangguk.


Setelah selesai periksa selama di mobil Mas Darwin berusaha untuk mengajakku bicara. Namun, aku tak meladeninya.


"Dania. Bagaimana jika kita beri nama anak kita Dania? Menurut kamu bagus tidak? Dania... Darwin dan Rania," ucap Mas Darwin begitu antusias. Mas Darwin tampaknya terlalu bersemangat setelah mengetahui jenis kelamin anaknya perempuan.


Namun, aku hanya diam. Kemudian, Mas Darwin kembali berkata, "Kita harus segera mencarikan nama yang cantik untuk anak kita, Rania."


"Aku bisa melakukannya sendiri nanti," ucapku kemudian. "Aku bisa memberi nama anakku sendiri."


Mas Darwin segera menoleh padaku sambil terus menyetir. Lalu, aku memalingkan wajahku menghadap kaca jendela. Aku tak ingin dia menatapku.


Mas Darwin lalu mengarahkan mobilnya ke sebuah pondok dogan di pinggir jalan. Pondok dogan itu berada di area persawahan. Dari atas pondok kami bisa menikmati pemandangan sawah dan karena ini sore hari, kami juga akan bisa menikmati suasana senja. Melihat matahari perlahan tenggelam dan warna langit berangsur-angsur berubah.


"Ayo turun, Rania! Kita minum dogan dulu," Ajak Mas Darwin.


"Aku tidak turun, Mas. Punyaku dibungkus saja," ucapku.


"Rania, mengapa kamu selalu menolak ajakanku?" Mas Darwin tampak agak kesal.


"Untuk apa Mas kita berlama-lama di sini? Untuk apa kita mampir ke pondok ini? Kita tidak sedang pacaran. Kita bukan sepasang kekasih. Kita tidak perlu berlama-lama menghabiskan waktu berduaan di sini," ucapku. "Kamu sudah tahu... pada akhirnya kita akan bercerai. Aku tak mau memiliki banyak kenangan denganmu."

__ADS_1


"Rania...." Mas Darwin menatapku dan entah bagaimana aku harus mengartikan tatapannya itu. Tatapan penuh pengharapan, membuat orang yang melihatnya akan merasa iba. Tapi, tidak denganku. Aku malah segera berkata, "Aku ingin kamu mempercepat perceraian kita."


__ADS_2