
'Gugurkan anak di kandunganmu! ... Kandunganmu belum sampai empat bulan. Gugurkan saja!' Kalimat-kalimat itu terngiang di telinga Alya.
Itu kalimat yang diucapkannya sendiri dahulu padaku. Saat itu ia mengeluarkan kalimat-kalimat itu dengan sangat sadar dari bibirnya.
'Mungkinkah ini karma dari ucapanku?' pikir Alya. Ia masih belum bisa ikhlas sepenuhnya menerima kenyataan bahwa anaknya kini sudah tidak ada lagi. Ia bahkan kadang berharap semua yang dialaminya ini hanya mimpi. Namun, tak begitu kenyataannya. Ia pun akhirnya lagi-lagi menangis setelah memikirkan semua itu.
Kini ia dalam masa pemulihan setelah operasi kuret. Mas Darwin terus memberikan Alya semangat dan berusaha membesarkan hatinya. Namun, dalam pikiran Mas Darwin tetap terlintas bayanganku.
Di ruang kantornya ia berpikir, 'Mengapa aku terus memikirkan Rania? Harusnya aku fokus memperhatikan Alya, ia butuh dukunganku di masa sulitnya saat ini.'
Namun, pikirannya kepadaku lebih kuat dibanding dengan semua hal lainnya yang ada dalam pikirannya. 'Mungkinkah aku sudah benar-benar cinta pada Rania hingga mengesampingkan perasaanku pada Alya?'
'Aku tidak boleh seperti ini,' batin Mas Darwin. Namun, pikirannya tentangku tetap saja membuatnya galau.
'Rania ... sedang apa dia sekarang?' pikir Mas Darwin.
Lalu, Mas Darwin berusaha menghubungi ponselku. Aku sedang sibuk membuat peyek pesanan orang dan tak mendengar ponselku berdering di kamar. Mas Darwin mencoba menghubungiku lagi hingga berkali-kali. Tapi, tetap tak terjawab.
Mas Darwin pun melihat statusku hari ini. Aku memajang foto peyek buatanku di status. Mas Darwin menggeser statusku berikutnya. Masih foto peyek disertai tulisan 'terima pesanan' dan juga ada nomor teleponku.
"Rania...." gumam Mas Darwin. 'Dia melakukan ini untuk bisa bercerai dariku,' pikir Mas Darwin.
"Haakkhhhhh...." Mas Darwin menarik nafasnya panjang.
Ia kembali tampak tertekan ketika mengingat desakanku untuk bercerai dan desakan ibu untuk menceraikan Alya. 'Aku tak mungkin menceraikan Alya,' pikir Mas Darwin. 'Apalagi, saat ini ia baru saja kehilangan anak kami.'
'Tapi. di sisi lain juga sangat berat bagiku melepaskan Rania. Apalagi, dia sedang mengandung anakku.'
Mas Darwin tak tahu harus membicarakan perasaan kacaunya ini pada siapa. Dia tak punya tempat untuk bercerita. Lalu, tiba-tiba sebuah telepon masuk dari ayahnya.
"Apa kabarmu, Darwin?" tanya ayah.
"Baik, Ayah," jawab Mas Darwin.
"Bagaimana kabar rumah tanggamu dengan, Rania? Apa baik-baik saja?" tanya ayah lagi. "Tempo hari dia meneleponku dan menanyakan tentang Alya."
Mas Darwin bingung ingin menjawab apa. 'Haruskah aku menceritakan semua ini pada ayah?' pikir Mas Darwin.
"Mengapa kamu diam saja?" Tanya ayah. "Ini pertanda ada masalah dengan rumah tanggamu."
"Aku tidak apa-apa, Ayah. Hanya perasaanku akhir-akhir ini cukup kacau."
__ADS_1
"Ceritakan pada ayah! Mungkin ayah bisa membantumu."
Mas Darwin terdiam seolah tak ingin menceritakannya pada ayah. Namun, pikirannya benar-benar terbebani. Dia butuh seseorang untuk berbagi.
"Rania sudah tahu tentang Alya, apa ibumu juga sudah tahu?" Ayah memancing Mas Darwin untuk bicara.
"Sudah, Yah," jawab Mas Darwin.
"Oohh... jadi pasti itu masalahmu," tebak ayah. "Ibumu pasti tak akan pasrah dan diam saja kan?"
"Iya, Ayah," jawab Mas Darwin pelan. "Ibu mendesakku untuk menceraikan Alya. Sedangkan, Rania mendesakku untuk menceraikannya."
"Lalu?" tanya ayah.
"Aku tak bisa meninggalkan Alya begitu saja. Dia sudah banyak berkorban. Bahkan, ia rela hanya menjadi istri siri sejak dulu. Dia sangat mencintaiku meski aku menikah lagi dan beberapa hari lalu dia baru saja kehilangan anak kami, janinnya tak berkembang."
"Jika begitu, kamu akan menceraikan Rania?" tanya ayah lagi.
Mas Darwin terdiam sejenak lalu ia berkata, "Aku juga tak bisa, Ayah. Sangat berat bagiku untuk melepaskan Rania."
"Mengapa?"
"Hmmmh..." suara ayah terdengar berat. "Darwin, sepertinya kesetiaanmu dalam pernikahan sedang diuji. Dan, kamu tahu... sebenarnya kamu sudah gagal dalam ujian itu."
"Mengapa Ayah berkata seperti itu?" tanya Mas Darwin tak mengerti.
"Sadar atau tidak, hatimu sebenarnya sudah berpaling dari Alya," jawab ayah. "Kamu mempertahankan Alya ... itu bukan karena keinginan hatimu, namun keadaanlah yang membuatmu terpaksa melakukannya. Keadaan yang menuntutmu untuk setia padanya. Karena dia sudah banyak berkorban seperti katamu tadi. Yang berbicara adalah logikamu, bukan hatimu."
"Ada begitu banyak alasan bagimu untuk mempertahankan Alya. Mengapa kamu masih bingung dan ingin mempertahankan Rania?"
"Ketika kamu ditanya mengapa kamu tidak bisa melepaskan Rania, kamu tidak tahu alasannya mengapa. Logikamu memintamu melepaskannya, namun hatimulah yang menolak. Kamu tak bisa membohongi hatimu, kamu menginginkan Rania di sisimu."
"Aku tak bisa meninggalkan Alya begitu saja, Ayah," ucap Mas Darwin segera.
"Kau memilih logikamu. Jika begitu, ceraikan Rania!" ucap ayah.
"Tapi, Ayah...."
"Mengapa?" tanya ayah. "Hatimu menolak?"
"Kamu sudah gagal mempertahankan kesetiaanmu, Darwin. Hatimu sudah jatuh pada Rania."
__ADS_1
Ayah pun mengakhiri teleponnya. Mas Darwin termangu lalu ia mengusap wajahnya dengan galau.
'... Semakin lama kamu menahanku maka kamu hanya akan semakin menyakitiku, Mas.' Kalimat itu terngiang berkali-kali di telinga Mas Darwin.
Mas Darwin berdiri, menatap ke luar jendela, berusaha menemukan jawaban dari kegalauannya. Namun, ia tak dapat menemukan apapun di sana. Hanya pergolakan dalam batinnya yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.
****
Akhir pekan telah tiba. Mas Darwin mengetuk pintu rumahnya di Kayuagung. "Assalamualaikum!" ucapnya dari luar.
"Ya, sebentar...." Ibu menjawab sambil berjalan ke arah pintu.
"Krekk!" Pintu dibuka dan, "Darwin." Ibu bergumam spontan.
Mas Darwin ingin mencium tangan ibu, hendak bersalaman. Namun, ibu segera menahan tangannya sambil berkata, "Kamu pulang juga akhirnya. Sudah menceraikan Alya?"
Mas Darwin terdiam. Bukan pertanyaan itu yang ia harapkan untuk menyambut kedatangannya. Namun, ibu masih berdiri di depan pintu dengan tatapannya yang tajam, membuat Mas Darwin harus menjawab.
Aku mengintip ke luar dari jendela kamarku. Kulihat Mas Darwin menggeleng dan perlahan berkata, "Belum, Bu...."
Lalu, secepat kilat ibu segera berkata, "Jika begitu, pergilah dari sini! Tak perlu kamu injakkan lagi kakimu di sini! Kamu lebih memilih Alya daripada ibu yang sudah melahirkanmu ini. Tak usah panggil aku ibu lagi! Tinggalkan rumah ini!"
"Tapi, Bu...."
Belum sempat Mas Darwin mengutarakan perkataannya, ibu segera menghempas pintu dan menutupnya. Mas Darwin terdiam dan menyadari sifat keras ibunya takkan mudah untuk dibujuk ataupun dilawan. Oleh karena itu, tak lama kemudian ia berjalan meninggalkan teras rumah. Kulihat ia kembali ke mobilnya.
Mas Darwin masuk ke mobilnya. Cukup lama ia berada di dalam mobil itu, namun tak kunjung kudengar ia menyalakan suara mesin mobilnya. Entah apa yang dilakukannya. Aku pun akhirnya berhenti melihatnya dari jendela.
Tak lama setelah itu, ponselku berbunyi.
"Rania, pergilah ke depan pintu!" ucapnya.
Aku bergegas kembali mengintipnya dari jendela. Kulihat Mas Darwin berdiri di depan pintu. Lalu, perlahan ia berjalan kembali ke mobilnya. Ternyata tadi ia turun lagi dari mobilnya lalu meneleponku.
"Untuk apa Mas?" tanyaku.
"Lakukan saja!" ucapnya. "Aku tak bisa berlama-lama di sini. Ibu akan semakin bertambah emosi jika aku tidak segera pergi."
Lalu, kudengar suara dengungan mobilnya. Mas Darwin pun mengakhiri panggilannya dan pergi meninggalkan rumah.
Aku berjalan ke luar kamar dan membuka pintu rumah. Kulihat di atas kursi teras terdapat kantong. Aku mengangkatnya dan melihat isi di dalamnya yang ternyata adalah air dogan dan... dompetku.
__ADS_1