Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?

Berbagi Cinta: Suamiku Milik Kamu?
Bentuk Hati


__ADS_3

Di akhir pekan Mas Darwin pulang ke rumah. Ia pulang kemalaman hari ini karena jalanan macet. Ia membawakanku kelapa muda, namun aku menepisnya.


"Kamu masih marah?" tanya Mas Darwin dan aku hanya diam.


"Jangan egois, Rania! Pikirkan kebahagiaan dan keselamatan anak kita ini! Aku tak akan mempercepat perceraian kita," ucap Mas Darwin.


"Kamu yang egois, Mas," tandasku. "Menahanku di sini hanya untuk memperlihatkan bahwa kamu laki-laki bertanggung jawab, tidak menelantarkan anakmu?" tanyaku.


"Sementara itu, aku harus menyaksikan drama percintaanmu dengan Alya. Kamu pikir aku tidak waras, Mas? Aku punya perasaan dan bisa sakit hati. Mengetahui suami mendua saja itu sudah sangat menyakitkan bagi seorang istri. Apalagi, harus menjalaninya seperti ini."


Mas Darwin terdiam. Ia menatapku. Sementara itu, aku juga menatapnya dengan tajam.


"Lupakan aku dan anakmu! Pergilah bersama Alya," ucapku kemudian.


Mas Darwin tercenung. Ia lalu masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Namun, saat menatap wajahnya di cermin tiba-tiba pandangannya tertuju pada selembar kertas di atas meja rias.


Beberapa hari ini aku sudah mempelajari cara membuat surat gugatan cerai melalui internet. Aku menuliskan poin-poin yang aku anggap penting pada kertas itu. 'Rania tidak main-main. Ia benar-benar ingin menggugat cerai,' pikir Mas Darwin.


Salah satu persyaratan untuk membuat surat gugatan cerai yang aku tuliskan di sana adalah Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Tiba-tiba Mas Darwin teringat pada dompetku yang diambilnya.


'Aku tidak akan menyerahkan KTPnya padanya,' pikir Mas Darwin.


Lalu, aku masuk ke kamar dan melihatnya memegang kertas itu. Ia menoleh padaku dan bertanya, "Mengapa Rania?"


"Mengapa kamu ingin segera bercerai denganku?"


Aku menatap Mas Darwin dengan heran. Lalu, aku berkata, "Sudah sangat jelas, Mas. Kamu memilih Alya sebagai istrimu. Kamu masih mau tetap mempertahankan aku? Untuk apa, Mas? Kita akhiri saja pernikahan ini."


"Kamu tidak pernah mencintaiku. Aku berhak mendapatkan kebahagiaanku," lanjutku.


Mas Darwin mendekatiku dan tiba-tiba berkata, "Bagaimana jika ternyata aku mencintaimu, Rania?"


"Itu bukan cinta, Mas. Itu hanya keegoisan agar kamu tidak merasa bersalah karena harus bertanggung jawab sebagai ayah anak ini," tudingku.

__ADS_1


Mas Darwin segera memegang kedua lenganku. Aku menepis tangannya, namun ia segera merangkulku dengan erat. Dia berkata, "Jangan pergi dariku, Rania!"


Aku mendorong tubuhnya dengan kuat namun tak bisa melepaskan pelukannya dariku. Ia segera memegang daguku dan mendongakkan wajahku menghadapnya. Lalu, ciuman itu meluncur begitu saja di bibirku.


Aku berusaha memberontak dan melepaskan bibirku. Mas Darwin malah berbisik, "Kamu istriku, Rania. Masih istriku."


Lalu, ia menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku berusaha bangkit, namun Mas Darwin segera membuatku terjebak dalam dekapannya di atas kasur. Aku tak cukup kuat melawan tenaganya. Luapan aura kejantanannya membuatku hanya bisa menangis.


Aku tak ingin disentuh lagi olehnya. Namun, kali ini aku tak bisa menolaknya. Mas Darwin terlalu kuat menahanku, aku tak bisa berkutik. Sehingga, terjadilah hubungan suami istri itu.


****


Aku menangis di atas tempat tidur dan memperhatikan pakaianku yang berserakan di lantai. Mas Darwin tidur di sebelahku menggunakan selimut yang sama dengan yang kugunakan saat ini. Aku menangisi keadaanku dan kebodohanku yang tak bisa menghindari perbuatan Mas Darwin.


Dengan seenaknya saja ia melampiaskan nafsunya padaku. Aku tak mau lagi disentuh olehnya, apalagi melayaninya di ranjang seperti ini. Bisikannya di telingaku terdengar berkali-kali di otakku, 'Kamu istriku, Rania. Masih istriku.'


"Aku benci kamu, Mas," gumamku sambil menatap wajah Mas Darwin yang tertidur pulas.


Esoknya aku menjadi pilek karena terlalu banyak menangis semalam. Tanpa kuminta Mas Darwin berinisiatif membuatkanku air jahe untuk sedikit melegakan pilekku. Aku tak meminumnya dan segera membuangnya di dekat keran cucian piring.


Lalu, tiba-tiba, "Rania!" Bentakan ibu mengagetkan kami berdua.


"Istri tidak tahu berterima kasih," ucap ibu. Ternyata sejak tadi ibu diam-diam menonton tingkah laku kami.


Aku bergegas masuk ke kamar karena tak ingin mendengar ocehan ibu. Lalu, ibu mendekati Mas Darwin.


"Inilah akibatnya jika kamu menduakan istri," ucap ibu. "Dia ingin bercerai denganmu." Mas Darwin terkejut karena ibu mengetahui rencana perceraian kami.


"Kamu harus mempertahankan, Rania. Anakmu butuh ayahnya," ucap ibu. "Ibu rasa kamu tak akan rela jika nanti anakmu akan memanggil orang lain sebagai ayahnya dan tak mengenalmu."


"Kamu tidak boleh bercerai dengan, Rania," bisik ibu.


"Tapi, dia ingin menggugatku cerai, Bu," ucap Mas Darwin.

__ADS_1


Ibu tak merespon ucapan Mas Darwin. Dia malah berkata, "Ceraikan Alya dan hidup bahagialah bersama Rania!"


Mas Darwin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa, Bu. Alya juga sedang mengandung anakku."


"Itulah kebodohanmu," ucap ibu. "Tinggalkan, Alya! Lupakan dia!"


"Ibu akan sangat bahagia jika kamu meninggalkan Alya dan memilih hidup bahagia bersama Rania," ucap ibu. "Bisakah kamu memberikan kebahagiaan itu untuk ibumu yang sudah tua ini Darwin?"


Mas Darwin mengusap wajahnya yang tampak tertekan. Ia merapatkan kedua bibirnya dan tak mampu menjawab pertanyaan ibu.


Esoknya di kantor Mas Darwin membuka kunci laci mejanya. Di dalamnya tersimpan dompetku yang telah lama tak tersentuh. Mas Darwin membuka dompet itu untuk mengecek adakah KTPku di dalamnya.


Perlahan Mas Darwin membuka dompetku. Dia menemukan beberapa lembar uang puluhan ribu dan ribuan di dalamnya. Satu kartu ATM, KTP, dan yang membuat perhatiannya tersita adalah foto di dalam dompet itu.


Ada fotoku bersama Mas Darwin di sana, foto saat kami menikah yang kugunting bentuk persegi agar muat di dalam dompetku. Di belakangnya bertuliskan tanggal pernikahan kami dan dua simbol hati. Satu foto lagi adalah foto kedua orang tuaku ketika masih hidup dulu. Dan, foto terakhir yang sangat menarik perhatian Mas Darwin adalah foto dirinya sendiri. Foto itu kugunting berbentuk hati dan kutulis 'I love you' di belakangnya.


Mas Darwin tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Rania...." gumamnya.


'Dia begitu polos,' pikir Mas Darwin. 'Aku begitu jahat telah menyakitinya dengan pernikahan ini.'


Tiba-tiba Mas Darwin terbayang momen saat kami pertama kali bertemu dan saling mengenal. Mas Darwin juga teringat pada momen saat aku memasangkan jas dan dasi padanya.


'Kamu benar-benar berubah,' pikirnya. 'Aku rindu Rania yang dulu.'


'Apakah aku harus benar-benar menceraikannya?' Mas Darwin begitu galau.


'Alya adalah wanita stylish dan perfeksionis. Bertahun-tahun dia membuatku tergila-gila. Sedangkan, Rania hanya gadis sederhana yang polos. Entah mengapa beberapa bulan terakhir setiap bersamanya ada gelora yang bangkit dalam tubuh ini... seperti remaja yang baru mengenal cinta. Ada perasaan menggebu dalam hati untuk mendapatkan cintanya. Ada getaran yang tak pernah kurasakan lagi pada Alya.'


'Mungkinkah perasaan itu muncul hanya karena Rania wanita baru dalam hidupku. Sementara itu, aku mungkin mulai merasa jenuh pada Alya. Mungkinkah itu penyebabnya? Atau, mungkin aku benar-benar jatuh cinta pada Rania?'


'Aku tidak mungkin mengkhianati Alya. Dia yang selalu menemaniku selama ini. Dia sudah banyak menderita. Namun, aku tak bisa memiliki keduanya. Aku harus memilih.'


'Ini terlalu berat... aku tak bisa memilih.' Mas Darwin stres memikirkan perasaannya. Ia pusing dan sangat tertekan.

__ADS_1


'


__ADS_2