
Setelah berpisa dari Hangwe dia segera kembali ke penginapan. Meskipun hari masih siang dia ingin melihat barang-barang yang ia dapatkan dari berbelanja.
Dia mencoba untuk memperpanjang kontrak kamar menjadi 1 bulan. Setelah bertemu resepsionis yang penuh kebencian, dia segera meminta maaf dan tidak menggodanya lagi. Lagipula dia akan tinggal di sini untuk 1 bulan ke depan, jadi ada baiknya tidak menimbulkan masalah.
Gadis resepsionis itu sepertinya masih tidak puas. Luye tidak tau harus berbuat apa, jadi dia mengabaikannya. Namun gadis itu menjadi marah dan berteriak padanya. Hal ini membuat Dia memutar mata tak berdaya.
Memang benar kata orang-orang, wanita adalah makluk paling sulit untuk di mengerti di dunia. Luye benar-benar tidak bisa terganggu oleh hal seperti ini, jadi dia mengabaikannya dan pergi kekamarnya.
Meskipun sikapnya membuat gadis itu semakin tidak senang terhadapnya tapi dia tidak perduli. Dia sangat bersemangat kali ini dan tidak sabar untuk berlatih, bagaimana mungkin dia harus memperhatikan hal yang tidak penting seperti gadis kecil yang pemarah?
Di atas kasur besar Luye duduk sambil memperhatikan barang-barang yang telah ia dapatkan. Ada 1 pedang panjang dengan pola elegan dan sebuah belati melengkung yang terlihat tajam. Ada beberapa buku tentang teknik berpedang dasar. Dan yang paling dia tunggu-tunggu adalah 2 buku besar berwarna hitam dan merah.
Setelah mengetahui beberapa informasi dasar yang dia dapat dari Pak Tua perpustakaan. Dia ahkirnya sedikit memiliki gambaran tentang wilayah ini.
Pertama wilayah ini di namakan Wilayah Hell, Di wilayah hell banyak kota-kota kecil maupun besar. Dan setiap kota memiliki kekuatan tertentu yang mendominasi entah itu Sekte atau keluarga besar.
Jika ada kekuatan yang sama yang berada di kota. Biasanya mereka mendominasi bersama. Meskipun ada konflik internal atau apapun, itu masalah lain. Ini sama seperti kasus Kota Dam tempat Lue Yi tinggal di mana ada 3 keluarga besar yang mendominasi di sana.
Sedangkan untuk kota LongXuan ada sekitar 4 keluarga besar yang memiliki kekuatan setingkat keluarga Lue. Mereka memiliki partiak di ranah Spiritual yang hebat. Beberapa panutua juga berada di ranah yang sama. Keluarga Luke merupakan salah satu dari mereka. Saat membicarakan keluarga Luke, kakek itu bicara sangat lama dan penuh semangat.
Namun untuk keluarga Wayde kenapa dia bisa menjadi yang terkuat. Tentu saja karena mereka memiliki master di ranah yang lebih tinggi dari ranah Spiritual.
Yaitu Ranah Nascent Soul.
Di katakan bahwa Patriak keluarga Wayde adalah master di ranah Nascent Soul yang telah mencapai puncak. Bahkan semua tetua juga di ranah Nascent Soul.
__ADS_1
Ranah Nascent Soul adalah ranah di atas ranah Spiritual. Mereka yang telah mencapai ranah Nascent Soul akan memiliki kemampuan terbang secara alami. Dan yang paling penting mereka yang telah mencapai ranah Nascent Soul memiliki umur 200- 300 tahun, bahkan bisa lebih lama jika mereka memiliki metode tertentu.
Setelah mendengar itu Luye menjadi bersemangat. Jika di dunia ini bisa mendapatkan keabadian, dia akan mengejar itu tampa ragu-ragu.
"Walaupun berada di puncak Nascent Soul mereka masih tidak berani menyinggung orang yang di sebut 'Raja Api', seberapa kuat orang itu?" Luye sudah menanyakan itu ke Kakek itu tapi sepertinya dia juga tidak tau. Walaupun tidak dapat mengetahuinya, yang jelas Luye bisa memastikan satu hal.
Sementara Nascent Soul adalah puncak. Tapi sepertinya masih ada puncak yang lebih tinggi. Luye menghela nafas tidak ingin memikirkan ini lagi, bahkan puncak yang rendah saja belum di daki, kenapa dia harus memikirkan puncak yang tinggi.
Meskipun sekarang dia berada di kaki gunung, setidaknya setelah mengetahui hal ini dia sudah satu langka menuju ke tujuhannya. Jadi hal yang perlu di lakukannya saat ini adalah berlati dengan tekun.
Memikirkan ini dia mulai mengambil buku besar itu dan segera membaca. Dia membaca sampai lupa waktu dan hari sudah hampir malam.
"Tok, tok tok." Suara pintu di ketuk terdengar. Luye memutar mata dan berdiri untuk membuka.
Setelah membuka pintu seorang gadis kecil berusia sekitar 16 tahun berdiri di depan pintu. Dia menundukan kepala seperti tidak ingin melihat Luye.
Gadis itu ingin mengucapkan sesuatu tapi mulutnya terkunci.
"Tidak masalah, aku sudah lama memaafkanmu." Luye mengangkat tangannya dia sudah tau apa yang ingin di lakukan gadis ini.
"Aku datang bukan untuk meminta maafmu, Huuu." Dia memalingkan mukanya ke sisi lain.
"Apa kau anak pemilik penginapan ini?" Luye menatap gadis itu dengan pandangan profokasi.
Gadis itu langsung menatap Luye dengan pandangan tak percaya. "Bagaimana kam...."
__ADS_1
"Dan apa yang kamu lakukan hanyalah sandiwara! Apakah aku benar?" Luye menatap gadis itu dengan senyum yang tidak berbahaya bagi anjing dan kucing.
Gadis itu langsung jatuh kebelakang. Melihat senyum Luye yang menawan. Namun baginya itu tidak berbeda dari iblis. Di bawah sorot mata Luye, dia seakan tel*njang. Semua rahasianya terbongkar dan tidak bisa menyembunyikan apapun. "Bagaimana kamu tau."
Hehe, jadi itu benar. Luye hanya menebak, tapi sepertinya gadis itu memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu. "Hehe, saya secara alami tau nona manis, kenapa anda tidak masuk dulu, tidak nyaman untuk mendiskusikan sesuatu di depan pintu, bagaimana kalo kita menikmati secangkir teh."
Luye mempersilakan masuk ke kamar seperti seorang pria yang terhormat. Namun matanya menatap ke bagian-bagian sensitif gadis itu dengan cabul.
"Bajingan tercela." Gadis itu mengutuk keras lalu pergi dari sana tergesa-gesa. Karena plot sudah di temukan oleh Luye tidak ada artinya untuk terus berpura-pura.
Melihat gadis itu pergi Luye hanya menggelangkan kepala dengan senyum masam. Dia keluar penginapan untuk mencari makan dan membaca lagi.
Sedangkan untuk apa yang di lakukan gadis itu jika orang memiliki mata pasti akan mengetahuinya. Pada awalnya Luye hanya sedikit curiga. Sebenarnya bukan Luye yang terlalu jeli tapi gadis itu yang tidak berbakat bersandiwara.
Itu benar-benar seterang obor di malam hari. Bagaimana Luye tidak menyadarinya. Sebagai orang yang sudah hidup lama dia selalu berpikir di balik plot.
Jika gadis itu memang pelayan normal maka sejak lama dia akan di pecat karena mengganggu pelanggan. Namun tidak ada hal semacam itu. Terus saat gadis itu datang ke sini, dia dapat menebak tujuannya adalah meminta maaf. Dan sepertinya dia sangat terpaksa untuk melakukannya. Namun sepertinya kebenciannya kepada Luye itu tidak palsu. Jadi ketika dia di suruh minta maaf, dia merasa enggan untuk melakukannya.
Di tambah tempramennya seperti putri kecil.
Hal ini membuat Luye semakin yakin akan tebakannya. Jadi hal pertama yang dia pikirkan adalah apa yang di ingin kan orang di belakang gadis itu?
Namun dia segera mengingat kalo dia adalah bocah kecil yang telah menjadi ahli beladiri. Tidak heran jika beberapa keluarga ingin mengikat jenius berbakat seperti dirinya.
Apa aku akan menerimanya saja untuk mendapatkan metode kultivasinya?
__ADS_1
Luye segera menggelengkan kepala membuang pikiran itu. Dia bukan bajingan yang meniduri wanita terus pergi setelah mencapai tujuannya. Membiarkan wanita itu menjadi janda dan mengurus anaknya sendiri.
Hal seperti itu benar-benar tidak pernah terpikir olehnya. Meskipun tadi baru saja terpikir. Tapi itu tidak sengaja jadi 'lupakan saja'.