Berenkarnasi Di Dunia Kultivasi

Berenkarnasi Di Dunia Kultivasi
bab9


__ADS_3

Setelah membersikan tubuhnya Luye segera bersiap untuk tidur. Dia sudah terlalu lelah dengan perjalanan kali ini jadi Dia benar-benar sedang tidak mood untuk melakukan hal-hal menyenangkan seperti aktifitas malam.


Setelah maencapai posisi senyaman mungkin dia perlahan mulai tertidur.


Malam berlalu begitu saja dan pagi ahkirnya tiba. Dia bangun dari tidur dengan wajah segar. Mengabaikan tatapan gadis resepsionis yang penuh kebencian dia keluar penginapan itu dengan senyum di wajah.


"Kemana aku harus pergi." Setelah makan dengan kenyang di toko terdekat. Luye menggosok dagunya dengan bingung.


"Kakak, apa anda membutukan pemandu." Suara kecil tiba-tiba terdengar di belakang Luye. Setelah berbalik dia hanya melihat anak kecil kurus dengan pakaian yang berlumbang berdiri di sana.


Melihat bocah itu Luye tau kalo bocah itu mungkin anak keluarga miskin di kota ini. Semua orang yang melihat penampilanya pasti akan menyimpulkan hal yang sama. Hal seperti ini tidak patut di perhitungkan, fakta bawah bocah itu adalah penduduk lokal sudah cukup untuk menjadi pemandu. Luye melemparkan 1 koin perak "Pandu aku."


Anak itu menangkap koin itu dan melihatnya. "Aku tidak punya kembalian."


"Ambil saja, sebagai gantinya kamu harus memanduku sampai selesai." Luye melambaikan tangan tidak perduli. Lagipula dia masih punya banyak koin emas.


"Baik." Wajah bocah itu muncul senyum. Untuk jasa pemandu seperti ini paling cuma butuh 1 koin perunggu. Di kota ini satu koin perunggu cukup untuk membeli roti tawar yang membuat kenyang. Namun jika anda menginginkan sesuatu yang lebih enak maka harus membayar lebih mahal.


"Kemana kita harus pergi?" Bocah itu dengan antusias bertanya.


Luye sedikit berpikir. "Bawah aku ke perpustakaan atau toko buku, semacamnya."


Jika anda ingin mendapatkan informasi maka hal terbaik adalah mencari perpustakaan atau toko buku.


"Tidak ada perpustakaan di sini, hal seperti itu hanya di miliki oleh keluarga besar dan tentunya orang asing tidak akan di perbolehkan masuk." Sambil berjalan bocah itu menjelaskan.


"Tapi...untuk toko buku, seharusnya ada satu di kota ini." Sambil berjalan bocah itu terus menjelaskan seperti pemandu yang profesional. Luye hanya mendengarkan ocehannya dalam diam.


Setelah beberapa menit berjalan "Ahkirnya kita sampai."


Di tepi jalan ada toko besar dengan banyak buku di pajang. Tulisan besar 'toko buku' berada di atasnya.


"Baiklah kamu bisa pergi." Luye berniat memasuki toko, dia mengisyaratkan bahwa dia sudah tidak perlu di pandu.


"Anda membayar lebih, jadi saya akan memandu sampai ahkir." Bocah itu seperti ingin menyelesaikan tanggung jawabnya.


"Tidak perlu, lagi pula aku belum tau harus pergi ke mana." Luye mengayunkan tangannya dengan ekpresi datar.


"Baiklah." Bocah itu mengangguk dan segera menghilang ke kerumunan.

__ADS_1


Luye hanya bisa menggelengkan kepala. Meskipun bocah itu mengoce sepanjang jalan tentang banyak hal. Dia banyak membicarakan pemandangan alam, objek wisata dan lain-lain. Tapi Luye menemukan beberapa informasi yang bermanfaat.


Di kota ini sangat minim adanya konflik. Terutama yang paling di tekan adalah bandit. Di katakan kalau ini adalah pengaturan dari keluarga Wayde dimana itu adalah keluarga terkuat di kota ini.


Keluarga Wayde cukup kuat hingga membuat bandit tidak lagi berani muncul di sekitar kota. Keluarga Wayde juga mengatur aturan sehingga kriminal sangat kecil di kota.


Mengingat kembali, tidak heran kalo Hangwe cukup berani untuk menjemput para penumpang yang ingin ke kota. Yang mengejutkan adalah dia berani sendirian. Dengan penumpang yang membawah barang yang bernilai. Apakah dia tidak takut ada bandit.


Bagaimanapun hal tercepat dan paling efesien untuk mendapatkan kekayaan adalah dengan menjara. Selama pemilik asli mati maka hal-hal baik akan menjadi miliknya.


Jika ada yang mengatakan tidak ada bandit. Maka Luye akan menjadi yang pertama yang tidak percaya.


Pada awalnya dia masih bertanya-tanya. Tapi sepertinya paman itu sangat emosional saat itu jadi dia lupa untuk menanyakannya. Namun sekarang hal-hal menjadi jelas, jadi dia merasa tenang.


Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah seberapa kuat keluarga Wayde itu?


Tidak lagi memikirkan ini Luye memutuskan untuk masuk ke toko. Di dalam toko seorang lelaki tua kurus duduk di meja kasir. Hal yang


paling mengejutkan adalah Luye dapat merasakan kalo lelaki tua itu adalah master di ranah Tranformasi tahap 3.


Setiap kulivator pasti memancarkan aura tertentu, semakin kuat auranya semakin tinggi kekuatanya. Semakin anda terbiasa untuk menilai maka anda bisa menebak dengan mudah. Seorang ahli beladiri dengan tingkat yang lebih tinggi dari anda, mungkin sulit untuk di tebak jika pihak lain sengaja menyembunyikan kekuatanya. Namun semua ahli akan memancarkan kekuatan aslinya saat mereka bertarung.


"Ada yang bisa di bantu, adik kecil." Melihat Luye masuk ke toko pak tua itu berdiri dengan tersenyum.


"Siapa pemilik di belakang toko ini?" Melihat bahwa seorang dengan ranah Tranformasi tahap 3 di tepatkan sebagai penjaga toko. Jelas menunjukan kalo latar belakang toko ini tidak biasa.


"Mata adik ini cukup tajam, memang toko ini adalah poperti milik keluarga Luke, walaupun tidak sekuat keluarga Wayde, keluarga Luke masihlah yang terkuat setelah keluarga Wayde." Kekek tua itu berkata penuh dengan kebanggaan.


"Seberapa kuat keluarga Luke." Sedikit kemarahan muncul di mata kakek itu mendengar pertanyaan tidak sopan Luye. Secara tidak langsung pertanyaan Luye seperti mengolok-olok keluarga Luke.


Lagi pula siapa yang tidak tau kekuatan keluarga Luke di kota ini.


"Maaf aku tidak bermaksud menyinggung anda, saya berasal dari desa terpencil dan tidak tau apa-apa soal kota ini." Luye segera meminta maaf setelah menyadari kesalahannya. Lagipula dia tidak ingin terjadi konflik hanya karena kesalahan sepele seperti salah mengucapkan sesuatu. Bukankah hal seperti itu hanya terjadi di novel? Dia benar-benar tidak ingin terlibat masalah sebelum dia menjadi kuat.


Lagian tidak perduli seberapa berbakat anda, ketika orang yang kuat mengejar anda dan ahkirnya anda mati sebelum mencapai puncak. Bukankah bakat itu sama saja omong kosong?


"Jadi begitu anda adalah orang baru di sini." Kakek itu menarik kembali kemarahannya. Setelah itu dia bertindak seperti rubah licik, dia seperti sudah menebak niat Luye, dia tersenyum sealami mungkin dan bertanya. "Jadi apa yang anda inginkan?"


Melihat senyum itu membuat Luye merinding. Dia langsung melemparkan 3 koin emas. "Tolong beri tau aku semua yang anda tau tentang benua ini, tidak dunia ini."

__ADS_1


"Itu benar-benar tidak mungkin, bahkan jika itu hanya benua ini, itu juga tidak mungkin." Kakek tua itu menggelengkan kepalanya dengan tak berdaya.


"Bukankah percuma aku membayar orang bodoh?" Luye menatap dengan tatapan mengejek.


"Anda tidak bisa mengatakan itu adik kecil, saya adalah orang paling tau di kota ini, kalo anda ingin orang yang lebih tau dari saya anda bisa membayar patriak keluarga Wayde, namun apakah beliau mau bicara dengan anda jika di beri 3 koin emas belaka?" Kakek tua itu tidak marah dan hanya tersenyum.


Luye menemukan ini masuk akal, jadi dia menganguk. "Jadi apa yang kamu tau?"


"Untuk benua saya memang tidak tau, tapi untuk wilayah saya tau sedikit tentang informasi umum." Kakek itu mengangkat jarinya dengan mata terpejam. Dia terlihat seperti orang paling bijak di dunia ini.


"Kalo begitu katakan." Luye merasa tidak sabar.


"Jika anda memberi 10 koin emas, saya akan mulai bicara." Kakek tua itu ahkirnya menunjukan niatnya. Senyumnya kembali ke senyum licik. Tidak masalah untuk memeras tuan muda kecil ini.


Luye menatap pak tua itu dengan tercengang. Dia tidak berharap kakek tua itu begitu licik. Tidak ada pilihan lain dia hanya melempar 7 koin emas lagi sambil mengutuk. "Rubah tua sialan."


Kakek tua itu tidak memperdulikan kutukan Luye dia hanya menangkap koin itu dan memasukannya ke saku dengan senyum gembira.


Setelah itu dia mengatakan apa yang dia tau tentang wilayah ini. Sekarang di ruangan itu hanya ada kakek tua yang menceritakan dongeng dan Luye yang mendengarkannya. Luye juga bertanya dari waktu ke waktu. Selama 2 jam ahkirnya hal itu selesai.


"Jadi ada yang bisa di bantu lagi?" Kakek tua itu tersenyum senang. Jelas dia bahagia karena sudah berhasil mengambil keuntungan dari Luye.


Berhadapan dengan rubah licik ini Luye hanya bisa pasra. Dia berjalan di sekitar rak buku. Tiba-tiba perhatiannya tertarik ke sebuah buku besar seperti batu bata. Dia mengambil buku berwarna hitam itu dan menemukan tulisan 'metode kultivasi dasar'.


Metode kultivasi? Mereka benar-benar menjual ini? Dulu saat dia di bumi hal seperti ini bahkan tidak bisa di beli dengan uang. Mereka menukarnya dengan eleksir. Dan tentu saja untuk mendapatkan eleksir banyak darah harus tumpa. Dia tidak pernah berpikir hal seperti ini di jual begitu saja di toko buku.


"Berapa ini?" Sambil memperlihatkan buku itu ke kakek tua.


"Bukankah seharusnya kamu punya yang lebih baik." Melihat luye menjadi ahli di usia muda dia berpikir dia dari keluarga tertentu. Jadi bagaimana mungkin keluarga itu tidak punya metode kultivasi.


"Aku ingin menelitinya." Jawab Luye sebagai alasan. Meskipun dia sudah punya metode kultivasi dari dunia sebelumnya yang bisa di latih sampai tingkat 5. Tapi dia masih ingin tau tentang metode kultivasi di dunia ini.


"Ehm, 200 koin." Meskipun ini terlihat mahal tapi kali mengingat seberapa mahal metode kultivasi di dunia sebelumnya dia tetap membayarnya.


Lalu Luye berkeliling lagi dan mendapatkan buku seperti 'teknik pedang dasar' dan beberapa seni berpedang. Meski dia ahli menggunakan belati dia berniat belajar pedang.


Pedang dan belati itu hampir sama, mereka di gunakan untuk membunuh. Hanya bedanya jika belati dengan serangan diam-diam, kalo pedang dengan terang-terangan. Karena jika anda licik sedikit maka pihak lain akan mengatakan kalo anda pengecut dan tidak punya jiwa kesatria.


Tapi bagi Luye kalo ada cara licik untuk menang kenapa anda menggunakan cara adil yang pada ahkirnya di kalahkan. Tidak perduli seberapa licik caranya, untuk bertahan hidup dia lebih memili cara yang efektif dan efesien.

__ADS_1


__ADS_2