
Di gerbang desa dua anak laki-laki seperti sepasang saudara sedang duduk atas batu kecil. Dengan tatapan cemas mereka menatap ke arah hutan dari waktu-kewaktu.
"Kakak apakah ayah akan baik-baik saja?" Seperti tidak nyaman akan keheningan ini bocah kecil itu bersuara memecah kesunyian.
"Dia akan baik-baik saja." Sambil mengusap kepala adiknya, dia mencoba menenangkannya namun tatapan kawatir tidak dapat di sembunyikan.
"Uhm, ayah sangat kuat." Bocah kecil itu mengepalkan tangan mungilnya dan berkata penuh semangat. Mereka benar-benar tidak tau kalo ayahnya hampir saja menjadi santapan serigala, bagaimana itu sangat kuat. Hanya saja di mata bocah polos itu ayahnya adalah super hero.
"Fujin, Fuzin kenapa kalian hanya duduk di sana dan tidak segera pulang?" Suara marah terdengar dari belakang yang membuat kedua bocah itu berbalik. Sumber suara adalah seorang wanita parubaya yang memiliki tubuh sedikit gemuk. Dia membawa sendok sup di tangan kanannya, menatap kearah dua bocah seperti ingin memukul bokong keduanya.
Itu adalah ibu kedua bocah tersebut sekaligus istri dari Tang.
Pada saat mereka berburu di hutan bersama ayahnya tentu saja mereka tidak memberi tau ibunya dan bergerak secara diam-diam. Bagaimanapun hutan adalah tempat bahaya jadi bagaimana mungkin membiarkan bocah 10 tahun menelusurinya. Ibunya pasti tidak akan membiarkan hal ini terjadi.
Tapi ayahnya menyetujuinya dan berniat membawahnya untuk berburu. Tentu saja dengan syarat untuk tidak memberi tau ibunya. Bagaimanapun kedua bocah itu setuju, karena hal misterius seperti hutan sangat menarik minat anak-anak. Jiwa ekprolasi mereka terbangun dan ingin menjelajahi nya.
Tentu saja sang ayah juga ingin memamerkan keahlian berburunya pada anaknya. Namun sayang sekali, hal-hal di dunia ini terkadang berbeda dari apa yang kita rencanakan.
Saat ini hari sudah mulai sore dan ibu itu datang untuk menyuruh kedua bocah itu pulang. Seperti hal ini sudah biasa terjadi, mereka berdua tidak mengatakan apa-apa dan bergegas untuk mencapai rumah.
"Sudah sore kenapa ayahmu belum pulang? Apa dia akan tidur di hutan malam ini?" Hal ini biasa terjadi, kalo hari itu buruhan tidak terlalu banyak biasanya para pemburu akan tidur di hutan atau membuat jebakan. Hal ini cukup biasa di kalangan pemburu jadi ibu itu tidak merasa curiga.
Bocah kecil itu segera ingin mengayakan sesuatu namun segera di hentikan oleh kakaknya.
"Ada Fujin? Kau tau sesuatu?" Melihat anaknya kecil ingin mengatakan sesuatu dia jadi penasaran.
"Tidak ada bu, Fujin hanya kesal di tipu oleh teman-teman saat bermain tadi." Fizin lasung memotong sebelum Fijin menjawab.
"Oh begitu kah? Kalo begitu bersikan diri kalian, aku akan menyiapkan makanan." Dia langsung berbalik tidak memperhatikan keduanya lagi.
"Baik bu." Fizin menjawab dengan segera. Melihat ibunya pergi dia menghela nafas lega.
"Kenapa kamu berbohong kakak." Fujin disisi lain hanya menatap Fuzin dengan polos. Dia ingin tau kenapa kakaknya berbohong.
"Kamu anak kecil tidak perlu tau." Dia tidak berniat menjelaskan padanya. Lalu dia mendorong Fujin untuk menyurunya mandi.
__ADS_1
"Apa kamu menganggapku anak kecil?" Fujin berbicara dengan tidak senang.
"Cukup omong kosongnya dan pergi saja mandi." Fuzin mendorongnya lebih jauh dan menutup pintu.
"Tidak aku belum selesai bicara denganmu."
Melihat adiknya pergi dia ahkirnya menghela nafas lega. Meskipun dia bercanda dengan adiknya beberapa waktu yang lalu namun matanya masih menunjukan jejak kekawatiran.
Fujin mungkin masih kecil dan tidak terlalu kawatir. Hanya dengan di bujuk dengan beberapa kata manis dia bisa tenang. Baginya ayahnya adalah superhero, pasti dengan mudah mengalakan hewan buas itu. Tapi dia berbedah, dia sudah berusia 16 tahun, jadi dia samar-samar tau kekuatan dari serigala dewasa itu setingkat orang dewasa.
Ayahnya hanya sendirian dan di sisi lain ada tiga serigala. Bukankah itu sama dengan 1 vs 3. Jika di kroyok begitu apakah ayahnya bisa bertahan? Bukankah jawabanya sudah pasti? Bahkan jika itu orang yang bodoh dan hanya paham matematika dasar, jika di tanya besar mana antara angka 1 dan 3, tetap masih besar 3.
Tapi hal yang paling membuatnya sakit hati adalah ini semua terjadi karena dia. Dia yakin kalo pada saat itu ayahnya sendiri dia pasti punya cara untuk lari. Namun sayang saat itu mereka bertiga, jika ayah mereka melarikan diri bukankah mereka yang pada ahkirnya di makan.
Memikirkan ini membuatnya semakin bersalah. Fuzin menoleh ke sana kemari dan tidak melihat ibunya. Lalu dia diam-diam mengambil anak panah dan busur terus menyelinap pergi keluar.
Dia benar-benar tidak bisa tenang kalo belum melihatnya sendiri.
Saat Fuzin mencapai gerbang desa dia melihat dua sosok yang berjalan ke arahnya. Satu sosok hanya seperti anak 14 tahun dan membawa serigala di pundaknya. Sosok lain adalah sosok yang ia kenal, itu juga membawah dua serigala.
"Ayah, kau kembali?" Fuzin menyambut ayahnya dengan antusias.
Tang tidak memperhatikannya sebelumnya, setelah mendengar ini dia ahkirnya memperhatikan Fuzin.
"Aku pulang, bawah ini." Tang berbicara dengan bangga dan melemparkan satu serigala ke Fuzin.
Melihat serigala itu ekpresi Fuzin sedikit rumit. Dia pada awalnya memperkirakan ayahnya akan kesulitan untuk selamat. Namun hal yang dia anggap menyeramkan ini sekarang akan menjadi santapannya. Dia tidak pernah membayangkan serigala yang menyeramkan itu sekarang menjadi hidangan.
Tiba-tiba melirik ke punggung Luye yang sudah berjalan menjauh. Apa bocah itu menolong ayahnya? Dia tidak memikirkan ini lagi dan segera membawah serigala itu dan menyusul keduanya.
"Aku pulang!" Tang membuka pintu dan meletakan mayat serigala itu di lantai. Luye juga melakukan hal yang sama dan segera duduk di kursi.
Rumah ini hanya rumah sederhana yang semuanya terbuat dari kayu. Lantai rumah juga terbuat dari papan. Namun di bandingkan dengan kebanyakan rumah di desa, rumah ini bisa di anggap sedikit lebih besar. Bagaimanapun beberapa penduduk yang berprofesi menjadi pemburu memiliki penghasilan yang lebih banyak dari mereka yang berprofesi sebagai petani.
Desa ini adalah desa kecil di pinggir hutan. Mungkin hanya ada beberapa lusin rumah di desa. Karena itu dekat dengan hutan beberapa orang yang memiliki keberanian akan pergi untuk berburu. Sedangkan mereka yang relatif lemah dan tidak punya keberanian akan memilih untuk menjadi petani dan sebagainya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Setelah beberapa saat wanita parubaya itu keluar. Melihat luka yang ada pada suaminya dan Luye dia tidak bisa tidak bertanya dengan kawatir.
"Terjadi beberapa kecelakaan, aku hanya bertemu beberapa serigala tadi." Tang menjawab dengan tidak berdaya.
"Serigala?" Wanita itu kaget segera setelah melihat 3 mayat serigala di lantai, Dia tidak dapat membantu hanya bisa menutup mulutnya.
"Untung saja ada tuan Luye ini, kalo tidak aku tidak tahu harus berahkir seperti apa." Sambil menunjuk Luye, Tang memperkenalkan Luye pada istrinya.
Fuzin yang berdiri di sisi lain juga menatap Luye dengan tatapan terima kasih. Dia sudah memiliki tebakan sebelumnya namun setelah dia mendengar langsung dari ayahnya dia menjadi yakin.
Apakah benar-benar ada orang kuat di dunia ini? Terlebih lagi dia masih muda?
Sebagai bocah yang hidup di desa terpencil Fuzin tidak pernah tau yang namanya kultivator. Meskipun ayahnya sedikit tau karena dia sering ke kota untuk menjual daging namun dia tidak pernah memberi tau anaknya.
"Kalo begitu saya mengucapkan terima kasih tuan, Tunggu sebentar saya akan ambilkan obat." Melihat luka Luye bahkan lebih parah dari suaminya dia buru-buru mengatakan itu dan berbalik pergi ke belakang.
Melihat kepergian istrinya Tang mendesah pelan. Senyum terpasang di wajahnya seperti mengingat masa lalu. "Dia adalah gadis yang manis bahkan perilakunya sangat manis, saat pertama kali aku bertemu dengannya aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, dan setelah itu...."
"Tidak seharunya anda mengatakan itu pada anak-anak, tuan Tang!" Sebelum Tang bisa mengatakan lebih jauh Luye telah menghentikannya. Dia terlalu bosan untuk mendengar omong kosong ini. Bagaimanapun kisah asmara mereka berdua bukan urusannya. Kenapa dia harus mendengarnya?
Fuzin di sisi lain wajahnya merah karena malu. Dia menghindari tatapan ayah nya seperti mengisyaratkan, Itu bukan ayahku.
Tang ahkirnya menyadari apa yang dia katakan. Dia menggaruk kepalanya merasa malu "Maaf aku terbawah suasana."
Bagaimana mungkin hubungan asmaranya di pamerkan ke orang luar. Terutama orang itu adalah bocah 14 tahun.
"Lupakan saja." Luye melambaikan tangan seperti bukan apa-apa.
Setelah begaul dengan Tang, dia tau karakter paman ini dengan baik. Dia sering membahas hal-hal tidak masuk akal. Dia sering membahas hal mesum seperti wanita telanjang. Padahal lawan bicaranya adalah bocah 14 tahun.
Ya meskipun tuan muda keluarga Lue bukan bangsawan terhormat. Jadi Luye yakin jika itu tuan muda keluarga Lue mungkin bisa akrab dengan paman mesum ini. Sayang bocah malang itu sudah mati dan di ganti dirinya.
Meskipun awalnya dia adalah pria dewasa yang tentu saja tau tentang hal seperti itu. Namun sebagai seorang pria anda harus tau mana yang harus di prioritaskan. Sekarang dia masih lemah dan dia tau banyak orang kuat di luar sana. Jika dia memiliki konflik dengan master di ranah Spiritual. Dia bahkan tidak yakin, apakah masih bisa untuk memiliki hidupnya.
Jadi untuk sekarang menjadi kuat adalah prioritasnya.
__ADS_1