
Luye sekarang sedang berkultivasi. Duduk di atas kasur sambil memejamkan mata. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghebuskannya dari waktu-kewaktu. Seorang dapat melihat cahaya kecil seperti rambut masuk kedalam tubuhnya terus-menerus.
Luye tiba-tiba membuka matanya. Dia menghela nafas panjang dan bergumam. "Dengan kecepatan seperti ini, aku butuh setidaknya 2 bulan untuk sampai ke tahap kedua."
Sedikitnya dia sudah memperkirakan mungkin butuh 2 bulan untuk sampai ke ranah Tranformasi tahap ke 2. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin. Dia selalu berlati setiap senggang tampa mengendur.
Melihat kembali kecepatan latihanya yang lama membuatnya menghela nafas tidak berdaya. Tapi ketika di pikir kembali seberapa lama yang dia butukan untuk berlatih di bumi membuatnya sedikit lega. Faktanya jika 2 bulan itu di anggap lama lalu apa sebutanya saat di bumi yang butuh tahunan? Sangat lama?
Ya seharusnya ini dapat di syukuri!
Luye segera bangkit dari duduknya mencari posisi untuk tidur. Dia sekarang tidur di kamar Fujin. Ketika tau kalo Luye menyelamatkan ayahnya keluarganya sangat berterima kasih padanya.
Di sisi lain bocah kecil Fujin itu malah yang paling bersemangat. Dia menemukan Luye seperti seorang penyelamat. Dia berpikir Luye adalah kesatia hebat yang menolong orang lemah dan menjunjung tinggi keadilan, hal ini seperti dongeng yang sering di ceritakan orang tuanya. Dia menatap Luye penuh kekaguman, seperti palawan yang perkasa yang di impikan anak-anak.
Setelah tau kalo Luye tidak punya rumah untuk tidur. Bocah kecil itu yang pertama mengajukan diri untuk membiarkan kamarnya di tempati. Melihat antusiasme tinggi bocah itu orang tuanya hanya menggelengkan kepala. Lalu pada ahkirnya Luye menginfasi kamar Bocah kecil itu. Dan untuk bocah itu, dia di buang untuk tidur di kamar kakaknya.
Mungkin bocah itu berpikir, sementara Luye adalah palawan yang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Jadi dia ingin menjadi dermawan misterius yang membantu palawan mencapai tujuannya.
Luye hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak tau apa yang ada di pikiran bocah kecil itu. Faktanya dia bisa tinggal di gudang atau semacamnya, jadi tidak susah mencari tempat tidur. Tapi kenapa bocah kecil itu begitu ngotot untuk menyuruhnya tidur di kamarnya. Mungkin dia berterima kasih karena dia sudah menolong ayahnya.
Ya, apapun itu Luye hanya bisa menerima kebaikan dengan senang hati. Ya hal-hal ini tidak perlu di perhatikan. Lagipula dia tidak berniat menetap di desa. Setelah menjual barang di kota, dia pasti lebih memilih untuk tinggal di sana.
Dia memikirkan ini, hanya karena menganggap tingka laku bocah kecil itu cukup lucu yang membuatnya tertawa. Setelah menghibur dirinya sendiri dia ahkirnya tertidur secara alami.
Di banding dengan tidur di hutan yang banyak nyamuk. Mungkin tidur di sini lebih baik. Ditambah lagi makan malam kali ini daging serigala dengan banyak bumbu yang tentunya sangat enak. Daripada saat di hutan dia hanya membakarnya tampa bumbu.
Mungkin malam ini adalah makanan terenak dan tidur ternyaman yang pernah ia dapatkan setelah berenkarnasi. Dia menjadi sangat puas dan tertidur dengan pulas.
Pagi tiba dengan terburu-buru. Luye sudah terbangun dan bersiap untuk ke kota. Dia sekarang memakai kaos coklat yang cukup sederhana yang dia dapat dari Tang. Dan sepasang alas kaki kayu terpasang di kakinya dengan tali-tali yang mengikatnya.
Dia mengawasi keranjang besar yang berisi daging serigala dan bulu yang telah di kuliti. Dia mengangkatnya dan menyandang keranjang itu di punggungnya.
__ADS_1
Di belakang ada Tang yang menggendong keranjang yang sama.
"Kita akan berangkat sekarang?" Tanya Luye tidak sabar.
"Tentu saja." Tang mengangguk dengan sunggu-sunggu.
Luye juga mengangguk dan mulai berjalan.
"Hati-hati di jalan." Di belakang istri dan kedua anak Tang melambaikan tangan melihat Tang akan pergi.
"Baiklah sampai jumpa." Tang juga melambaikan tangan ke arah mereka dengan senyum, perlahan menjauh dari mereka.
Melihat adegan ini Luye hanya memutar mata sama sekali tidak tertarik dengan salam perpisahan seperti ini.
Apakah kalian akan berpisah untuk selamanya? Kenapa begitu dramatis?
Dia tidak lagi memperhatikan dan muali berjalan dengan tenang. Lagipula apa yang di pikirkan orang lain tidak bisa dia pikirkan. Melihat Luye sudah jauh darinya Tang langsung mempercepat langkanya dan menyusulnya.
"Tidak." Jawabnya acuh-takacuh.
"Kalo begitu biarkan aku yang memimpin." Tang berkata dengan kebanggaan dengan membusungkan dadanya. Dia sudah terbiasa dengan sifat dingin Luye jadi dia tidak merasa ketakutan seperti pada saat pertama kali mereka bertemu.
Luye hanya mengangguk tidak memberi komentar apapun. Setelah itu dua orang berjalan berdampingan menelusuri hutan.
"Berapa lama kita akan sampai kira-kira?" Suara Luye terdengar penuh rasa ingin tau.
"Jika kita berjalan terus tampa istirahat, mungkin 1 hari." Jawab Tang sambil menyentu dagunya dan wajahnya tampak berpikir.
"Apakah kamu kuat?" Untuk berjalan 1 hari tampa istirahat, apakah itu bisa? Sebagai seorang kultivator di ranah Tranformasi tahap 1 tentu saja dia kuat, meskipun pada ahkirnya dia akan kelelahan. Tapi apakah paman Tang itu kuat?
Sebenarnya tidak masalah berapa lama mereka sampai ke kota. Luye tidak akan perduli tapi bukankah semakin lama mereka dalam perjalanan kualitas daging semakin buruk. Meskipun Tang telah melakukan beberapa metode supaya daging itu tidak akan busuk selama 1 minggu. Tapi tetap saja, lebih cepat lebih baik.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu Tang hanya tertawa ringan."Memang sulit untuk mencapai kota dengan berjalan, apalagi kita juga membawah barang yang berat, tapi anda tenang saja."
"Tenang saja?" Luye tidak tau apa yang di pikirkan pria itu.
Tidak menanyakan itu lagi mereka hanya terus berjalan.
"Itu dia." Tiba-tiba Tang menunjuk ke belakang. Luye juga berbalik untuk melihat itu.
Sebuah kereta kuda sederhana perlahan mendekat ke arahnya. Segera setelah sampai di depan tuan Tang dan berhenti.
"Tuan Tang apa kamu berniat ke kota." Suara pria parubaya terdengar. Pria itu memiliki badan yang besar dengan kumis dan jenggot yang lebat. Dia sekarang duduk di depan kereta kuda sambil memegangi kendali kuda, jelas sebagai kusir.
"Benar sekali tuan Hangwe." Tang berbicara dengan sopan. Seperti itu sudah biasa terjadi dia langsung masuk ke gerbong begitu saja. Secara alami Luye juga ikut.
Seperti memperhatikan Luye yang cukup asing dia bertanya. "Siapa bocah ini apa itu anakmu?"
Di salah pahami sebagai anaknya Tang, Luye hanya diam, ekpresinya tidak berubah.
"Bukan, perkenalkan ini adalah tuan Luye dia seorang ahli bela diri, Dan Tuan Luye ini adalah Tuan Hangwe seorang supir kereta, dia biasa lewat sini setiap hari untuk menarik penumpang." Tang ahkirnya mencoba untuk memperkenalkan keduanya.
Setelah melihat Luye bisa mengalahkan 3 Serigala yang tentu saja mustahil di kalakan oleh manusia normal apalagi bocah 14 tahun. Dia selalu berpikir kalo Luye adalah seorang ahli beladiri. Meskipun dia tidak tau tingkatan ahli beladiri tapi dia tau mereka lebih kuat dari manusia normal.
"Salam tuan Hangwe." Luye menangkupkan tinjunya dengan sopan.
"Ah anda tidak perlu sopan, Menjadi ahli beladiri di usia muda anda pasti memiliki latar belakang tidak biasa." Melihat bocah kecil ini adalah seorang ahli beladiri bagaimana mungkin dia tidak sopan. Di dunia ini yang kuat akan di hormati yang lemah bisa di injak-injak. Jika anda merasa lemah maka bersikap sopan adalah salah satu cara untuk menjaga kehidupan anda yang sangat sedikit.
Hal semacam ini sudah menjadi tradisi.
Luye tidak tau harus menjawab apa. Faktanya dia sudah memutuskan hubungan dengan keluarga Lue.
"Baiklah, kalo tidak ada yang lain kita akan berangkat." Melihat Luye diam saja Dia tau dia salah bicara. Jadi Hangwe hanya berusaha untuk memecahkan suasana canggung ini.
__ADS_1
Mengambil kemudi dia segera menampar kudanya dan pergi.