Berenkarnasi Di Dunia Kultivasi

Berenkarnasi Di Dunia Kultivasi
bab8


__ADS_3

Sebuah kereta kuda berjalan di jalan setapak. Terdapat dua orang pria parubaya dan satu anak muda. Di dalam gerbong anak muda dan 1 pria parubaya duduk dengan tenang. 2 keranjang besar juga berada di samping mereka. Sedangkan pria parubaya yang lainnya menyetir kuda.


"Paman kenapa kamu bisa menganggap aku punya keluarga tertentu." Suara bertanya Luye memecah kesunyian. Setelah berenkarnasi ke dunia ini tidak ada yang tau latar belakangnya. Atau orang yang menganggap kalo dia punya latar belakang.


Mungkin karena dia tinggal terlalu lama di hutan. Meski begitu, bahkan Tang hanya berpikir kalo dia tau sedikit beladiri. Tidak pernah sampai pada kesimpulan kalo dia tuan muda keluarga tertentu.


Apakah karena paman Tang terlalu bodoh?


Tapi hal seperti ini sebenarnya terjadi. Paman kusir itu langsung menebak dia memiliki latar belakang tertentu. Bagaimana kalo nanti ada orang yang mengenalinya dari keluarga Lue. Bukankah itu merepotkan?


"Ah, tidak saya hanya menebak saja, Pada dasarnya meskipun banyak ahli beladiri di kota LongXuan tapi sebagian besar dari mereka adalah orang dewasa, dan hanya keluarga besar tertentu yang memiliki tuan muda yang sudah bisa beladiri, pada dasarnya mereka berlatih sejak dini." Hangwe menjawab tampa menoleh kebelakang.


Mendengar nama kota yang akan di tuju adalah Kota LongXuan Luye menghela nafas lega. Paling tidak ini bukan kota tempat Lue Yi berasal.


"Jadi begitu." Luye mengangguk dan tidak bertanya lagi.


Namun dia mendengar ratapan kesedih dari depan. "Saya juga sangat ingin mempelajari seni beladiri."


"Apakah tuan Hangwe juga ingin menjadi seorang ahli?" Mendengar ratapan Hangwe, Tang tidak bisa tidak berseru kaget.


"Tentu saja, keluarga saya sebenarnya memiliki warisan seni beladiri. Leluhur saya di katakan adalah seorang di ranah Tranformasi tahap 5 yang hebat. Bahkan di antara tahap 5 lainnya leluhur saya bisa di katakan tak terkalakan." Hangwe berkata dengan bangga.


"Lalu kenapa anda tidak mempelajarinya." Tang berbicara dengan tidak percaya. Sebagai orang yang sering ke kota dia secara alami akrab dengan Hangwe. Tapi dia tidak pernah berharap kalo Hangwe punya latar belakang yang mengesankan.


Hangwe hanya menghela nafas sedih. "Ha mau bagaimana lagi, menjadi ahli beladiri bukan cuma masalah tekad tapi juga bakat. Setidaknya anda harus bisa merasakan qi. Jika tidak bisa merasakan qi bagaimana anda bisa berlati?"


Luye yang hanya menyimak dari tadi sedikit membenarkan pernyataan Hangwe. Bahkan pada saat di bumi dari 7miliyar manusia hanya ribuan yang benar-benar bisa berlati.


"Apakah sesulit itu?" Tang hanya bisa terperanga.


"Begitulah, aku bahkan sudah menyerah pada saat-saat awal, berbeda dengan nak Luye dia adalah orang beruntung yang di pilih surga. Itu benar-benar membuatku iri." Hangwe berbicara tesenyum.


"Anda tidak perlu berkecil hati paman." Luye tidak tau harus berkata apa, jadi dia hanya mengatakan kata-kata menghibur.

__ADS_1


Selama mereka berbicara mereka ahkirnya sampai di kota. Pada saat ini hari sudah mulai sore. Walaupun mereka hanya menggunakan kereta kuda tapi tetap saja kelelahan.


Setelah membayar beberapa koin perak Tang langsung melaksanakan tugasnya untuk menjual daging. Daging itu laku keras dia tidak perlu menjualnya ke pembeli langsung. Dia hanya menjualnya ke pengumpul jadi setelah 1 jam dia sudah kembali.


"Bos ini adalah sisanya 763 koin emas." Selama dia berbicara dia melemparkan 1 kantong kain berwarna coklat.


"Apa kamu sudah mengambil bagianmu?" Luye menangkap kantong itu.


"Aku sudah." Tang menjawab dengan senyum cerah. Jelas kalo keuntungannya lebih besar dari biasanya.


"Kalo begitu karena kesepakatan kita telah berahkir kita akan berpisah disini." Kata Luye sambil memasukan kantong koin ke saku celananya.


"Apakah anda tidak kembali ke desa?" Tanyanya dengan Kawatir. Lagi pula jika ada orang kuat yang membantunya untuk berburu, itu akan sangat nyaman. Terlebih lagi keselamatannya akan terjamin.


"Aku tidak bisa, terima kasih atas tawaran anda." Sambil menangkupkan tinju Luye menolak ajakan Tang dengan sopan. Dia tidak bisa harus di kekang di desa kecil itu. Dia adalah ikan emas yang ingin melompat keluar kolam untuk menjadi naga. Bagaimana mungkin dia tinggal di desa kecil itu yang bahkan tidak punya ahli beladiri satupun.


"Tidak masalah, kalo begitu aku duluan." Ada ekpresi menyesal di wajahnya, namun setelah di tolak dia tidak bisa memaksa, dia hanya bisa dengan enggan pergi.


Melihat Tang pergi Luye berbalik pergi juga.


Karena ini masih tidak terlalu malam beberapa toko masih terbuka. Luye pergi ke toko-toko yang menjual makanan untuk mengisi perutnya.


Buat dia yang hanya makan daging bakar di hutan, menganggap makanan di kota sangat enak. Dia melompat ke sana kemari, membeli makanan, berteriak pada penjual meminta porsinya di tambah.


Beberapa makanan tebang berhamburan karena cara makannya yang bruntal. Mulutnya sekarang berantakan, beberapa nasi bahkan menempel di sisi matanya. Perilakunya hanya akan membuat pelanggan lain ketakutan.


"Ibu apa yang di lakukan kakak itu?" Seorang anak kecil menunjuk ke arah Luye. Ekpresinya penuh ketakutan.


Ibu cantik itu juga tidak tau harus berkata apa. Dia mentap ke arah Luye dengan jijik. Kemudian menatap putranya penuh kasih sayang. "Kita cari tempat lain saja, nak."


"Uhm." Anak itu tidak bisa tidak setuju. Jika dia tetap disini siapa tau monster makanan itu akan memakan dirinya. Mungkin jika makanan di sini sudah habis bisa saja moster itu mencari anak kecil. Orang-orang bilang kalo monster suka makan anak kecil. Di katakan daging mereka lebih lembut dan mudah untuk di kunya.


Memikirkan ini membuatnya merinding ketakutan. Dia pun segera memeluk ibunya dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Ah benar-benar mengenyangkan, makanan di kota benar-benar enak." Berbaring di pinggir jalan Luye menghela nafas puas sambil mengelus-elus perutnya yang sekarang sedikit buncit.


Dia langsung bangkit berdiri. "Baiklah, saatnya untuk mencari penginapan."


Luye segera memasuki penginapan. Ini adalah rumah besar dan terdapat tulisan 'Penginapan Anggrek' di luar.


"Selamat datang di penginapan anggrek, ada yang bisa saya bantu." Setelah masuk ke dalam seorang resepsionis langsung melayaninya dengan sopan.


Dia adalah seorang gadis cantik dengan lekuk tubuh yang menawan. Rambutnya di biarkan terurai jatuh seperti air terjun di punggungnya.


Luye sedikit terpesona beberapa saat, segera setelah itu dia menenangkan diri. "Beri aku 1 kamar untuk 1 malam dan bak mandi."


Gadis itu segera mengambilkan kunci lalu mengatakan. "Totalnya 7 koin perak tuan."


Luye segera memberinya 7 koin perak sebagai pembayaran. Setelah berkeliling di sini dia tau berapa nilai uang di sini. 1 koin emas \= 10 koin perak dan 1 koin perak \= 10 koin perunggu.


7 koin perak sama dengan 70 koin perunggu.


"Apa anda tidak menginginkan hal lain tuan?" Saat Luye hendak pergi tiba-tiba resepsionis itu berkata dengan genit. Bibir merahnya mengeluarkan nafas manis yang membuat Luye ingin mengigitnya.


"Hal lain?" Luye berpura-pura polos. Bertanya dengan rasa ingin tau.


"Tentu saja jika anda menambah beberapa koin, saya bisa menyuru pelayan untuk melayani anda, menggosok punggung anda." Sekarang resepsionis itu menyangga dagunya dengan kedua tangan, bulu mata yang panjang membuat kilau menarik, itu berkedip membuatnya terlihat menawan.


"Pelayan?" Luye melihat seperti ini menarik. Tiba-tiba dia tersenyum kepada gadis itu dan membelai pipinya. "Apakah aku bisa mendapatkanmu?"


Mendengar kata-kata ini membuat gadis itu berdiri. Dia menundukan kepala tidak ingin melihat Luye. Wajahnya merah cerah dan dengan malu-malu dia besuara seperti nyamuk. "Ka..kamu...bis...!"


"Lupakan saja aku hanya ingin mandi." Sebelum gadis itu bisa mengatakan sesuatu. Luye melambaikan tangan dan segera pergi.


Melihat ini, gadis itu tau kalo Luye hanya menggodanya. Dia menatap ke arah kepergian Luye dengan kebencian.


"Pria bau sialan." Dia mengepalkan tangannya dan meninju meja karena frutasi.

__ADS_1


"Aduhh." Sepertinya tangannya yang kesakitan, setelah itu dia mengangkat tangangnya dan meniup-niupnya berharap rasa sakit itu segera hilang.


__ADS_2