
kanza masuk ke dalam kamar rawat rama. kanza terus menangis melihat keadaan rama, kanza mengengam tangan rama dan mencium tangannya.
"kakk". panggilnya dengan suara pelan.
"sadar dong kakk... kanza mohon jangan seperti ini... kanza gak sanggup melihat kakak seperti ini". isak kanza berderai air mata.
"bukan kah kakak pernah mengatakan akan buat aku bahagia dan gak akan membuat aku menangis lagi... sekarang kakak lah yang buat aku menangiss...". kanza terus mencium tangan rama.
kanza sesekali menghela nafasnya. "huhh...!! sampai kapan kakak tidur teruss... ayo bangunn.. nabila nyariin kakakkk.. apa kakak gak merindukan nabila... apa kakak gak lelah tidur trruss.. buka mata mu kakk". tangis kanza pecah.
ting
ting
ting
tiba tiba monitor jantung rama terdengar begitu nyaring dan cepat. terlihat dari sudut mata rama menetes air matanya di sana.
"kak ramaa". pekik kanza.
__ADS_1
"kak kakak baik baik saja kan". kanza mulai panik.
karna takut kanza menekan tombol untuk memanggil dokter...
tak berapa lama dokter masuk dan di ekori tuan zeno. wajah tuan zeno sangat dingin menatap arah kanza. tangannya langsung menarik paksa kanza pergi dari situ.
"paman...!! saya masih mau di sini jagain kak rama". pintanya memohon.
"apa yang sudah kau lakukan... peergi dari sini, dan menjauhlah dari putraku.. mulai hari ini dan seterusnya jangan menemui rama lagi.. aku tak ingin anak ku terluka lagi gara gara kamu". ucap tuan zeno.
"paman".
tuan zeno mendorongnya keluar dari kamar rama. tristan langsung menangkap tubuh kanza yang hampir terjatuh.
"saya tidak kenapa kenapa tuann.. saya baik baik saja.. tapi kak rama, kakk ramaa". kanza terisak isak.
"saya minta anda pergi dari sini... ". usir tuan zeno.
"paman... saya mohon biarkan saya menemani kak rama". ucap kanza memohon.
__ADS_1
"saya bilang... saya tidak ingin melihat wajahmu lagi. pergi dari sini atau saya panggilkan satpam untuk mengusir mu". gertak tuan zeno penuh amarah.
"nona kanza sebaiknya kita pergi dari sini". ucap tristan.
"ta tap". jari telunjuk tristan menekan bibirnya.
"ayo nona kanza".
kanza menghela nafasnya dan mengangguk pelan.. tristan menarik tangan kanza dan membawanya pergi dari tempat itu. di dalam mobil kanza terus terusan menangis.
"sudah lah nona kanza... tuan rama akan baik baik saja". bujuk tristan menenangkan kanza.
"ini semua karna saya tuan... andai saja kak rama tidak menolong ku... yang terbaring di sana bukan lah dia tapi saya". isak kanza.
"semua sudah takdir nona kanza... itu semua bukanlah salah mu, semua sudah kehendak tuhan. jangan lagi menyalahkan diri anda". ucap tristan dengan bijak.
tristan membawa kanza kedalam pelukannya. kanza tak menolak karna ia begitu membutuhkan pelukann seseorang untuk menenangkannya.
"kenapa saya selalu hidup menderita, saya lelah tuann. saya hanya ingin bahagia hidup dan tenang dengan bersama orang orang yang saya sayangi. tapi kenapa sangat sulit meraasakan ke bahagiaan itu". ucap kanza berderai air mata.
__ADS_1
"nona kanza, percayalah. tuhan memberi anda ujian ini karna tuhan percaya anda wanita yang kuat, dan tegar dan akan melewati ujian darinya. percayalah nona kanza semua akan indah pada waktunya. air mata yang keluar dari mata mh suatu saat akan berganti dengan banyak ke bahagiaan". ucap tristan sambil mengusap usap punggung kanza.
...Bersambung...