Berlianku Yang Rapuh

Berlianku Yang Rapuh
BUTUH OBAT


__ADS_3

Abah dan Ummi juga semua teman-teman di panti tak menyangka, Yasmeen harus pergi secepat ini. Tapi semua hanyalah takdir yang harus dijalani dengan ikhlas. Meskipun berat juga bagi Yasmeen berpisah dengan keluarga angkatnya yang telah mengasuh sejak kecil, tapi dia harus ikut kemanapun suaminya pergi.


Usai berpamitan dengan semua orang, Yasmeen langsung diboyong ke Jakarta. Mereka berada di mobil yang terpisah. Berhenti sebentar di sebuah rumah makan di rest area.


"Pah, kuat kan nyetir sampe rumah?", seloroh Arya.


"Kebalik dong, harusnya Papah yang nanya. Kamu udah beneran fit kan?",


"Udah sehat dan bersemangat nih pah", jawab Arya.


"Yaudah, pesen Papah cepet kasih kami cucu",


"Siap pokoknya! Mah, Pah terimakasih selalu dukung Arya. Terimakasih udah percaya sama Arya, kita langsung ke apart ya nanti. Banyak kerjaan yang perlu Arya cek", jelas Arya.


"Iya, Mamah ngerti. Kalian hati-hati dijalan ya. Santai aja nyetirnya",


"Mamah Papah juga hati-hati di jalan ya", ucap Yasmeen.


Mereka saling berpamitan kemudian berpisah untuk kembali ke kediaman masing-masing. Papah membunyikan klakson tanda ingin berangkat lebih dulu. Baru beberapa menit Arya bersiap masuk ke mobil dia menemukan sebuah pesan masuk yang berbunyi :


'Mendengar kamu sekarang telah bersama wanita lain, rasanya lebih sakit daripada saat kamu meninggalkan aku Ya'.


Netranya membulat, napasnya kasar namun Arya mencoba untuk tetap tenang. Namun tidak bereaksi apapun dihadapan Yasmeen. Untuk sekian lama dia sudah tidak pernah kontak dalam bentuk apapun dengan si pengirim pesan.


"Mas Arya kenapa? Pusing", seolah bisa merasakan sesuatu yang sedang tidak beres, firasat Yasmeen begitu kuat.


"Ah nggak kok sayang, cuma agak ngantuk aja", jawab Arya.


"Mas Arya mau istirahat dulu?", tanya Yasmeen.

__ADS_1


"Mmm istirahat ya sayang? Boleh juga.. Kayaknya mas memang butuh istirahat dulu nih", tiba-tiba terbersit ide cemerlang di kepala Arya.


"Kalo gitu kita cari tempat dulu ya sayang? Gimana menurut Yasmeen?", lanjut Arya.


"Iya mas, jangan dipaksa ya", jawab Yasmeen polos.


Bermodalkan aplikasi Arya coba mencari hotel terdekat dengan rating yang bagus. Perjalanan dari rest area hanya sekitar 10 menit menuju ke hotel. Langsung memesan kamar terbaik di sebuah hotel bintang 5 yang berlokasi di perbatasan Jakarta.


"Mas, tapi katanya tadi mas banyak kerjaan di rumah?", tanya Yasmeen masih dengan raut wajah polos khas dirinya.


"Sebentar aja kok sayang, nanti sore kita teruskan perjalanan", jawabnya.


Mereka masuk ke kamar type superior kemudian Arya segera merebahkan tubuhnya. Sementara Yasmeen masih sibuk memandangi sekeliling.


"Sini sayang, Yasmeen juga istirahat dulu", pinta Arya dengan menepuk-nepuk telapak tangannya diatas bantal.


Yasmeen yang telah sepenuhnya menjadi istri yang penurut lalu mengikuti sang suami naik ke atas ranjang. Aktivitas yang masih sama seperti malam hari saat mereka hendak pergi tidur. Mereka berhadapan satu sama lain, Arya membelai-belai rambut Yasmeen sesekali mengecup keningnya.


"Mau dong Mas, Yasmeen maunya Mas Arya sehat terus. Mas jangan sakit lagi ya?", jawab Yasmeen.


"Mas masih sakit, harus cepat disembuhin. Sekarang Mas Arya sedang butuh obat sayang",


"Oh iya, Yasmeen ambil dulu obatnya di tas ya mas?",


"Bukan obat yang itu.. Obatnya pelukan Yasmeen", ucapnya dengan manja.


"Dipeluk?", tanya Yasmeen dengan kikuk.


"Iya.. Sama dicium di sini", Arya menunjuk keningnya.

__ADS_1


Dengan malu-malu Yasmeen melakukan sesuai yang diminta oleh suaminya.


"Sudah?", tanya Yasmeen.


"Lagi, yang sini belum", jawab Arya sembari menunjuk kedua pipinya.


Yasmeen melakukannya lagi. Kali ini dia lanjutkan dengan membelai-belai rambut ikal suaminya. Lalu mengelus-elus pipi Arya yang sedikit kasar karena bulu rambut yang mulai tumbuh. Mereka beradu pandangan sambil tersenyum.


"Yasmeen sayang ya sama Mas?",


"Sayang..", jawabnya lirih.


"Kalo sayang, Yasmeen mau nggak bantu mas berlindung dari godaan syaitan?", tanya Arya dengan wajah yang serius.


"Memangnya gimana cara Yasmeen bantu Mas Arya",


"Yasmeen baca doa : Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa (doa sebelum berhubungan suami istri ",


Yasmeen mengikuti apa yang diminta Arya tanpa tau maksudnya. Lalu terjadi lagi, adegan disaat Yasmeen pertama kali merasa seperti melambung tinggi. Diamatinya wajah gadis bule itu tenang tanpa penolakan seperti sebelumnya. Tanda dirinya telah siap.



Yasmeen begitu sulit ditembus dengan miliknya yang diatas rata-rata ukuran orang Indonesia. Dia sempat menjerit namun tak lagi ditahannya. Sebab di kamar ini aktivitas mereka bebas dari pendengaran orang.


Kali ini mereka seri. Hasrat yang telah lama Arya kekang, siang itu terlampiaskan dengan halal. Entah bagaimana mereka mengawalinya, yang jelas mereka harus membayar charge untuk setitik noda darah diatas sprei yang putih.


"Sakit sayang?", tanya Arya dengan suara baritonnya yang sexy, setelah permainan selesai.


Yasmeen hanya mengangguk. Dia masih belum mengerti bagaimana bisa suaminya membuat dirinya menangis dan senang secara bersamaan.

__ADS_1



__ADS_2