Berlianku Yang Rapuh

Berlianku Yang Rapuh
PERTEMUAN YANG TAK DISANGKA


__ADS_3

. . .


Siang itu, Arya sedang berjalan di Jewel Changi Airport. Tanpa ia sadari ada seseorang yang mengenalinya dari jauh, Alyna. Dia yang melihat Arya langsung merasa bungah, namun ia juga tahu bahwa perasaannya tak bisa terbalas.


Alyna berjalan perlahan menghampiri lelaki yang menolak cintanya itu,


"Arya! Apa kabar?" sapanya dengan senyuman yang mencoba menutupi kecanggungannya.


Alyna merasakan atmosfer berubah seketika setelah Arya menoleh padanya dan menyadari bahwa sempat terjadi kekacauan karenanya. Wajah Arya yang sebelumnya sopan dan tenang kini berubah menjadi kecut, dan matanya menatap tajam ke arah Alyna. Seakan ada api kemarahan yang menyala di dalam dirinya.


"Apa yang kau lakukan, Alyna? Kamu membuntuti ku ke sini?!" desis Arya dengan suara yang penuh dengan kekesalan.


Alyna merasa gemetar dan mencoba menjelaskan, "Nggak Ya! Sumpah! Aku nggak tahu kamu ada di sini. Aku... aku hanya ingin jujur padamu. Maaf, jika ini membuatmu marah."


"Mengapa kau harus melakukan hal itu? Aku sudah memiliki keluarga dan istri yang kucintai, dan kau tahu itu!" bentak Arya dengan nada yang meninggi.


Tangis tertahan hampir keluar dari bibir Alyna, tapi dia berusaha tegar meskipun hatinya hancur. "Aku tahu, Arya. Aku tahu kau sudah menikah, tapi aku tak bisa mengendalikan perasaanku."


"Kau tak bisa mengendalikannya? Ini adalah hal yang keterlaluan dan tidak pantas!" jawab Arya dengan suara keras.


Alyna mencoba menjelaskan dengan hati-hati, "Aku tahu perasaanku takkan terbalas, tapi aku tak bisa menyembunyikan ini lagi. Maaf, jika aku mengganggumu."


"Maaf? Apakah itu semua yang bisa kau katakan setelah menyatakan perasaan yang tidak pantas ini?" balas Arya dengan sinis.


Alyna merasa terhina dan merasa seperti berada di bawah tekanan yang luar biasa. Dia tahu dia telah membuat kesalahan dengan mencium Arya tiba-tiba, tetapi dia benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


"Aku sangat menyesal, Arya. Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu. Tapi kamu lebih lama mengenalku Ya! Tolong jangan bersikap seolah-olah aku ini orang asing!" ucap Alyna sambil menahan tangis.


"Kurasa lebih baik kita berhenti berbicara sekarang. Aku butuh waktu untuk merenungkan semuanya," ujar Arya dengan wajah yang masih penuh dengan amarah.


"Maafkan atas sikapku Ya", bisik Alyna.


"Aku mungkin akan memaafkan mu untuk ci*man waktu itu! Tapi bagaimana kau jelaskan soal foto kita Alyna?! Kamu dengan sengaja mengirimnya pada istriku?! Apa yang kamu harapkan dari itu hah?!", bentak Arya.


"Aku akan melakukan apapun untuk menebus kemarahan mu Ya.. Tolong jangan benci aku", kata Alyna.


"Maaf, aku harus pergi sekarang..", Arya berlalu dari sebelah tempat Alyna berdiri.


Alyna mengangguk lemah, terluka dengan reaksi Arya, tapi dia merasa mengerti bahwa Arya butuh waktu untuk meresapi semua yang telah terjadi. Dan dia pun menyadari bahwa perbuatannya tidak menguntungkan bagi pihak manapun, termasuk dirinya sebagai pelaku.


Kesan marah Arya sangatlah kuat, karena dia merasa kehadiran Alyna dan perasaan yang ia ungkapkan mengancam keharmonisan hubungannya dengan Yasmeen. Perasaan bingung, marah bercampur iba bertaburan di hatinya, membuatnya kesulitan menghadapi situasi yang tidak diinginkannya.


Pertemuan tak terduga dengan Alyna telah meninggalkan luka yang mendalam di hati Arya dan meninggalkan pertanyaan rumit tentang perasaan dan komitmen dalam hubungannya dengan Yasmeen.


. . .


Salah satu kegiatan bisnis Arya di Singapore adalah menjalin kolaborasi dengan sebuah produk herbal dari sana yang terkenal akan brand-nya. Namun sungguh diluar perkiraan. Dalam sebuah sesi meeting dipertemukan lagi dengan Alyna secara tak terduga di sebuah acara perusahaan.


Benar, Alyna adalah seorang dokter. Namun dia juga sebagai influencer yang cukup terkenal dengan gaya hidupnya yang sehat.


Seharusnya mereka berbicara tentang strategi pemasaran dan peluncuran produk baru. Namun suasana menjadi tegang ketika mereka berdua berhadapan. Arya mencoba untuk tetap profesional, tapi rasa marahnya terhadap Alyna tidak bisa dihindari. Perasaan campur aduk Arya antara ketegangan profesional dan ketidakmampuannya mengendalikan perasaannya terhadap Alyna.

__ADS_1


Sementara itu, Alyna merasa berat melihat Arya yang canggung dan marah padanya. Alyna ingin menyingkir dari situasi yang sulit ini, namun keterlibatannya dalam proyek kolaborasi ini membuatnya merasa bertanggung jawab untuk berbicara dengan Arya. Arya menatap Alyna dengan penuh ketegangan.


"Aku rasa kita perlu membicarakan beberapa hal sebelum kita lanjutkan dengan proyek ini", Arya memulai pembicaraan.


Alyna tersenyum ramah, namun sedikit gugup. "Tentu, Arya. Apa yang mau kamu sampaikan sekarang?",


"Aku nggak menyangka, kita ketemu lagi di sini. Kamu tahu, ini adalah proyek besar bagi perusahaan kami dan aku ingin semuanya berjalan dengan lancar. Tapi aku harus jujur, rasanya agak sulit bagi ku bekerja denganmu setelah apa yang terjadi", jelas Arya.


"Aku juga merasa terbebani oleh situasi ini, Ya. Maafkan aku kalau yang telah menyebabkan ketidaknyamanan,"


"Aku juga tidak berharap hal ini terjadi, tapi rasanya sulit untuk menghadapinya",


"Aku paham, Arya. Dan aku janji akan menghargai batasan antara hubungan pribadi dan profesional kita. Kolaborasi ini penting bagi kita berdua, dan aku nggak ingin masalah pribadi menghalangi kesuksesan proyek ini", terang Alyna.


"Aku tahu bahwa kamu juga profesional dan berbakat, aku nggak nyangka profesimu sekarang bergeser sampai kamu dipilih sebagai model untuk proyek ini. Tapi aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik untuk proyek ini", Arya mulai melunak.


Dari saat itu, suasana menjadi lebih ringan di antara Arya dan Alyna. Namun secara bersamaan Arya juga merasa bingung. Apakah dia harus menceritakan hal ini pada Yasmeen atau tidak. Arya khawatir ini akan menggangu perasaan Yasmeen yang sedang jauh darinya dengan kondisi hamil muda.


. . .


"Aku nggak nyangka kita akan ketemu di sini Arya, ini benar-benar diluar perkiraanku. Sepertinya aku harus memainkan peranku lebih baik lagi, aku tidak boleh main kasar", gumam Alyna.


Ternyata Alyna masih menginginkan Arya. Kali ini sepertinya dia akan bermain lebih rapi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2