Berlianku Yang Rapuh

Berlianku Yang Rapuh
RINDU ITU BERAT


__ADS_3

. . .


"Yasmeen mau ikut mas..", rengeknya.


"Sayang, doakan pekerjaan mas cepat selesai ya, biar bisa cepat pulang", belai Arya.


Selama Arya ke Singapore Yasmeen akan tinggal di rumah mertuanya. Perkiraan suaminya akan kembali dalam waktu 2 pekan.


Semua mengantar keberangkatan Arya dari bandara Soekarno Hatta. Pesawat delay 30 menit diakibatkan cuaca yang mendung. Keadaan ini membuat orang tua Arya khawatir.


"Banyak-banyak berdoa nanti ya nak, cuacanya lagi nggak bersahabat", pesan Mamah.


"Iya mah, mamah doain Arya juga ya",


"Pasti nak..",


"Mas, jangan berangkat sekarang.. Gimana kalau ditunda besok?", bujuk Yasmeen.


"Nggak bisa dong sayang, mas mohon Yasmeen jaga kesehatan ya. Doain mas juga supaya selamat sampai kembali ke rumah", pinta Arya.


Dasar Yasmeen si melankolis. Ditambah kondisinya yang tengah berbadan dua semakin membuat perasaannya sensitif. Selama kehamilannya dia sering bertingkah kekanakan.


Sudah waktunya Arya check in. Dia lalu berpamitan dengan orang tua dan istrinya. Penumpang lain juga sedang bergegas. Saat Arya mengecup kening Yasmeen ada seorang penumpang yang memutar playlist lagu. Speakernya yang belum tersambung ke headphone membuat sekitarnya bisa mendengar:


🎵Waktu telah tiba


Aku 'kan meninggalkan


Tinggalkan kamu 'tuk sementara


Kau dekap aku

__ADS_1


Kau bilang jangan pergi


Tapi kuhanya dapat berkata


Aku hanya pergi 'tuk sementara


Bukan 'tuk meninggalkanmu selamanya


Aku pasti 'kan kembali 🎶


Mendengar sinkronisasi lirik itu. Yasmeen menengadahkan wajahnya yang berada tepat dibawah dagu Arya, dengan mata yang berkaca-kaca ia berkata "Mas cepat pulang",


"Iya sayang, mas akan cepat pulang. Mas Arya berangkat sekarang ya", Arya mengecup kening Yasmeen sekali lagi sebelum bergegas meninggalkan boarding lounge. Melambaikan tangan ke arah istri dan orangtuanya hingga tak terlihat lagi dari jangkauan pandang Yasmeen.



Setelah terakhir kali berbicara dengan Yasmeen. Arya mengangkat tasnya dan berjalan menuju pintu pesawat dengan perasaan campur aduk. Dia mencoba merasa tenang dengan pikiran bahwa dia akan segera kembali dan sebentar lagi mereka akan berdua menikmati kebahagiaan sebagai orang tua.


Pesawat lepas landas dan Arya terbang di atas awan putih. Dia melihat keluar dari jendela, memandangi awan dan berpikir tentang bagaimana Yasmeen pasti merasa kesepian tanpanya. Meskipun dia yakin Yasmeen memiliki dukungan dari orang tuanya di rumah, perasaan cemas tetap menyelinap masuk ke dalam hatinya.


Setelah beberapa jam penerbangan, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Changi di Singapore. Arya mengambil telepon pintarnya dan menyadari bahwa Yasmeen telah mengirim beberapa pesan kepadanya. Memastikan bahwa penerbangannya lancar sebab tadi cuaca sempat mendung. Dia segera menghubungi Yasmeen melalui video call, berharap bisa melihat wajah manisnya.


Namun Yasmeen malah menolak panggilan video itu dan menggantinya dengan telepon biasa. Suara Yasmeen terdengar parau dan mencerminkan perasaan cemas.


"Sayang, kenapa nggak mau mas video call? Mas kangen, mau lihat wajah istri mas", sapa Arya.


"Nggak mau, maunya ngomong aja..", ucap Yasmeen dengan lembut, tapi intonasinya menggambarkan rasa kesalnya.


Arya mencoba meyakinkannya, "Sayang, baiklah terserah Yasmeen. Tapi kalau perasaan Yasmeen sudah baikan telpon mas lagi ya? Mas janji, mas akan selalu memikirkan Yasmeen dan video call setiap hari."


Yasmeen merespon dengan gumaman "Hu um tapi jangan mas terlalu lama di sana, ya? Yasmeen tidak ingin jauh dari mas selama masa hamil seperti ini."

__ADS_1


Arya mengangguk penuh pengertian sambil menjawabnya, "Tentu, sayang. Mas akan mencoba menyelesaikan urusan bisnis secepat mungkin dan pulang ke rumah. Yasmeen dan bayi kita adalah prioritas utama mas, jangan ragu tentang itu."


Yasmeen menggenggam teleponnya erat-erat, "Yasmeen tahu mas bekerja keras untuk keluarga kita. Tolong, mas jaga kesehatan dengan baik di sana, ya?"


"Hmmm harusnya mas yang bilang gitu sayang. Baiklah demi Yasmeen dan bayi kita, mas akan menjaga diri sebaik mungkin," janji Arya dengan penuh cinta.


Selama beberapa hari berikutnya, Arya tetap berhubungan dengan Yasmeen melalui video call setiap hari. Walau terkadang Yasmeen tidak mau menampakkan wajahnya karena habis menangis. Jadi terkadang Arya sambungkan video callnya dari ponsel Mamah. Mereka berbicara tentang segala hal, dari perjalanan bisnis Arya hingga perkembangan kehamilan Yasmeen. Arya selalu berusaha menghibur Yasmeen dan membantunya merasa lebih tenang.


. . .


Setelah Arya pergi ke Singapore untuk pertemuan bisnis, Yasmeen yang tinggal di rumah mertuanya untuk beberapa waktu. Usia kehamilannya yang masih sangat muda seakan memasuki fase kritis, dan dia merasa selalu cemas dan khawatir karena tinggal jauh dari suaminya.


Namun mamah dan papah Arya, yang sekarang menjadi orang tua Yasmeen, sangat peduli padanya. Mereka merawatnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian, memastikan bahwa Yasmeen merasa nyaman dan aman selama tinggal di rumah mereka. Yasmeen merasa beruntung memiliki keluarga mertua yang begitu perhatian dan menyayanginya seperti keluarga sendiri.


Meskipun demikian, Yasmeen sering merasa rindu pada Arya, terutama di malam hari. Saat malam tiba, dia sering bermimpi buruk tentang Arya, seperti mimpi bahwa Arya tidak kembali atau tidak dapat menemuinya. Kondisi emosionalnya yang sedang hamil membuat perasaannya lebih sensitif, dan kekhawatiran akan Arya semakin menguat.


Suatu malam, Yasmeen bermimpi bahwa Arya terjebak dalam situasi bahaya di Singapore. Dia terbangun dengan keringat dingin dan napasnya tersengal. Mamah yang mendengar suara Yasmeen yang ngelindur bergegas memasuki kamarnya.


"Tenang, Nak. Mas Arya pasti baik-baik saja. Dia adalah lelaki yang kuat dan pandai menjaga diri," kata mamah Arya dengan lembut sambil mengelus punggung Yasmeen.


Yasmeen mencoba untuk menenangkan diri, tapi dia merasa rindu pada Arya semakin menguat. "Yasmeen tahu, mah. Tapi rasanya begitu sulit untuk berjauhan dari mas. Yasmeen merindukannya setiap hari," ucapnya dengan suara tergugah.


Mamah Arya tersenyum penuh pengertian, "Mamah mengerti perasaanmu, Nak. Tapi mas pergi ada tanggungjawab yang harus dikerjakan. Setiap hari yang dia lewati di sana, mas pasti merindukanmu juga. Kalian berdua saling menyayangi dan mendukung satu sama lain, bukan?"


Yasmeen mengangguk, "Ya, mah. Yasmeen mencintai mas Arya, dan Yasmeen tahu mas mencintaiku juga. Yasmeen hanya merasa cemas dan rindu."


"Semuanya akan baik-baik saja, Nak. Percayalah pada cinta yang kalian bagi. Arya akan kembali segera, dan kamu berdua akan bersama lagi. Dan yang lebih penting, kamu akan memiliki seorang bayi yang lucu dan sehat sebagai buah cinta kalian," kata mamah Arya dengan penuh harapan.


Yasmeen tersenyum lembut, merasa didukung dan diberikan kepercayaan. "Terima kasih, Mamah. Yasmeen beruntung memiliki keluarga seperti kalian yang selalu peduli."


"Kami juga merasa beruntung memilikimu sebagai menantu, Yasmeen. Kamu adalah anugerah bagi keluarga kami," ucap mamah Arya sambil tersenyum.

__ADS_1


Hari-hari berlalu, dan Yasmeen terus berjuang melalui masa-masa keterpisahan ini dengan kuat dan sabar. Setiap kali dia merasa rindu dan cemas, dia berdoa untuk keselamatan suaminya di negeri seberang.


. . .


__ADS_2