
"Arya segera pulang, Pah. Tolong beritahu Yasmeen bahwa saya sangat merindukannya dan akan selalu ada di sisinya," ucap Arya, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Setelah mengatur perjalanan pulang, Arya segera menuju bandara dan terbang ke Indonesia untuk bersama dengan Yasmeen. Di tengah penerbangan, ia tak henti-hentinya memikirkan bagaimana Yasmeen harus menghadapi keguguran ini tanpa kehadirannya di sampingnya.
. . .
Setelah mengurus hal-hal yang diperlukan, Arya berangkat ke bandara dengan hati yang berat dan harapan untuk bertemu Yasmeen secepat mungkin. Pesawat lepas landas dan perjalanan menuju Indonesia dimulai. Arya merenungkan momen bahagia mereka bersama dan berdoa agar semuanya akan baik-baik saja.
Setelah tiba di Indonesia, Arya langsung menuju rumah sakit tempat Yasmeen dirawat.Dengan hati yang berdebar, Arya tiba di rumah sakit setelah perjalanan yang panjang dari Singapura. Ia langsung menuju ruangan tempat Yasmeen dirawat. Di sana, dia disambut oleh Papah dan Mamah yang memberikan dukungan moral. Tanpa di duga Om Rudolf justru telah tiba di rumah sakit terlebih dulu. Berbeda dengan Mamah dan Papah, Rudolf justru menampakkan wajah yang sinis. Arya yang berusaha menyalami Rudolf mendapatkan respon yang kurang mengenakkan.
"Cepat masuk! She needs you!", bentak Rudolf.
"I'm sorry om, this is my fault..", runtuk Arya menyesali keadaan.
Rudolf bukannya tidak menyukai Arya yang menikahi keponakan satu-satunya yang dia miliki. Namun perangainya yang seperti itu hanyalah karena dia terlalu menyayangi Yasmeen dan memanjakannya.
Arya merasa sedikit tenang ketika mendengar bahwa kondisi Yasmeen baik-baik saja. Di sana, dia melihat istrinya terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Detak jantungnya semakin cepat, campur aduk antara kekhawatiran dan kelegaan karena akhirnya bisa berada di sisi Yasmeen.
"Sayang, mas di sini," gumam Arya dengan suara lembut sambil duduk di samping tempat tidur Yasmeen. "Maafkan mas karena tidak bisa datang lebih cepat."
Dia menggenggam tangan Yasmeen dengan lembut dan menciumnya di kening. Tatapan matanya penuh dengan perasaan cinta dan rasa khawatir.
"Mas sudah sangat merindukanmu, sayang," lanjutnya. "Semoga kau cepat pulih, dan semoga kita bisa melewati ini bersama-sama."
Tapi tak ada jawaban dari Yasmeen. Dia masih terbaring tanpa sadar, dan itu membuat Arya semakin gelisah. Dia ingin Yasmeen bangun dan memandangnya seperti biasanya, namun kenyataan menyatakan lain.
"Mas akan selalu ada di sini untukmu, sayang," ucap Arya lagi. "Kita akan melalui semua ini bersama-sama, seperti yang selalu kita lakukan."
Arya merasa hatinya berat, karena dia tak tahu pasti apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia ingin menguatkan Yasmeen, tetapi di saat yang sama, perasaannya juga campur aduk karena kehilangan yang mereka alami.
"Dokter bilang kau akan baik-baik saja," kata Arya dengan suara lirih. "Yasmeen harus kuat, sayang. Mas butuh Yasmeen di sini, kita masih memiliki banyak masa depan yang harus kita jalani bersama."
Arya memandangi wanita yang usianya 20 tahun lebih muda darinya itu, cinta mereka tetaplah yang mengikat mereka satu sama lain. Dia akan tetap menjadi pendamping dan pelindung Yasmeen, tak peduli apa yang terjadi.
"Saya mencintaimu, Yasmeen," bisik Arya. "Tolong cepat pulih dan kembali padaku."
Dia duduk di sana, berpegangan erat pada tangan Yasmeen, menunggu dengan sabar, berharap bahwa istrinya akan segera sadar.
. . .
Suasana di lorong rumah sakit terasa tegang, dengan para perawat dan dokter yang sibuk berjalan ke sana kemari. Di tengah hiruk-pikuk itu, Arya tengah berjalan keluar dari ruangan tempat Yasmeen di rawat menuju kantin. Hatinya penuh kekhawatiran dan penyesalan karena Yasmeen masih belum sadar. Dia berharap bisa meredakan kesedihan dan rasa bersalahnya.
Namun, ketika Arya berbelok di salah satu sudut lorong, hatinya hampir berhenti ketika melihat seseorang di hadapannya. Itu adalah Daniel. Mata mereka bertemu, dan suasana menjadi canggung di antara mereka.
"Arya," panggil Daniel dengan suara rendah, mencoba meredakan ketegangan.
Arya menghentikan langkahnya dan membuang muka.
"Rania di sini bro, lo ke sini buat dia kan?", tanya Daniel lagi yang belum mendapatkan respon dari Arya.
__ADS_1
"Istri gue lagi di rawat di sini", jawab Arya singkat.
"Kenapa bro? Istri lo sakit apa?", tanya Daniel yang masih berusaha mencairkan suasana.
"Bukan urusan lo!", ketus Arya. Arya hampir saja meneruskan langkahnya sebelum Daniel berhasil menggenggam lengannya.
"Bro, kasih gue kesempatan sekali ini.. Kali ini aja untuk Rania bro", Daniel memohon dan berhasil membuat Arya mendengarkannya.
Tiba-tiba Daniel berlutut di hadapan Arya. Ditengah-tengah orang yang sedang beraktivitas di lorong rumah sakit. Beberapa orang memandangi mereka dengan aneh. Membuat hati Arya sedikit luluh.
"Lo ngapain sih Dan?", Desis Arya dengan kesal.
"Gue mohon kali ini bro, istri lo ada di rumah sakit yang sama dengan tempat Rania di rawat. Dengan segala kerendahan hati gue memohon, temuin Rania sekali aja bro", pinta Daniel dengan gigih.
"Bangun lo..", jawab Arya singkat.
Daniel bangun dari tempatnya berlutut. Hati Arya mulai melunak. Mereka diam sejenak dan memutuskan untuk berbicara di kantin.
"Gue salah.. Gue yang salah di sini bro. Gue terima kalo selamanya lo nggak bisa maafin gue. Tapi tolong maafin Rania. Gimanapun takdir yang udah menjadikan kita kaya gini bro. Kita cuma bisa menerima kondisi sekarang. Gue turut bahagia atas pernikahan lo saat ini, Tuhan pasti memilihkan yang terbaik buat lo", ucap Daniel panjang lebar.
Arya menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Lo pinter banget ceramah sekarang. Tapi lo bener kok, Tuhan memberikan yang terbaik buat kita. Buat gue.. Gue emang belum bisa sepenuhnya maafin lo. Tapi lo bener, buat apa gue memendam bara api terus menerus sementara Tuhan udah mengirimkan obat buat gue",
Daniel mengangguk pelan. Dia tak berani menatap Arya sepenuhnya. Membaiknya hubungan mereka akhirnya membuat Arya mau menemui Rania barang sebentar. Mereka menuju ke kamar tempat Rania dirawat.
"Ran.. Lihat siapa yang dateng", ucap Daniel lirih.
"Rania, kamu baik-baik aja?", sapa Arya sedikit gugup.
"By aku kangen kamu..", sosor Rania yang langsung bangkit dari tempat tidur untuk memeluk Arya.
"Ran..", tukas Arya yang tak kuasa mengelak keadaan ini. Arya menengok kepada Daniel dengan isyarat kebingungan. Daniel hanya bisa mengangguk.
"By, akhirnya kamu dateng.. Aku kangen banget by.. Kamu kemana aja?", tangis Rania yang sedang mengalami depresi.
"Ran, please jangan begini..", elak Arya yang menjauhkan tubuh Rania. Arya lalu mendudukkan Rania ke ranjang seperti semula.
Rania tetap berusaha memegang tangan Arya. Dia menganggap Arya masih menjadi suaminya.
"By aku sayang kamu, jangan pergi lagi by..",
"Ran.. Jangan begini, aku udah menikah Ran.. Aku sudah punya istri", ucap Arya berharap Rania mengerti. Arya sangat bimbang. Dia tahu Yasmeen akan terluka jika mengetahui soal ini.
"Aku istri kamu by.. By.. Bawa aku pulang", racau Rania.
"Sayang, Arya cuma mampir sebentar. Dia mau lihat keadaan kamu", Daniel duduk di pinggir ranjang dekat Rania berbaring untuk mengalihkan perhatian Rania.
"Ran, kamu harus cepat sembuh. Kasihan Daniel Ran.. Dia tulus mencintaimu", terang Arya.
Rania menundukkan wajahnya. Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan. Mulai menyadari kenyataannya saat ini, bahwa dia telah dinikahi oleh Daniel.
__ADS_1
"Aku pamit dulu, aku harus jagain istriku", tegas Arya.
"Bro, makasih banyak udah mau jenguk Rania", jawab Daniel.
Arya menepuk bahu Daniel, seolah mengisyaratkan bahwa amarahnya atas kesalahan masa lalu dua orang itu telah mampu ia redam. Dia telah mampu menerima kenyataan masa lalunya. Arya meninggalkan kamar Rania dan kembali ke ruangan tempat Yasmeen di rawat.
Rania yang hanya bisa diam sejak Arya pamit dari kamarnya seolah bangun dari ilusi. Menyadari dengan sepenuhnya bahwa sekarang dia memiliki suami yang benar-benar menerima dirinya secara utuh.
"Sayang, kamu harus cepat sembuh.. Nanti kita pulang ke rumah ya", peluk Daniel dengan penuh kasih sayang pada wanita malang itu. Tatapan Rania kosong.
. . .
"Sayang, mas sudah pulang sejak tadi.. Yasmeen bangun ya", bisik Arya pada istrinya yang masih terbaring memejamkan mata.
Dokter bilang Yasmeen kemungkinan mengalami shock atas kehilangan bayinya. Ia sempat kehilangan banyak darah yang membuatnya sempat dalam kondisi kritis.
"Mas..", lirih Yasmeen yang mulai sadar dari tidurnya.
"Ya sayang, mas Arya di sini..", peluk Arya dengan lembut.
"Mas Yasmeen sakit.. Perut Yasmeen sakit", rintihnya.
Tangan Arya menelusup untuk bisa membelai perut Yasmeen dari balik bajunya. Arya menahan air matanya untuk terjatuh agar tidak membuat Yasmeen sedih.
"Sayang.. Yasmeen sabar ya, nanti pasti Allah kasih rejeki lagi untuk kita", kecup Arya sambil mengelus-elus perut Yasmeen.
"Mas, apa Yasmeen baik-baik aja? Apa bayi kita sudah diperiksa sama dokter?", tanya Yasmeen polos. Dia tidak menyadari apa saja yang telah dialaminya.
Arya menghela napas panjang dan air matanya tak tertahankan lagi meleleh dengan hangat. Namun ia masih mencoba untuk tersenyum dihadapan istrinya. Merasa baru saja mengalami banyak hal yang berat, ia mencoba menutupi semuanya dihadapan Yasmeen.
"Mas Arya kenapa nangis? Yasmeen nggak apa-apa kok", lirihnya sambil menyeka pipi Arya dengan lembut.
Arya meraih tangan Yasmeen yang sedang mengusap pipinya dan berbalik menciumnya. Dengan berat hati ia mencoba untuk menjelaskan pada istrinya.
"Sayang, kalau misalnya Mamah menitipkan perhiasan ke Yasmeen, Yasmeen mau terima nggak?", tanya Arya.
"Mau mas..", jawab Yasmeen.
"Lalu kalau sewaktu-waktu Mamah minta perhiasannya tadi, Yasmeen marah nggak?",
"Nggak mas..",
Arya membelai kepala wanita yang dicintainya itu.
"Sayang.. Bayi yang Allah titipkan kedalam perut Yasmeen sudah Allah minta kembali", jelas Arya.
Yasmeen mencoba mencerna kata-kata suaminya. Perlahan air matanya meleleh deras. Ia tak mampu berkata-kata. Arya meraihnya kedalam pelukan dengan lembut dan hangat. Yasmeen hanya bisa terisak tanpa mampu berucap apa-apa dalam pelukan Arya.
Bersambung . . .
__ADS_1