Berlianku Yang Rapuh

Berlianku Yang Rapuh
RANIA 8 TAHUN YANG LALU


__ADS_3

. . .


"Anda positif hamil 30 minggu," ucap seorang dokter kepada Rania.


"Apa, Dok?!" Mata Rania melotot sembari menggelengkan kepala, ia tertawa. "Gak mungkin, Dok! Jangan coba-coba memberi analisa palsu," sambungnya dengan tampang kesal.


"Lihat itu di layar monitor, ini kantong kehamilan anda walau janinnya belum jelas terbentuk." Dokter muda itu menunjuk monitor di samping Rania berbaring.


Rania segera bangkit dari tempat tidur dengan sambil membenarkan bajunya setelah melakukan USG karena keluhan penyakitnya yang ia duga hanya asam lambung saja.


Rania duduk di hadapan sang dokter kandungan, wajahnya masam. Ia tak mempercayai sama sekali diagnosa itu. Ia jengkel karena awalnya ia hanya ingin berobat ke dokter umum saja, tapi dari dokter umum malah dirujuk ke poli kandungan.


"Dok, bagaimana bisa anda mendiagnosa saya hamil sedang saya baru akan menikah?" Rania menatap tajam sang dokter wanita.


"Kalau anda tak yakin dan meragukan diagnosa saya, silakan periksa ke dokter lain." Dokter itu tersenyum sambil menyodorkan surat hasil pemeriksaan.


Rania menghembuskan napas jengkel, dan galau lalu menerima amplop hasil pemeriksaannya. Tanpa mengucapkan terima kasih ataupun tersenyum, wanita dengan setelan jaket dan celana hitam itu keluar dari ruangan sang dokter.


***

__ADS_1


"S14l!" umpat Rania kesal sambil keluar dari mobil dan menutup pintunya keras-keras.


"Bagaimana kalau Arya tau?!",


Dengan wajah masam, Rania melangkah masuk ke dalam rumah, dan tak menoleh saat berpapasan dengan sang ibu tiri di depan pintu.


"Heh anak ular kenapa datang-datang malah manyun gitu?" sapa ibu tirinya sambil berlalu.


"Berisik!" jawab Rania ketus.


Sang ibu tiri hanya tersenyum kecut, lalu keluar dari rumah dan menuju mobil. Hubungannya dengan sang anak tiri memang tak terlalu baik.


Saat memasuki kamar, kucing persia warna coklat itu tidur di atas ranjangnya. Rania memberinya nama Chiko, setiap malam ia akan tidur bersamanya.


***


Seminggu berlalu sejak dokter memvonis hamil pada Rania, ia masih tak mempercayai hal itu, namun belum sempat juga untuk memeriksakan ke dokter lain. Karena dia hanya beberapa kali melakukan hubungan terlarang itu dengan Daniel dan selalu keluar di luar.


"Rania, apa ini? Kamu hamil?!" sambut Wulan, kakak perempuannya saat Rania baru saja masuk ke rumah.

__ADS_1


Rania menatap tajam sang kakak, melihat kertas hasil pemeriksaan miliknya tempo hari bisa berada di tangan sang kakak.


"Sini kamu, jelaskan semuanya kepada kakak!" Wanita setengah baya yang masih terlihat muda itu menarik adiknya untuk duduk di ruang tengah.


"Surat itu gak benar, kak! Pasti ada kesalahan, Jani gak mungkin hamil," jawab Rania dengan tampang kesal.


"Gak mungkin salah, Ran! Ini dari Dokter di rumah sakit. Bilang sama, siapa ayah dari janinmu itu!" bentak sang kakak geram.


"Rani gak hamil, kak!" bantah Rania dengan nada tinggi pula.


Mendengar suara keributan di dari ruang tengah, Ayah menghampiri kedua anaknya yang sedang bersitegang dengan mata sama-sama melotot.


"Hey, ada apa ini?" tanya Ayah sambil duduk di samping sang istri dan meraih kertas di atas meja.


"Rania, jangan coba mengelak lagi! Sebaiknya beri tahu siapa laki-laki yang telah menghamilimu itu! Apa benar Arya yang harus bertanggung jawab atas ini? Biar kita bisa meminta pertanggungjawaban. Jangan bikin malu, hamil tanpa suami begini!" Sang mama memukul meja dengan keras.


"Gak ada, Yah! Rani gak hamil dengan siapa pun!" Rani bangkit dari sofa.


Udah hamil begini, mau minta pertanggungjawaban dengan siapa?!" Jerit Wulan dengan kesal. "Kamu pasti dihamili Arya pacar kamu itu!",

__ADS_1


. . .


__ADS_2