
. . .
Krek!
Yasmeen membuka pintu kamar perlahan. Dia mengedarkan pandangan ke seisi kamar yang tampak gelap gulita.
Dimana mas Arya? Kenapa di dalam kamar sangat gelap sekali? Apa dia sengaja tidak menyalakan lampu?
Langkah Yasmeen terhenti, urung untuk melangkah masuk. Berbalik badan kemudian berjalan menghampiri Mamah yang tengah menonton televisi di ruang tengah.
"Mas Arya di mana, Mah? Apa Mas keluar?"
Mamah yang semula menatap layar televisi sontak menoleh ke arah Yasmeen. "Mas Arya? Bukannya di kamar ya nak? Mamah lihat tadi dia masuk kamar."
"Oh, Mas di dalam? Soalnya di dalam kamar gelap sekali."
Tak lagi menyahut, Mamah kembali fokus menonton televisi. Sementara Yasmeen bergegas masuk ke kamar.
"Mas.. Mas Arya..." panggil Yasmeen sembari melangkah menapaki lantai perlahan.
Klik!
Seketika lampu menyala. Keadaan di dalam kamar menjadi terang.Yasmeen yang merasa silau spontan menyilangkan kedua tangan di depan mata.
__ADS_1
"Selamat jadi calon ibu, sayang!"
Yasmeen sedikit terperanjat kaget mendengar suara Arya. Perlahan diturunkan kedua tangan yang sebelumnya tersilang. Tampak suaminya berjalan menghampiri sembari membawa kue berbentuk love di tangan bertuliskan i love you. Sedangkan di tempat lain, ada Papah yang sedang berdiri masih memegangi saklar lampu.
"Mas Arya.. Yasmeen kaget." ucapnya terharu
"Selamat atas kehamilan Yasmeen ya sayang. Yasmeen harus sehat, biar bayi kita juga sehat. Semoga anak kita nanti jadi anak yang soleh soleha. Semoga tahun depan dan tahun-tahun berikutnya kita akan terus bersama." Dikecupnya kening Yasmeen dengan lembut.
"Duh.. Tadi ngambek-ngambekan, sekarang mesra-mesraan terus sampai lupa kalau di sini ada orang," celetuk Mamah yang tidak diketahui kapan kehadirannya.
Yasmeen langsung tersipu. Kedua pipinya memerah semu. Kelihatan dia sedang malu sekarang.
"Maaf mah, ini sekalian Arya mau minta maaf tadi udah bikin Yasmeen sedih",
"Husst! Jangan bilang-bilang, dong, Mah. Sudah tua, malu."
Semua orang di kamar ini seketika dibuat tergelak. Kami berempat mendekat dan saling berpelukan setelah itu. Orang tua Arya sangat senang menyambut kehamilan Yasmeen.
Singkat cerita mereka berempat menghabiskan waktu malam itu dengan masak-masak dan makan-makan. Grill daging, bakar jagung, goreng kentang dan tak lupa membuat minuman segar.
Setelah kenyang, mereka semua kembali ke kamar untuk istirahat. Malam semakin larut juga. Namun, entah ke mana perginya Yasmeen yang tak kunjung masuk kamar.
Baru juga aku akan menyusulnya, tiba-tiba saja Yasmeen masuk kamar.
__ADS_1
"Sayang, dari mana saja?"
"Itu, dari dapur mas. Habis beres-beres tadi."
"Sayang jangan terlalu memaksakan untuk melakukan sesuatu yang sekiranya bikin capek. Kan mas sudah bilang kalau Yasmeen harus banyak istirahat."
"Iya mas, ini Yasmeen mau istirahat."
Yasmeen berjalan menuju meja rias. Duduk di depan meja itu. Menyisir rambutnya sedikit dan memakai wewangian. Lantas, mendekat dan ikut merebahkan diri di sebelah Arya.
"Mas.. Peluk", ucapnya manja.
"Oh sini sayang, Yasmeen nggak usah minta kalau sudah di sebelah mas pasti mas peluk",
"Mas Arya sampai kapan cuti nemani Yasmeen?",
"Hmmm, lusa mas kayaknya harus ke kantor deh saya", ucap Arya.
Tiba-tiba ponsel Arya berdering. Arya mengangkat telpon dengan beranjak dari tempat tidur. Entah dari siapa yang jelas Arya terlihat begitu serius.
Usai berbicara di telepon, Arya menghela napas panjang dan kembali memeluk Yasmeen yang sedang rebahan.
"Sayang, mas besok harus ke Singapore",.
__ADS_1
. . .