
. . .
Tiba-tiba ponsel Arya berdering. Arya mengangkat telpon dengan beranjak dari tempat tidur. Entah dari siapa yang jelas Arya terlihat begitu serius.
Usai berbicara di telepon, Arya menghela napas panjang dan kembali memeluk Yasmeen yang sedang rebahan.
"Sayang, mas besok harus ke Singapore",.
"Berapa lama kita di sana mas? Kalau gitu kita harus pulang untuk packing baju-baju ", terang Yasmeen.
"Sayang.. mas nggak bisa ajak Yasmeen. Ini projek yang melelahkan, lagipula Yasmeen sedang hamil muda, akan lebih baik kalau Yasmeen banyak istirahat di rumah. Selama mas di Singapore Yasmeen di sini aja ya? Di rumah Mamah?", jelas Arya.
Kening Yasmeen mengernyit. Diusapnya air mata yang sedari mulai membasahi pipi. Dia menatap Arya dengan tatapan yang entah sulit diartikan. Aku tahu dia keberatan dengan syarat yang Arya ajukan. Tapi, mau bagaimana lagi? Menurut Arya itu pilihan yang tepat.
"Tapi, Mas ... Mas Arya sendiri yang janji kalau Yasmeen harus ikut kemanapun mas.. Hmmpp," protes Yasmeen. Raut keberatan di wajahnya sangat kentara jelas.
__ADS_1
Buru-buru Arya bungkam bibir Yasmeen dengan telunjuk. Arya mendekat. Reaksinya cukup kaget saat wajah mereka sudah saling berdekatan dengan jarak yang hanya sekian senti. Terasa hembusan napas Yasmeen yang hangat.
"Mas juga ingin dekat dengan Yasmeen terus," bisik Arya lembut di telinga Yasmeen.
Tidak ada reaksi apa pun selain bahasa tubuhnya yang kaku seolah membeku. Hingga akhirnya sepasang mata redupnya memejam perlahan saat kecupan hangat mendarat di kening, pucuk hidung dan bibir secara horizontal dan berurutan.
Tiba-tiba telapak tangan Yasmeen menyentuh dada Arya seakan berusaha ingin melakukan sesuatu yang lebih. Meraba satu persatu kancing piyama suaminya yang gagah itu. Arya yang menyadari tindakannya langsung menatapnya.
"Kenapa mas?" tanya Yasmeen setengah berbisik.
Arya segera bangkit, berganti posisi duduk. Menyesali kata-katanya yang membuat Yasmeen terlihat semakin kecewa. Ini adalah kali pertama Yasmeen berani menawarkan diri untuk melayaninya. Entah apa yang menjadi alasannya tiba-tiba berani bersikap demikian.
"Sayang," panggil Arya pada Yasmeen yang tengah berbaring di atas ranjang. Arya tidak tahu entah dia tertidur atau tidak. Sebab, posisinya yang membelakanginya sekarang.
Perasaan Arya bercampur aduk seusai menolak ajakan Yasmeen. Arya mendekati Yasmeen kemudian membalikkan tubuhnya agar menghadapnya. Kedua matanya tertutup rapat, sementara pipi putihnya tampak basah. Arya yakin dia baru saja menangis dan pura-pura tidur sekarang.
__ADS_1
"Sayang.." Diusapnya pipi lembut Yasmeen yang basah. "Mas tahu Yasmeen pura-pura tidur sekarang. Buka matanya sayang. Mas mau bicara. Jangan menangis seperti ini. Jujur mas Arya bingung harus apa sekarang?"
Yasmeen bergeming. Tidak ada pergerakan apa pun. Namun, sesaat dia berusaha membelakangi Arya lagi.
Helaan napas panjang keluar dari hidung Arya. Dia mengurut dadanya pelan. Sekuat tenaga mengendalikan rasa bingung yang hampir sampai di ubun-ubun.
"Sayang, mas tahu Yasmeen marah. Tapi, mas sama sekali nggak berniat menolak Yasmeen. Demi Allah mas juga ingin.. Tapi jangan sekarang. Yasmeen sedang mengandung sekarang, dan baru saja kena alergi. Nggak boleh capek dulu",
Yasmeen berbalik badan. Air mata kembali mengalir membasahi pipi. Dia menangis tanpa suara.
"Yasmeen mau ikut mas..", ucapnya dengan tangisan yang pedih.
Semenjak diketahui hamil, Yasmeen semakin ingin dimanja dan harus selalu dekat dengan Arya.
. . .
__ADS_1