
. . .
Hari-hari saat bulan madu ini sangat menyenangkan. Yasmeen bisa tersenyum kembali. Dan menikmati suasana di sini.
Namun, saat tengah malam, telepon dari orang tua Arya tiba-tiba berdering. Arya mengernyitkan dahinya saat melihat panggilan dari ayahnya, Mr. Ahmad. Dia buru-buru mengangkat telepon dan menyambungnya ke telinganya dengan cemas.
"Sayang, telepon dari mamah. Apa yang terjadi?" ucap Arya khawatir.
Yasmeen memegang tangan Arya dengan lembut dan memberikan dukungan. "Angkat saja, mas. Semoga tidak ada yang terlalu serius."
Arya menarik napas dalam-dalam dan menjawab telepon, "Halo, mah? Ada apa?"
__ADS_1
Suara lemah dan terengah-engah terdengar dari seberang sambungan, "Nak, maaf mengganggu liburan kalian. Papah... papah masuk rumah sakit. Kelelahan... main badminton. Mamah butuh bantuanmu dan Yasmeen."
Tak perlu waktu lama bagi Arya dan Yasmeen untuk mengenakan pakaian dan membawa barang-barang mereka. Mereka kembali ke Jakarta pagi itu. Dalam perjalanan, mereka merasa cemas dan khawatir atas kondisi kesehatan papah Arya.
Setelah tiba di rumah sakit, mereka langsung bertemu dengan mamah, yang terlihat khawatir dan menangis. Mamah Arya memberitahu mereka bahwa papah Arya telah kelelahan bermain badminton bersama teman-temannya dan kolaps di lapangan. Dia segera dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan.
Dalam ruang tunggu, Arya dan Yasmeen saling merangkul dan berdoa bersama untuk kesembuhan papah Arya. Mereka saling memberi dukungan dan berbicara tentang kenangan manis bersama papah dan mamah Arya.
Arya merasa bersalah karena tidak bisa bersama dengan papahnya saat insiden itu terjadi, tetapi mamah Arya meyakinkannya bahwa yang terpenting sekarang adalah papahnya mendapatkan perawatan yang baik dan dukungan mereka sebagai keluarga.
Malam itu, Arya dan Yasmeen memutuskan untuk menginap di rumah sakit agar bisa mendampingi papah Arya selama proses pemulihan. Mereka duduk di samping tempat tidur papah Arya, bercerita tentang bulan madu mereka, mengenang kenangan indah bersama papah dan mamah Arya, dan berbicara tentang rencana masa depan mereka.
__ADS_1
Mereka bersama-sama menghadapi masa sulit ini sebagai keluarga yang kuat, saling mendukung satu sama lain dalam setiap langkahnya. Di tengah kecemasan dan keprihatinan, mereka juga belajar menghargai setiap momen kebersamaan yang mereka miliki.
Kisah bulan madu Arya dan Yasmeen mendadak berubah menjadi ujian cinta dan keluarga, namun melalui kesulitan itu, cinta mereka semakin menguat dan persatuan mereka sebagai keluarga semakin kokoh.
Setelah beberapa hari perawatan di rumah sakit, akhirnya papah Arya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dokter memberikan kabar baik bahwa kondisi kesehatannya stabil dan tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan. Berita ini membuat Arya, Yasmeen, dan mamah Arya merasa lega dan bersyukur.
Suatu pagi, ketika matahari mulai terbit, Arya dan Yasmeen mendapat kabar dari mamah Arya bahwa papah Arya sudah mulai sadar. Mereka segera bergegas ke rumah sakit dengan hati berdebar-debar, tak sabar untuk bertemu dengan papah dan melihat sendiri keadaannya.
Ketika mereka tiba di kamar rawat papah Arya, dia tersenyum lemah saat melihat kedatangan mereka. "Arya... Yasmeen... mamah," ucapnya dengan suara lembut.
Arya berlari mendekat dan memeluk papahnya dengan penuh kasih. "Papah, aku begitu khawatir denganmu. Sungguh lega melihatmu sadar dan baik-baik saja."
__ADS_1
Yasmeen juga memeluk papah Arya dengan lembut, "Papah, kami begitu bahagia melihatmu sadar. Semua orang merindukanmu."