
Arya mengedarkan pandangan ke sekeliling sudut kantin. Pengunjung kantin tidak terlalu ramai, jadi dia bisa menemukan keberadaan Yasmeen dengan sangat mudah.
Yasmeen duduk di meja paling ujung. Sebentar. Sepertinya dia sedang tidak sendirian sekarang. Ada seorang lelaki yang duduk berhadapan dengannya. Sosok pria itu tidak asing. Benar, Arya juga mengenalinya.
Arya melangkah menghampiri meja tempat di mana Yasmeen dan lelaki itu berada. Tepat di samping Yasmeen langkahku terhenti. Dia tak menyadari kehadiran suaminya.
"Sayang," panggil Arya, seketika obrolan mereka terhenti. Dua pasang mata itu beralih menatapku.
"Oh mas, ketemu kuncinya? Mas duduk sini", kemudian menarik kursi di sampingnya untuk Arya.
Arya duduk. Lelaki itu menatapnya kemudian melempar senyum. "Pak Arya, nggak nyangka saya ketemu lagi dengan mba Yasmeen di sini", Arya membalas dengan senyum yang hanya sekilas.
"Lagi sakit mas?", tanya Arya pada laki-laki yang ternyata tetangga apartemennya, Damar.
"Oh nggak pak, saya cuma check up kesehatan aja", jawabnya.
"Tadi mas Damar nggak sengaja numpahin minumannya mas, lalu kita nunggu mas di sini", jawab Yasmeen.
"Oh..", Jawab Arya singkat. Arya hanya diam karena tidak suka dengan keberadaan Damar di sini. Kenapa dia kebetulan menemukan Yasmeen di sini? Kenapa dia tiba-tiba menghampiri Yasmeen yang sedang duduk sendirian. Arya yakin ini bukan cemburu, melainkan perasaan tidak suka saja.
"Mba Yasmeen suka makan makanan pedas?", tanyanya berbasa-basi.
"Bisa-bisanya kau memanggil istriku dengan sebutan 'mbak' sementara aku selalu kau panggil 'pak'", gumam Arya yang mukai merasa geli dengan tingkah Damar.
Senyum Yasmeen mengembang, sejurus kemudian dia mengangguk pelan. Melihatnya seperti itu Arya paham bahwa sebenarnya Yasmeen tidak terlalu menghiraukan Damar.
"Kurangilah makan pedasnya mba, bahaya lho. Nggak baik buat kesehatan."
Tidakkah dia tahu kalau wanita yang ada di hadapannya itu sudah beristri? Dan, suaminya sedang duduk di sini. Berani-beraninya dia menunjukkan rasa pedulinya di hadapan Arya. Tampan memang, tapi bukan tandingan Arya.
Singkatnya, Yasmeen dan Damar makan. Sedangkan, Arya hanya membeli minuman karena perutnya sudah kenyang setelah makan nasi goreng di rumah tadi.
Entah ingin memberi kesan loyal atau bagaimana, Damar membayar semua makanan dan minuman yang mereka pesan. Mereka sempat berebut untuk membayar tapi akhirnya uang Damar yang diterima oleh kasir yang bingung dengan kelakuan mereka.
"Oh iya, pak Arya setelah ini mau ke mana?", tanya Damar sok akrab.
"Kami mau ke rumah orang tua, mau kasih kabar kalau istri saya hamil", jawab Arya sedikit ketus.
"Wah jadi hari ini jadwal periksa kandungan ya? Selamat ya mba Yasmeen semoga sehat selalu",
"Pria ini menyebalkan sekali, sejak tadi dia seperti sengaja mengesampingkan keberadaan ku", gumam Arya.
"Pak Arya saya duluan kalau begitu, mari mba Yasmeen", pamit Damar.
Di mobil Arya banyak diam sambil menyetir. Dia membawa mobil dengan santai. Tidak seperti waktu berangkat tadi.
"Mas, kita mau ke rumah Mamah sekarang?", tanya Yasmeen yang memperlihatkan suaminya terdiam sejak tadi.
"Hmmh..", jawab Arya singkat.
"Mas Arya kenapa diam dari tadi? Yasmeen salah ya?",
"Nggak kok..", Arya menjawab tanpa menoleh padanya sedikitpun.
"Mas dari kemarin mas Damar yang nolong Yasmeen, tadi dia juga yang bawakan makanan Yasmeen ke meja karena panas", cerita Yasmeen.
"O ya? Jadi Yasmeen suka laki-laki yang lebih muda? Yang seumuran Yasmeen? Iya?" Arya mengungkapkan rasa tidak nyamannya sejak tadi.
"Astaghfirullah mas.. Kok mas Arya ngomongnya gitu?", jawab yasmeen yang kaget dengan respon suaminya.
"Dari tadi kamu terus membicarakan Damar! Apa tidak capek? Sebaik itu Damar dimatamu? Aku tidak suka caramu membicarakan laki-laki itu! Aku suamimu! Pantaskah kamu menceritakan laki-laki lain di hadapan suamimu?" bentak Arya kesal.
__ADS_1
Bibir Yasmeen langsung terbungkam. Wajahnya tertunduk dalam.
"Dia itu modus! Dari kemarin aku sadar dia berusaha mendekati kamu!"
Sejenak Arya menghembuskan napas kasar sambil menerobos jalanan yang mulai ramai. Sepanjang perjalanan Yasmeen terus terdiam. Baru kali ini dia mendengar suaminya bicara dengan nada yang kurang ramah di telinga. Apa yang salah? Apakah Yasmeen terlalu berlebihan saat menceritakan tentang Damar?
"Maaf sudah membentakmu, mas cemburu..", jawabnya singkat.
Kali ini Arya begitu dingin. Yasmeen terdiam sepanjang jalan. Arya tidak memeluknya seperti biasa walau Yasmeen terlihat mulai menangis.
Mobil terlihat memasuki pagar rumah orang tua Arya. Mamah dan Papah sedang berbincang di ruang tamu ketika mereka sampai. Arya menggandeng pinggul Yasmeen dengan wajah yang dingin.
"Assalamualaikum..", Arya memberi salam.
"Waalaikumsalam.. Ehh anak sama mantu Mamah datang. Sini sayang, kita lagi makan buah", sambut mamah.
Melihat Yasmeen yang murung bermata sembab, Mamah menangkap ada yang tidak beres. Begitu langkah Yasmeen mendekat, ia reflek memeluk Mamah dan menangis.
"Ada apa sayang?", Mamah menenangkan menantu kesayangannya.
Yasmeen hanya menangis dan tidak menjawab apapun. Sementara Papah dan Mamah melirik pada anak lelaki semata wayangnya.
"Arya ke kamar mandi dulu", jawabnya mengalihkan diri.
Semua menjadi hening, hanya terdengar suara isak tangis Yasmeen.
"Sayang.. Ada apa? Mas Arya galak ya ke Yasmeen?",
Yasmeen menggeleng..
"Mas Arya marah?", tanya Papah.
Arya kembali dari kamar mandi dan langsung bergabung dengan mereka. Diraihnya Yasmeen dari pelukan Mamah.
"Maafkan mas sayang, mas Arya cemburu",
Mereka berpelukan cukup lama. Papah menepuk-nepuk pundak Arya, memahami ada sesuatu yang terjadi pada mereka.
"Ada apa ini?", tanya Papah.
"Nggak ada apa-apa kok Pah, Arya yang salah",
"Mamah pesan sama Arya, tolong jaga Yasmeen baik-baik karena disini dia cuma punya kamu nak",
"Iya Mah.. Arya menyesal nggak bisa ****** emosi barusan. Pah, Mah.. Kami kesini sebenarnya bawa kabar gembira", lanjut Arya setelah keadaan membaik.
"Oh ya? Kabar apa nak?", tanya Mamah.
"Insyaallah Mamah sama Papah sebentar lagi punya cucu",
Mereka terlihat bahagia dan haru. Mengucapkan selamat pada Yasmeen dan berpesan agar menjaga kesehatannya.
"Kalo begitu kalian istirahat dulu sana", perintah Mamah.
. . .
Usai menunaikan salat asar berjamaah dan berdoa, Arya menoleh ke belakang. Seperti biasa, Yasmeen mencium tangannya.
"Sayang gimana alerginya? Sudah mendingan?"
Yasmeen menyingkap mukenanya kemudian memperlihatkan tangannya. Bintik-bintik merah itu masih ada tapi tidak separah tadi.
__ADS_1
"Sudah mendingan mas, tidak segatal tadi. Mungkin efek obat dan mandi air hangat barusan."
"Jangan digaruk ya sayang. Nanti bisa lecet dan membekas kalau kamu garuk lagi."
Bibir Yasmeen mengerucut. Kesal mungkin karena dilarang menggaruk bagian yang gatal. "Kalau gatal, gimana? Rasanya pengen garuk, Mas."
"Diusap begini saja." Arya mempraktikkan mengusap-usap tangan. "Lagian tanpa digaruk gatalnya juga bakal reda sendiri, kan? Justru kalau digaruk bakal merembet ke mana-mana."
Yasmeen manggut-manggut meskipun masih dengan bibir mengerucut dan raut kesal. Sungguh, gemas melihatnya seperti ini. Arya yang tidak bisa menahan diri langsung mencubit pipi Yasmeen dan sukses membuatnya mengaduh.
"Sayang, Yasmeen mulai sekarang sering baca surah Yusuf dan surah Maryam ya.. Supaya nanti bayi kita tampan dan cantik", pinta Arya.
"Kenapa mas? Mas tahu dari siapa?" tanyanya, menatap Arya datar.
"Dari orang-orang. Entah benar tidaknya."
Harap dimaklumi seandainya yang dikatakan Arya tidak benar. Sebab, Arya tidak pernah mondok. Hanya saya semakin dewasa dia lebih sering ikut kajian. Namun begitu, pengetahuan agamanya cukup baik dan sangat layak menjadi imam keluarga. Bertolak belakang dengan Yasmeen yang pandai mengaji dan tinggal dengan suasana pondok sejak kecil. Inilah alasan betapa beruntungnya Arya mendapatkan istri seperti Yasmeen.
"Sebenarnya, tidak ada dalil yang menganjurkan bagi ibu hamil untuk membaca Surat Yusuf dan Surat Maryam. Apalagi untuk tujuan diberikan anak yang tampan atau cantik. Allah SWT dan Rasulullah pun tidak pernah memerintahkannya, baik secara tersurat maupun tersirat. Begitu pula para sahabat juga tidak pernah mencontohkan hal yang demikian."
Yasmeen menyingkap mukenanya perlahan. Arya manggut-manggut mendengarkan penjelasannya.
"Terus?" tanya Arya, masih penasaran tentang hukum boleh tidaknya.
"Ya, boleh-boleh saja membaca surah apa pun dalam al-Quran ketika sedang hamil mas.. Bukan hanya surah Yusuf dan surah Maryam saja. Tujuannya, supaya janin dalam kandungan terbiasa mendengarkan bacaan ayat-ayat suci al-Quran. Sebab, indra yang pertama kali berfungsi adalah indra pendengaran," terang Yasmeen secara jelas.
Arya tersenyum puas mendengar jawaban Yasmeen sekaligus bangga dengannya. Soal agama, mereka saling melengkapi.
Selepas itu, mereka berdua membaca al-Quran. Seperti yang Yasmeen bilang, surah apa pun yang dibaca semuanya baik.
Selesai membaca Al Qur'an mereka berbincang hangat di atas tempat tidur.
"Sayang jaga baik-baik bayi kita ya? Yasmeen nggak boleh capek dan harus makan yang bergizi", pinta Arya.
"Satu lagi mas..",
"Apa itu?", tanya Arya.
"Mas jangan marah..", giliran Yasmeen yang membuat permintaan.
Arya memeluk Yasmeen dengan penuh kasih sayang. Mengecup lembut keningnya dan membelai rambutnya yang indah.
"Sayang.. Mas nggak ingin marah, mas nggak bisa nahan cemburu.. Mas minta maaf", ucapnya.
"Yasmeen mau dipeluk terus", pinta Yasmeen dengan manja.
"Seperti ini?", jawab Arya seraya mempraktekan.
Yasmeen mengangguk dan membenamkan kepalanya ke bawah dagu Arya.
"Yasmeen suka bau mas Arya", bisiknya.
"Mas Arya bau? Mas sudah mandi loh sayang",
"Iya.. Mas bau.. bau wangi..", godanya membuat Arya gemas dengan celetukan istrinya yang polos ini.
. . .
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, share dan komen ❤️
__ADS_1