Berlianku Yang Rapuh

Berlianku Yang Rapuh
KUPU-KUPU DALAM PERUT


__ADS_3

* * *


Alarm smartphone Arya berdering. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Yasmeen terbangun dari tidurnya. Mendongak keatas kepala, ternyata dihadapannya masih Arya, suaminya. Hampir dia mengira semuanya yang terjadi kemarin hanyalah mimpi. Arya menatapnya dengan mata teduh yang menyipit sembari mengulas senyuman.


"Mas sudah bangun?"


"Sudah sayang..",


Sebenarnya semalaman suntuk Arya tidak bisa tidur. Memandangi wajah gadis yang baru saja dia nikahi terlelap dalam pelukannya sepanjang malam. Rasanya seperti orang yang sedang kecanduan Drakor, ngantuk hilang yang ada hanyalah kesengsem. Bucin tiada tara..


"Yasmeen nyenyak tidurnya?"


"Mmmh.. iya Mas. Mas Arya juga tidur nyenyak?"


Arya hanya menjawabnya dengan senyuman. Bagaimana bisa dia tidur nyenyak sedangkan ada bidadari yang terlelap dalam dekapan dadanya yang bidang? Setengah mati Arya menahan agar sesuatu dibawah tidak berontak untuk melepaskan hasratnya.


"Sayang mau sholat tahajud?", tanyanya.


"Iya mas.. kalo mas Arya mau mandi duluan, ini shampoo nya."


"Mas nggak kuat mandi jam segini sayang, disini dingin banget airnya.. Kayak air es"


"Loh Mas, nanti sholatnya nggak sah.."


"Kenapa sholatnya nggak sah?"


"Semalam Ummi bilang sebelum subuh Yasmeen harus mandi besar, harus keramas. Mas Arya juga"


Arya tak mampu menahan tawa. Lalu diam menatap wajah istrinya dalam-dalam. Tak kuasa menahannya, dia terpingkal lagi.


"Sayaaang.. emang kita habis ngapain?", tanya Arya penasaran apa yang dipikirkan gadis ini.


"Habis.. Habis.. tidur bersama Mas"


"Ya Allah.. sayang, mas belum melakukan apa-apa yang membuat Yasmeen junub. Jadi setelah wudhu Yasmeen boleh langsung sholat kok",


"Memang seharusnya Mas Arya melakukan apa?"


Arya tidak habis pikir. Sepertinya gadis ini benar tidak tahu apa-apa soal aktivitas dewasa antara pria dan wanita. Butuh kesabaran untuk mengajarinya dari pengetahuan basic. Namun Arya cukup bangga, Allah menjodohkannya dengan wanita yang sangat terjaga bak sebutir mutiara dalam tiram.


"Nanti ya sayang? Nanti mas ajarkan banyak hal. Mas harus siapkan tempat yang bagus untuk melakukannya", terang Arya sembari menyibakkan anak rambut Yasmeen.


Yasmeen hanya bisa mengangguk walau masih belum paham arah pembicaraan mereka.


"Kalo gitu Yasmeen duluan yang ke kamar mandi ya Mas?"


Yasmeen beranjak dari tempat tidur. Tapi dengan spontan Arya menyambar lengannya hingga tubuh Yasmeen merebah lagi diperlukan Arya. Disentuhnya pipi Yasmeen, dibelainya rambut yang menutupi kening gadis itu. Lalu di dibimbing wajahnya hingga nyaris tak berjarak. Dikecupnya bibir Yasmeen untuk yang pertama kali.


Hangat, rasanya begitu lembut dan hangat. Tidak ada penolakan, mengalir seperti tetesan hujan yang menuju ke muara. Sementara ibu jarinya membelai pipi Yasmeen, keempat jari yang lain menopang kepalanya.


Kemudian diakhirinya ciuman itu setelah beberapa menit. Yasmeen terpana, kegiatan barusan begitu asing baginya. Namun asyik dan terasa nyaman baginya.


"Yasmeen Mau ke kamar mandi sekarang?", tanya Arya tanpa menjelaskan adegan barusan.


"I... Iya Mas.. sudah boleh ke kamar mandi sekarang?"


"Boleh sayang..", Arya mengedipkan matanya perlahan sembari menahan tawa.


Yasmeen berjalan menuju pintu. Lalu berhenti sebentar. Membalikkan badannya kembali dan bertanya,


"Mas.. jadi sekarang Yasmeen harus keramas?"


"Enggakkkk sayang, belum.. tapi kalo Yasmeen mau keramas sekarang juga boleh",

__ADS_1


* * *


Pagi ini Yasmeen ke pasar diantar Arya dengan sepeda motor Abah. Yasmeen duduk menyamping. Merapikan roknya yang panjang. Mereka akan berbelanja banyak kebutuhan untuk menyambut orang tua Arya


"Hayuk atuh Mas, kita jalan sekarang.."


"Nggak mau ah..", jawab Arya dengan nada menggoda.


"Kok nggak mau?"


"Abis Yasmeen gitu sih.."


"Yasmeen teh kenapa?", tanya Yasmeen dengan bingung.


Arya meraih tangan Yasmeen lalu melingkarkannya di pinggang.


"Harusnya begini sayang.. Yuk berangkat.."


Yasmeen tersipu malu. Dia jarang sekali naik sepeda motor. Dan baru kali ini dibonceng sepeda motor sambil berpelukan.


Pagi ini terasa lebih indah dari biasanya. Tubuh Mas Arya yang hangat serta aromanya yang menenangkan, membuat Yasmeen merasa memiliki 'rumah'. Sementara tangan kanan Arya memegang kemudi motor. Tangan kirinya membelai tangan Yasmeen yang melingkar di perutnya. Syahdu sekali..


"Mas.."


"Ya sayang..",


"Yasmeen mau bilang sesuatu",


"Apa sayang? Mas nggak dengar.. Coba bisikin dekat telinga Mas..", rayunya.


"Yasudah nanti saja kalau begitu",


"Loh... Kok ngambek sih.."


Sekarang mereka duduk hampir berhadapan di atas sepeda motor.


"Yasmeen mau ngomong apa? Mas Arya dengarkan..",


"Mas.. kenapa berhenti di sini? Nanti malu dilihat orang!", omel Yasmeen sambil matanya menyapu sekitar.


"Nggak apa-apa, Mas mau dengar. Yasmeen mau ngomong apa?"


"Nggak kok.. bukan sesuatu yang penting.."


"Penting.. apapun yang Yasmeen bilang penting bagi Mas Arya",


Ah pria ini sungguh pandai melambungkan hatinya. Yasmeen yang kekurangan kasih sayang sejak kecil seakan menemukan kebahagiaannya kembali. Terlebih suaminya ini ternyata tipe pria dengan love language physical touch (menunjukkan rasa sayang dengan sentuhan).


"Mmmm.. kalo lagi di dekat Mas Arya Yasmeen merasa ada yang beda",


"Apa yang berbeda sayang?",


"Detak jantung Yasmeen seperti melambat, lalu seperti ada kupu-kupu yang berterbangan dalam perut Yasmeen dan itu rasanya geli",


"Gawat sayang, kalo begitu nanti kita ke dokter ya?"


"Aa aah Mas Arya.. katanya mau dengerin Yasmeen", rengeknya dengan manja.


"Iya.. iya sayang. Ini mas dengarkan, Mas jadi suka godain Yasmeen. Habisnya Yasmeen lucu",


"Kemarin sepertinya banyak yang ingin Yasmeen katakan ke mas Arya, tapi setelah berhadapan dengan mas Yasmeen lupa semuanya. Yasmeen lupa karena ternyata berada di dekat mas rasanya senyaman ini..",


"Yasmeen itulah cinta.. rasa yang terkadang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa dirasakan di sini". Arya membimbing tangan Yasmeen ke dada bidangnya. Tepat di bagian jantung hingga terasa detaknya. Yasmeen tersenyum.

__ADS_1


* * *


Sebuah toy*ta f*rtuner terlihat memasuki pelataran panti. Dari dalam turun sepasang suami istri dengan membawa beberapa kotak hantaran. Anak-anak panti menghampiri keduanya dan membantu menurunkan bawaan. Di sana Arya juga sudah bersiap menyambut kedua orangtuanya.


Arya berlutut di hadapan sang ibu dan juga ayahnya dengan kembali menyatakan maaf kepada mereka. Meminta izin lagi untuk pernikahan yang dilangsungkan tanpa sepengetahuan orangtuanya terlebih dulu.


Mereka dipersilakan masuk ke pendopo panti dan disana Abah dan Ummi juga sudah menunggu.


"Ifah, tolong panggilkan Yasmeen nak, ibu dan bapak sudah datang", pinta ummi.


"Baik Ummi",


Yasmeen keluar dengan mengenakan gamis satu warna dan kerudung segiempat sedada. Itu pakaian terbaik yang dia punya. Meskipun Rudolf membiayainya dengan baik, namun Yasmeen memiliki selera yang sederhana. Memiliki 3 stel baju khusus, diluar baju haruan sudah cukup baginya.


"Pah, ini mantu kita pah..", Mama Arya terpana dengan kecantikan Yasmeen.


"Assalamualaikum, saya Yasmeen", sapa Yasmeen sembari mencium tangan kedua mertuanya.


"Mamah nak, panggil saya mamah dan beliau ini juga papah kamu sekarang",


Mama Arya memeluknya sambil berderai air mata. Begitupun juga Yasmeen yang tak sanggup menahan keharuan dan kerindua pada mendiang orangtuanya.


"Mamah, papah.. Yasmeen minta maaf, tidak meminta izin terlebih dulu sebelum kami menikah", jelasnya.


"Nak, mamah dan papah sudah ridha pada kalian. Semoga kalian bahagia hingga maut memisahkan, semoga segera dikaruniai keturunan yang sholeh sholeha", tutur papah Arya.


Mereka lalu berbincang tentang pertemuan kedua orang ini. Mendengarkan cerita dari versi Abah dan Ummi. Lalu mereka sepakat untuk segera menikahkan kembali Arya dan Yasmeen secara resmi.


Semuanya akan berlangsung dengan mudah. Abah dan Arya sudah mengatur langkah-langkahnya sedemikian rupa hingga pernikahan mereka secara sah di mata hukum bisa dilaksanakan besok.


***


Ini malam kedua Yasmeen tidur di dalam kamar yang sama dengan laki-laki dewasa. Tentu saja laki-laki itu adalah suaminya sendiri. Mereka masih mengisi malam-malam pengantin mereka dengan obrolan, sesekali dengan ciuman.


Arya tidak ingin terburu-buru menagih haknya. Dia ingin memberikan memori terbaik untuk pengalaman pertama Yasmeen. Tapi tidak untuknya, ini bukan pengalaman pertama Arya.


"Mas..", Yasmeen memulai obrolan.


"Ya sayang",


"Usia mas sekarang 38 tahun, usia Yasmeen 18 tahun. Apa mas nggak malu mengenalkan Yasmeen ke keluarga mas nanti?", tanya Yasmeen.


"Kenapa mas harus malu sayang? Justru mas bangga, jodoh mas ternyata jauh lebih muda dari mas. Atau jangan-jangan Yasmeen yang malu punya suami setua mas Arya? Mas Arya kan sudah jadi om-om",


"Nggak kok, mas bukan om-om.. Buktinya Yasmeen nggak panggil 'om' tapi panggilnya 'mas'..", goda Yasmeen.


"Oh gitu ya, jadi mas masih ganteng ya? Masih muda dong ya suami Yasmeen ini?", Arya balas menggodanya.


"Tapi, laki-laki seganteng mas dan semapan mas Arya, apakah nggak pernah didekati wanita-wanita cantik?", Yasmeen memancing untuk menggali informasi tentang suaminya. Laki-laki yang sebenarnya ia belum tahu latar belakang kehidupannya.


"Sayang, ada satu hal yang mas rasa harus disampaikan sekarang. Mas nggak tahu apakah Yasmeen akan marah atau nggak. Tapi tolong dengarkan penjelasan mas Arya dulu", tak disangka Arya menjawab candaannya dengan nada dan pembahasan yang sepertinya sangat serius.


"Apa mas? Apa sebenarnya mas Arya sudah punya kekasih?, sahut Yasmeen yang air muka nya berubah menjadi sendu.


"Demi Allah, mas Arya sudah lama mengosongkan hati untuk wanita manapun.. Dan mas tidak terikat dengan hubungan spesial apapun dengan wanita lain sampai akhirnya mas menikahi Yasmeen", terang Arya.


"Lalu apa sesuatu yang serius yang ingin mas sampaikan ke Yasmeen?", tanyanya dengan perasaan yang tak karuan.


***


Bersambung dulu ya episode ini. Terimakasih sudah membaca kisah Yasmeen dan Arya. Tolong baca setiap episodenya dengan baik ya, supaya ceritanya nggak terpotong. ☺️


__ADS_1


__ADS_2