
. . .
Kejadian akhir-akhir ini cukup menguras energi Arya dan Yasmeen. Hubungan mereka sempat renggang dan canggung. Tapi semuanya sudah kembali normal.
"Sayang, Yasmeen ingin bulan madu nggak?", tanya Arya
"Kemana mas?",
"Ya kemana aja Yasmeen mau. Mungkin ada tempat yang ingin Yasmeen datengin?",
"Ada..",
"Kemana sayang? Yuk kita ke sana",
"Sea world mas..", jawab Yasmeen singkat.
"Sea world? Kok sea world sih sayang", Arya terkekeh.
"Iya, Yasmeen pengen ke sea world mas..",
"Sayang, masak bulan madu ke sea world? Yasmeen tau bulan madu nggak sih?",
"Tau dong..",
"Apa coba?",
"Ya pergi jalan-jalan berdua",
"Duh sayang.. Istriku.. Kalo cuma jalan-jalan berdua ke pasar juga bisa", canda Arya.
"Emangnya nggak boleh ya bulan madu ke sea world?",
"Boleh kok sayang, terus kita nginep di mana?",
"Ya di rumah dong mas, kan sea world nggak jauh",
"Oke baiklah.. Kalo gitu namanya bukan bulan madu dong sayang. Duh gagal lagi deh", oceh Arya sambil menepuk jidat.
Semenjak menikah mereka belum banyak menikmati waktu berdua. Terlebih setelah adanya konflik-konflik kecil dalam rumah tangganya.
Pernikahan sederhana dan berjalan sederhana pula.
"Mas, Yasmeen mau deket-deket mas Arya terus", ucapnya manja.
"Iya, sini dong sayang deket mas.. Duh, kesayangan mas yang manja",
"Mas Arya nanti siang jadi ke kantor ya?",
"Iya sayang, sebentar aja kok. Yasmeen baik-baik di rumah ya",
"Yasmeen boleh ikut ke kantor mas?",
"Hmmm.. Di rumah aja ya sayang, mas cuma sebentar kok. Di kantor kan tempat kerja sayang, nanti Yasmeen bosen",
"Tapi mas.. Yasmeen dari semalam maunya deket-deket mas Arya terus. Rasanya sesak benget kalo nggak dipeluk mas Arya. Yasmeen sedih kalo mas berangkat kerja",
"Jangan gitu dong sayang. Mas kan ada tanggung jawab. Ini sekarang udah dipeluk. Atau mau pelukan dengan cara yang lain?", goda Arya.
Yasmeen mengangguk, tanda paham akan instruksi yang tersirat. Arya membimbingnya naik ke kedua pahanya. Selayaknya suami istri mereka berc*mbu mesra. Masih mengenakan atasan yang utuh namun bawahan sudah tanggal dari tempatnya.
"Yasmeen yang di atas ya?",
__ADS_1
"Tapi mas.. Yasmeen nggak bisa..",
"Bisa, mas ajari..",
Yasmeen membuka kakinya dengan posisi di atas Arya. Sang pria meletakkan tangan di kedua pinggul wanitanya selayaknya kemudi. Lalu menurunkannya pelan-pelan. Hingga ambles kepala.. Batang.. Belum sampai pangkalnya Yasmeen merintih keras.
"Sshhhhh pelan sayang", bisiknya sembari meneruskan tekanan hingga ke pangkal.
Kali ini rasanya mereka berdua tak kenal lelah. Sepanjang pagi hingga tengah hari melakukan aktivitas suami istri. Hingga adzan dhuhur yang menghentikan mereka.
Usai pergulatan yang hebat. Arya mendekap tubuh Yasmeen. Menc*uminya dengan nafas yang hangat.
"Sayang, jaga rumah ya.. Nggak boleh nakal, habis ini mas ke kantor sebentar",
Yasmeen berbalik badan dan memeluknya. Merengek seperti anak kecil.
"Mas Arya nggak boleh kerja, nanti Yasmeen kangen", pintanya seperti bocah.
"Sayang, mas Arya kan setiap hari pulang",
"Tapi mas, Yasmeen maunya seperti ini terus",
"Iya, nanti lagi ya sayang.. Tunggu mas pulang",
"Nggak mau mas, Yasmeen maunya dipeluk terus", rengeknya sambil menangis.
"Sayang, kenapa kok tiba-tiba gini? Hmm? Karena kejadian kemarin? Yasmeen khawatir itu terjadi lagi? Percaya sama mas sayang, mas Arya akan jaga diri baik-baik ",
Yasmeen menggeleng.
"Nggak mas, Yasmeen cuma mau dipeluk terus", rasanya sesak kalau nggak didekat mas Arya.
. . .
"Jangan bengong aja bro", suara Fino mengagetkan Arya.
"Eh bro, gue habis ini harus segera balik", terang Arya.
"Ngopi dulu lah..",
"Next time ya bro. Istri gue kayaknya lagi nggak enak badan",
"Aih penganten baru yang lagi semangat-semangatnya nemenin istri ", ledek Fino.
"Nggak gitu bro, serius istri gue lagi nggak kaya biasanya",
"Nggak kaya biasanya gimana bro?", tanya Fino penasaran.
"Tadi nih pas gue pamitin berangkat kerja dia nangis bro. Sedih banget nangisnya. Biasanya nggak pernah gitu",
"Takut kali di apartemen sendirian, cari asisten deh bro buat nemenin di rumah",
"Kalo takut kayaknya nggak, tiap gue tawarin anter ke rumah mamah kalo gue kerja dia suka nolak. Dia bilang pengen dipeluk terus bro, kalo gue tinggal sebentar katanya sesek banget rasanya di dada. Aneh kan bro? Masa gue peluk kemana-mana udah kaya perangko?", terang Arya panjang lebar.
"Wah selamat ya bro! Congratulation my bro!", sahut Fino dengan bertepuk tangan.
"Apaan sih bro..",
"Bro, bentar lagi lo jadi Ayah!",
__ADS_1
"Hah! Jangan bercanda bro.. Baru sepuluh harian gue nikah",
"Sepuluh hari? Sehari aja bisa jadi kok! Haha.. Percaya gue 99% cepet pulang beli tespek!", jelas Fino.
"Ah serius lo bro, jangan bikin gue seneng dong!", jawabnya tak percaya.
"Bro, istri gue waktu hamil anak kedua persis kaya bini lo. Gue tinggal ke kamar mandi aja nangis maunya deket ketek gue terus. Beda lagi hamil yang pertama, tiap liat gue bawaannya kesel aja. Katanya gue kaya monyet",
"Hahaha bisa lucu gitu ya orang hamil?", jawab Arya excited.
Arya bergegas pulang dan tidak lupa membeli beberapa testpack. Dari mulai model celup hingga digital. Semua masing-masing 1.
Sampai di apartemen dia menemukan Yasmeen yang tertidur sambil memeluk kaosnya yang bekas keringat tadi. Dengan mata yang basah, Yasmeen tidak menyadari kedatangan Arya.
"Sayang.. Mas sudah pulang", Arya membelai Yasmeen dan memberinya kecupan.
Yasmeen terbangun dan kaget. Dia langsung tergopoh-gopoh memeluk suaminya.
"Yasmeen kangen mas Arya.. Yasmeen kangen", isaknya.
"Iya sayang, mas sudah pulang. Yasmeen tenang ya", bujuk Arya sembari membelai kepala hingga punggung Yasmeen agar dia tenang.
"Yasmeen maunya dipeluk terus mas. Mas Arya jangan kemana-mana", rengeknya lagi.
"Iya sayang, mas temenin Yasmeen di rumah ya? Tapi Yasmeen janji dulu", pinta Arya.
"Janji apa mas?",
"Mas mau periksa kesehatan Yasmeen, boleh sayang?",
"Mas mau bawa Yasmeen ke dokter? Tapi Yasmeen nggak sakit mas", jawabnya.
"Nggak kok sayang, mas periksa sendiri di rumah. Tadi mas beli alatnya untuk cek kesehatan Yasmeen",
Arya berbohong untuk menjaga-jaga jika hasilnya belum positif supaya menjaga perasaan Yasmeen yang sedang sensitif.
"Sekarang Yasmeen pipis di sini ya", menyodorkan gelas plastik.
"Pipisnya ditampung disini mas? Kan kotor mas, bau",
"Iya sayang, nggak apa-apa. Mau mas bantu?", tanya Arya.
Setelah melakukan instruksi dari suaminya, Yasmeen diminta kembali menunggu di atas tempat tidur. Sementara Arya melakukan test pada urine Yasmeen di kamar mandi agar tidak dilihat Yasmeen.
Hasilnya garis dua. Arya tak kuasa menahan haru. Telah lama dia menginginkan keturunan. Akhirnya Tuhan menitipkannya di rahim istri sahnya.
"Sayang..", Arya menghambur ke arah Yasmeen.
Memeluknya dengan lembut dan mencium kening Yasmeen.
"Mas Arya kenapa nangis. Yasmeen sakit ya?", tanya Yasmeen.
"Nggak sayang.. insyaAllah Yasmeen sehat.. Sayang terimakasih ", ucapnya sambil menciumi kening Yasmeen.
"Tapi kenapa mas nangis?",
Arya meraih kedua tangan Yasmeen. Menciumnya dengan penuh hormat. Lalu berkata,
"Yasmeen hamil sayang, istri mas hamil"..
__ADS_1
. . .