Berlianku Yang Rapuh

Berlianku Yang Rapuh
ISTRI MAS SATU-SATUNYA


__ADS_3

. . .


Esok harinya Yasmeen sedang menyiapkan sarapan seperti biasanya. Khusus untuk sarapan, Yasmeen memang lebih sering membuatnya sendiri. Rasanya, lebih puas saja. Sedangkan Mbok Sum kebagian beres-beres dan mencuci perabot kotor.


"Sayang... Mas berangkat dulu, ya? Maaf, nggak bisa sarapan. Ada urusan kantor yang sangat penting. Mas harus cepat datang, " kata Arya berdiri di pintu penghubung ruang tengah dan dapur.


"Yasudah," jawab Yaameen dengan sedikit kecewa karena sebenarnya sarapan sudah siap.


"Maaf, ya?" Arya menatap Yasmeen dengan penuh sesal.


Yasmeen mengangguk seraya tersenyum tipis.


Diantarnya Arya sampai ambang pintu. Setelah itu, Yasmeen kembali masuk ke dalam dan menikmati sarapan bersama mbak Sum.


Usai sarapan saat Yasmeen ke ruang tengah tengah, terdengar suara ponsel yang bergetar. Tadinya, Yasmeen pikir itu ponselnya namun ternyata ponsel milik Arya yang bergetar. Rupanya, karena terburu-buru tadi dia sampai lupa membawa ponselnya.


"Mas Arya ceroboh. Bagaimana bisa dia sampai melupakan benda penting ini?", gumamnya.


Baru beberapa detik di tangan Yasmeen, sebuah pesan masuk. Yasmeen mengernyit, pesan dari nomer tanpa nama.


[By.. Kamu dimana sekarang? Aku kangen, aku mau kamu datang lagi By]


By? Sepertinya Yasmeen tahu siapa yang memanggil mas Arya dengan sebutan 'Baby'. Tidak salah lagi, ini pasti Rania! tangannya mencengkeram ponsel Arya kuat-kuat. Tubuhnya lemas, jadi inikah alasan Arya menolak sarapan di rumah? Karena dia hendak mengunjungi Rania?!


"Kapan Mas Arya mengunjungi mbak Rania? Mas nggak pernah cerita..", bisik Yasmeen.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Yasmeen langsung ke kamar mengambil beberapa barang dan tasnya. Setelah itu segera melaju menuju ke tempat Rania dengan emosi membara. Kali ini Yasmeen sedang tidak suka berbasa basi.


Mobil Arya tampak terparkir di tepi jalan rumah Rania. Yasmeen meminta supir grab menepi. Kemudian turun dengan perasaan tak sabar.


Pintu masuk tampak terbuka. Yasmeen langsung menerobos masuk tanpa ragu. Suara mereka terdengar semakin jelas. Detak jantungku kian memburu karena emosi yang siap meledak.


Bunyi denting sendok yang beradu dengan piring mulai terdengar dari arah dalam begitu diriku menginjak ruang tamu. Hati Yasmeen semakin panas, mereka pasti sedang sarapan bersama. Sesosok anak kecil tampak sedang menggambar di ruang tengah. Menyadari kedatangan Yasmeen, dia sontak berlari ke arah ruang belakang.


"Ada apa, sayang?" terdengar suara Rania yang menanyai anaknya.


Tanpa ragu, Yasmeen mengikuti ke mana langkah anak kecil tadi berlari.


Yasmeen mengepalkan tangan dengan geram, amarahnya bersanding dengan sakit bak tersayat melihat pemandangan di meja makan sana. Mas, Arya tampak sedang menikmati makannya, sementara itu Rania tampak sedang menuangkan air putih ke gelas Arya. Mereka terlihat seperti pasangan suami istri. Terlihat sangat harmonis.


"Sayang... " Arya sontak berdiri menatap Yasmeen dengan ekspresi terkejut luar biasa. Begitupun dengan Rania.


"Sayang... Mas akan jelaskan semuanya." ucap Arya dengan nada cemas. Dia bergerak mendekati Yasmeen.


"Tak perlu repot di jelaskan! Yasmeen sudah tahu semuanya! Ternyata Mas lebih memilih sarapan dengan wanita ini! " Yasmeen menatap bergantian Arya dan Rania dengan tajam.


"Maafkan mas, Yasmeen. Mas cuma.."


"Yasmeen kecewa Mas!! "


Arya tertunduk lesu. Sejurus kemudian dia bermaksud memeluk Yasmeen, namun ditepisnya.

__ADS_1


"Sayang... mari kita pulang. Kita bicarakan ini di rumah." lirih Arya berusaha meraih tangan Yasmeen namun lagi-lagi ditepis.


"Tidak! kamu tidak boleh pergi, By!! " seru Rania seraya mengambil sesuatu dari rak.


Yasmeen tercekat melihat ke arah Rania. Dia tampak memegang sebilah pisau dan menempelkan sisi yang tajam ke arah lehernya.


"Rania!! Hentikan! Jangan seperti itu!" seru Arya, cemas.


"Aku sangat mencintaimu, By! jika kamu pergi dariku, akupun akan pergi dari dunia ini! " ancam Rania dengan penuh emosional.


"Tidaaaak", seru Yasmeen.


Yasmeen tersentak dengan napas terengah-engah. Diliriknya sekeliling dan jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi.


"Ada apa sayang?", Arya yang terbaring di sebelahnya terkejut dan kebingungan dengan kondisi Yasmeen.


"Mas Arya jahat!", pukul Yasmeen, tepat mengenai dada Arya yang kancing piyamanya terbuka setengah bagian.


"Aduh.. Mas kenapa sayang?", Arya menyeka peluh di kening Yasmeen yang terlihat membulir.


"Yasmeen istri mas satu-satunya kan Mas?", sedu Yasmeen.


"Sayang.. Kamu mimpi apa sih? Yasmeen istri Mas satu-satunya. Nggak ada yang lain", peluk Arya untuk menenangkan istrinya.


Yasmeen meringkuk dalam dekapan Arya. Ah.. Ternyata tadi itu hanya mimpi. Suaminya begitu diinginkan oleh wanita-wanita diluar sana. Membuat Yasmeen sering kali terganggu dengan usaha mereka mendekati Arya. Apapun keadaannya, Arya milik Yasmeen sekarang.

__ADS_1


. . .


Bersambung..


__ADS_2