
. . .
"Yasmeen hamil mas?",
"Iya sayang.. Yasmeen hamil. Terimakasih sayang.. Terimakasih sudah jadi istri mas, kehamilan Yasmeen hadiah terindah bagi mas", peluk Arya dengan haru.
. . .
Usia Arya hampir menginjak kepala 4. Terlalu lama sendiri sempat membuatnya khawatir akan garis keturunannya. Benar, Arya adalah anak tunggal. Dia ingin segera memberikan cucu pada orangtuanya. Namun kala itu dia juga harus berjuang menyembuhkan trauma pernikahan.
Hingga akhirnya bertemu dengan Yasmeen. Gadis muda yang langsung menarik instingnya untuk segera mempersunting. Tak disangka dari pernikahannya yang berjalan dengan cepat dan mudah, Tuhan juga segera menitipkan calon bayi untuknya.
Selama Yasmeen hamil, Arya semakin memanjakannya. Dia tak dibolehkan melakukan kegiatan yang sekiranya memicu tubuhnya lelah. Semua tugas beberes rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian dan memasak kulimpahkan pada jasa cleaning service. Bi Neni namanya. Usianya tidak muda tetapi tidak terlalu tua juga. Oiya, Bi Neni tidak tinggal menetap di rumah ini, melainkan pulang pergi dan hanya datang seminggu tiga atau empat kali. Sebab, tidak setiap hari ada kerjaan.
Sorot sinar mentari pagi menyelinap melalui celah jendela kaca dapur dari lantai 25. Arya duduk termangu menghadap meja makan dengan suguhan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Dia membuatnya sendiri.
"Mas, mau sarapan apa?" tanya Yasmeen yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Arya.
Arya tersentak dari lamunannya. Seketika menoleh ke arahnya. Tanpa permisi dia mengambil secangkir kopi dari hadapan Arya lantas menyesapnya.
"Sayang, kenapa minum kopi? Memangnya boleh minum kopi?" tanya Arya keheranan. Sebab, tidak biasanya Yasmeen minum kopi seperti ini. Maksudnya di kondisi saat dia tidak hamil seperti sekarang ini.
"Kenapa tidak boleh mas?" jawabnya santai.
"Jangan sayang, mas takut nanti berpengaruh sama kehamilan Yasmeen", Arya merebut cangkir yang dipegangnya.
"Sedikit aja mas, Yasmeen ingin sekali",
"Baiklah, sedikit saja ya.. Hari ini mas mau makan nasi goreng. Jadi, mas saja yang masak tidak usah beli."
Yasmeen mengernyit, sedikit meragukan tawaran Arya. "Yakin? Mas bisa?"
Sesaat Arya menatapnya tanggung. Sejurus kemudian aku beranjak bangkit. "Hmm.. Jangan meragukan kemampuan mas ya.. Yasmeen duduk saja di sini." Di tepuk pundaknya pelan setelah itu.
__ADS_1
"Membuatkan dia porsi nasi goreng sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Meskipun aku jarang memasak, tapi jangan remehkan kepiawaian ku. Apalagi hanya menu nasi goreng. Mudah sekali", gumam Arya.
Nasi goreng buatan Arya sudah jadi. Saatnya menghidangkan masakan spesial ini untuk istrinya yang tengah duduk menunggu.
Yasmeen tertegun memandangi sepiring nasi goreng yang baru saja dihidangkan di hadapannya. Tatapannya datar, tampangnya tampak tak berselera untuk memakannya.
"Apa dia meragukan rasa nasi goreng buatanku? Atau ... mungkin justru dia kagum? Lihatlah warna-warni butiran kacang polong, potongan wortel dan telur mata sapi yang sempurna itu!", batin Arya.
"Makanlah sayang, kenapa hanya dilihat saja dari tadi?" perintah Arya mengingat sudah cukup lama Yasmeen memandanginya tanpa menyuapkan ke mulutnya.
Detik kemudian, Yasmeen menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya. "Enak banget, Mas. Ternyata mas Arya jago masak juga, Yasmeen bangga deh? Kenapa mas nggak sering-sering masak buat Yasmeen?"
Arya tertawa pendek mendengar pujiannya. "Mas suka nonton Yasmeen masak. Yasmeen kelihatan lebih s*ksi," ujar Arya balik memuji.
Bukan sebatas ucapan di bibir saja, melainkan Arya bicara yang sebenarnya dari hati. Yasmeen tampak s*ksi dan anggun ketika dia sedang memasak.
Hening. Obrolan mereka terhenti sampai di situ. Berganti denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Mereka berdua sama-sama fokus makan.
Uhuk! Uhuk!
Usaha Arya tak membuat kondisi Yasmeen membaik. Yang ada dadanya semakin sesak dan sulit untuk bernapas layaknya kondisi orang asma yang kambuh.
Arya yang panik dan terbayang hal yang tidak diinginkan segera mengambil tindakan cepat. Menggendong Yasmeen dan membawanya menuju basemen. Turun dari lantai 25 cukup memakan waktu.
"Pak, ada apa pak?", tanya satpam saat melihatnya tergesa-gesa menggendong Yasmeen.
"Tolong keluarkan mobil saya pak", jawab Arya sambil melempar kunci mobil.
Arya memacu mobil dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan yang tidak terlalu padat.
Beberapa kali Arya melirik Yasmeen sembari menyetir, sekadar memastikan kondisinya. Napasnya sedikit membaik, tetapi muncul bintik-bintik merah di kulitnya. Arya baru sadar, ini tanda-tanda alergi.
Apa yang terjadi pada Yasmeen sama persis dengan yang dialami Mamah waktu itu. Hanya saja penyebab Mamah jelas yaitu alergi dingin. Sementara Yasmeen ... selama ini dia tidak punya riwayat alergi terhadap apa pun.
__ADS_1
"Sayang, apa Yasmeen punya alergi?"
Yasmeen menggeleng sembari menggaruk bagian tubuhnya yang mungkin dirasa gatal.
"Jangan digaruk, sayang. Biarkan saja, setidaknya sampai rumah sakit nanti. Sebentar lagi kita sampai," ujar Arya mengingatkan.
Seolah angin berlalu. Yasmeen sama sekali tidak mengindahkan larangan Arya. Gerakan tangannya yang sedang menggaruk-garuk semakin menjadi-jadi.
Setibanya di rumah sakit, Arya segera memarkirkan mobil. Sementara, Yasmeen meminta diturunkan di depan gedung bercat putih itu.
"Alergi seperti ini lumrah terjadi pada ibu hamil. Jadi, tidak perlu risau. Nanti saya kasih resep obatnya. Usia kehamilan istri bapak saat ini menginjak 8 minggu",
"8 minggu dok? Tapi kami baru sebelas hari menikah!", Arya tersentak, tidak mungkin kejadian yang sama terulang. Dirinya sangat yakin bahwa keperawanan Yasmeen dia yang menembus.
"Betul pak, usia janin dihitung sejak haid terakhir. Jadi bapak jangan kaget ya..",
Perasaannya sedikit lega setelah mendengar penjelasan dokter. Maklum saja kalau Arya mencemaskan kondisi Yasmeen karena ini kehamilan pertamanya. Menjadi pelajaran bagi mereka berdua betapa pentingnya mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan. Mungkin ke depannya mereka harus ikut kelas pranatal.
"Mas ... lapar," keluh Yasmeen setelah keluar dari ruang periksa dokter.
"Sayang mau makan apa? Makan dimana?" tanya Arya sambil merogoh saku celana.
"Di kantin rumah sakit ini saja ya mas?",
Seakan refleks, Arya menepuk jidatnya. "Kuncinya ketinggalan dan masih menancap di mobil. Mas benar-benar lupa."
"Mas ambil dulu. Yasmeen mau ke kantin sekarang, Mas. Yasmeen tunggu di sana, ya?",
Arya mencelos pergi tak menanggapi ucapan Yasmeen. Tak dihiraukan Yasmeen yang memanggil.Setidaknya Arya mengingat apa yang diucapkannya barusan.
Syukurlah, kunci mobil masih ada. Pun, dengan mobilnya. Setelah di cek di semua bagian, kondisinya masih sama. Gegas aku menuju kantin yang ada di rumah sakit ini.
Arya mengedarkan pandangan ke sekeliling sudut kantin. Pengunjung kantin tidak terlalu ramai, jadi dia bisa menemukan keberadaan Yasmeen dengan sangat mudah.
__ADS_1
Istrinya duduk di meja paling ujung. Sebentar. Sepertinya dia sedang tidak sendirian sekarang. Ada seorang lelaki yang duduk berhadapan dengannya. Sosoknya tidak asing, Arya mengenalinya siapa pria itu.
Bersambung...