Berlianku Yang Rapuh

Berlianku Yang Rapuh
BAYI YANG DIHARAPKAN DAN YANG TAK DIHARAPKAN


__ADS_3

Arya membelai kepala wanita yang dicintainya itu.


"Sayang.. Bayi yang Allah titipkan kedalam perut Yasmeen sudah Allah minta kembali", jelas Arya.


Yasmeen mencoba mencerna kata-kata suaminya. Perlahan air matanya meleleh deras. Ia tak mampu berkata-kata. Arya meraihnya kedalam pelukan dengan lembut dan hangat. Yasmeen hanya bisa terisak tanpa mampu berucap apa-apa dalam pelukan Arya.


. . .


Setelah mengalami keguguran yang menyakitkan, kembali ke apartemen mereka. Yasmeen terlihat murung dan hampa, sementara Arya mencoba memberikan dukungan yang hangat padanya.


Arya menggenggam tangan Yasmeen dengan lembut "Sayang, mas tahu betapa beratnya ini semua bagimu. Mas di sini untukmu, kita bisa menghadapinya bersama-sama",


Yasmeen mengangguk perlahan, dengan mata berair "Terima kasih, Mas. Aku merasa hancur dan tak tahu harus berbuat apa",


Arya menarik Yasmeen ke dalam pelukannya "Aku mengerti, Sayang. Izinkan aku ada di sampingmu, bahkan jika kita hanya berdiam diri sejenak",


Yasmeen bersandar di dada Arya. Pandangannya kosong, teringat betapa senangnya mereka ketika pertama kali mengetahui kehamilan Yasmeen. Terbayang juga wajah mertuanya yang menantikan cucu bagi mereka.


"Sayang, ini bukan salah Yasmeen. Banyak faktor yang bermain dalam kehidupan, dan kita tidak selalu bisa mengendalikannya. Mas yakin Allah akan menitipkan kembali amanah untuk kita", Arya menenangkan dengan suara lembut


"Mas , mungkin ada yang salah dengan tubuh Yasmeen sehingga bayi kita tidak bisa bertahan di dalam sana", Yasmeen menenggelamkan wajah di dada Arya Aku merasa bersalah.


Arya mengangkat wajah Yasmeen dengan lembut, "Jangan katakan seperti itu, Sayang. Kamu hebat, dan tubuhmu tidak ada yang salah. Kita harus saling mendukung dan tetap kuat. Yasmeen harus menerima bahwa ini sudah menjadi kehendak Allah",


"Aku hanya ingin menjadi ibu yang baik, Mas. Aku ingin melihat anak kita tumbuh bahagia", Yasmeen menatap Arya dengan mata penuh harap.


"Sayang. Waktu akan memberi kita kesempatan lain, dan kita akan mendapatkan anak kita suatu hari nanti",


"Aku berharap begitu, Mas. Tapi rasanya begitu sulit untuk menerima kenyataan ini",


Arya mengusap lembut pipi Yasmeen "Mas mengerti perasaanmu. Ini adalah proses yang membutuhkan waktu. Kita akan melewatinya bersama-sama",


Arya menyentuh bibir Yasmeen dengan lembut "Mas selalu akan ada di sini untukmu, Sayang. Aku mencintaimu tanpa syarat, dengan segala perasaanmu", Mereka berdua saling berpelukan dalam hening.

__ADS_1


. . .


Daniel mendorong Rania menggunakan kursi roda kemudian membopongnya masuk ke mobil. Hari ini Rania keluar dari rumah sakit setelah dia dirawat akibat overdosis. Selama perjalanan pulang, Rania terlihat lemah dan masih terbawa perasaan kacau teringat kata-kata Arya bahwa dia sudah menikah lagi.


Sampai di rumah, Daniel dengan lembut menggenggam tangan Rania, mencoba memberikan dukungan dan ketenangan padanya. Mereka duduk bersama di ruang tamu, dan Rania akhirnya memulai untuk bercerita tentang perasaannya yang rumit terhadap Arya.


Rania mengungkapkan bahwa dia masih mencintai Arya, dan meskipun dia tidak menginginkan perpisahan pada awalnya. Dia menyadari kesalahan besar yang membuat Arya menceraikannya. Tapi Rania begitu terluka ketika Arya menikah lagi. "Aku bahkan bisa menjadi istri ke-2 baginya jika dia mau," ucap Rania dengan suara bergetar.


Daniel mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba memahami segala perasaan yang dirasakan oleh Rania. Dia tahu betapa sulitnya situasi ini bagi Rania, dan dia ingin membantunya menemukan jalan untuk pulih.


Setelah berbicara lebih lanjut, Daniel dengan bijak berbicara kepada Rania, "Cinta itu rumit, Rania. Aku mencintaimu, dan kau masih mencintai Arya. Sampai kapanpun aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku. Tapi cintaku ku pastikan selalu untukmu, bagaimanapun keadaanmu Rania. Jangan biarkan perasaan terhadap Arya menghalangi kesempatanmu untuk menemukan kebahagiaan baru", ucap Daniel


Rania merenungkan perkataan Daniel dan menyadari bahwa dia memang perlu memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk merenung dan menyembuhkan hatinya. Daniel berjanji akan selalu ada untuknya, dan mereka berdua sepakat untuk saling mendukung dalam perjalanan pulih dari cobaan ini.


Terdengar langkah kecil dari teras rumah. Bella meletakkan tasnya dengan riang dan membuka pintu dengan cepat. Dia melihat Rania duduk di sofa dengan senyum lembut di wajahnya. Bella langsung berlari ke arah bundanya dan memeluknya erat-erat.


"Bunda sudah pulang!" serunya dengan gembira.


Rania mengelus kepala Bella dengan lembut. "Iya, Nak. Bunda sudah pulang",


Melihat wajah Bella yang begitu mirip dengan Daniel, suaminya, membuat hati Rania campur aduk. Bella memang adalah buah hati mereka dari hubungan pra nikah yang mereka jalani dulu.


Saat itu, ingatan masa lalu kembali menghantuinya. Rania teringat akan masa-masa sulit ketika hubungannya dengan menjadi retak karena kehadiran Bella. Arya tidak bisa menerima kenyataan bahwa Bella adalah anak dari hubungan Rania dengan Daniel, sahabat Arya sejak kecil.


Perpisahan dengan Arya terasa sangat menyakitkan bagi Rania. Namun, dia selalu memberikan yang terbaik bagi Bella. Bella tak berdosa atas segala kesulitan yang dialami oleh orang tuanya. Dia hanya ingin mencintai dan memberikan kasih sayang pada putrinya itu.


Meskipun Rania mencintai Bella sepenuh hati, terkadang rasa sedih dan penyesalan menghantuinya. Rania berharap masa lalu bisa diubah, tetapi hidup tak selalu berjalan sesuai keinginan.


"Dia benar-benar mirip denganmu, ya?" ucap Daniel sambil menyentuh bahu Rania dengan lembut.


Rania mengangguk pelan. "Iya, kadang-kadang itu membuatku sedih, Dan. Aku merindukan waktu-waktu indah bersama Arya",


Daniel memeluk Rania erat-erat. "Satu hal saja Rania. Aku mohon jangan sebut Arya di depan Bella. Aku tak ingin membuatnya bingung. Kamu boleh membicarakan Arya sepuas mu saat bersamaku", bisik Daniel.

__ADS_1


"Baiklah, aku minta maaf", lirih Rania.


"Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik untuk Bella. Dia perlu merasakan cinta dan kasih sayang dari kita berdua", terang Daniel.


"Bunda sama Ayah lagi ngomongin apa?", tanya Bella mengagetkan mereka berdua.


"Ayah bilang sama bunda, untuk jaga kesehatan karena bunda sedang mengandung adik Bella", senyum Daniel pada putrinya.


Rania terdiam. Dia tak menginginkan kehamilannya sekarang. Ini mengingatkannya dengan kehamilan Bella dulu. Kehamilannya saat itu membuat dia harus berpisah dengan Arya. Dalam hati Rania ia berniat agar kehamilannya gugur.


. . .


Malam itu Rania kembali tidur seranjang dengan Daniel, suami sahnya. Daniel telah menyingkirkan benda-benda tajam dan obat-obatan keras yang bisa membahayakan Rania. Daniel paham betul bahwa kondisi kejiwaan istrinya masih belum stabil.


"Ran, apa yang kamu pikirkan sekarang?", bisik Daniel mengagetkan lamunan Rania.


Rania menoleh ke arahnya tanpa ekspresi. Tiba-tiba dia menarik kerah baju Daniel dan mel*mat bibir Daniel dengan sigap. Daniel yang mendapatkan serangan itu hanya bisa mengimbangi permainan Rania. Hampir sebulan birahinya tak tersalurkan. Sebagai lelaki normal tentu saja Daniel dengan senang menyambut suguhan dari Rania.


Rania seperti sedang kesetanan. Dia menc*mbui Daniel dengan brutal. Bahkan kali ini Rania menjadi yang dominan dalam permainan. Dia seperti tak kenal lelah hingga Daniel hampir kewalahan mengimbanginya. Tiba-tiba Daniel teringat sesuatu, usia kehamilan istrinya masih menginjak trimester awal. Sangat rentan untuk berhubungan suami istri.


Daniel menghentikan gerakan pinggul Rania yang melesak dan mengocok diatas tubuhnya. Dia menyadari maksud Rania berbuat seperti ini.


"Sayang hentikan!", teriak Daniel yang membalik posisinya menjadi di atas Rania dan melepaskan penyatuan tubuh mereka.


"Kenapa Dan aku ingin..", dalih Rania.


"Nggak Ran.. Ini nggak boleh", sesal Daniel.


"Tapi aku ingin Dan!", teriak Rania.


"Sayang please, kamu sudah janji pada Bella untuk kesehatanmu", ujar Daniel menenangkan Rania.


"Lepasin Dan! Lepas!", berontak Rania yang kedua tangannya terkunci oleh genggaman Daniel.

__ADS_1


Daniel hanya bisa memeluk Rania sambil mengunci tubuh istrinya agar tidak berontak. Air mata Daniel meleleh, tubuhnya lelah menerima penolakan Rania namun hatinya tidak.


Bersambung..


__ADS_2