
. . .
Arya bingung harus mulai dari mana, tapi dia pikir sangat perlu Yasmeen tahu tentang Alyna. Ada sesuatu yang harus dia jelaskan. Dia mengambil ponselnya dan dengan hati-hati menekan nomor telepon Yasmeen.
Tuuuut... Tuuuuut... Tuuuuut...
"Assalamualaikum mas.." suara hangat Yasmeen terdengar di seberang sambungan.
"Waalaikumsalam warahmatullah.. Sayang, sedang apa sekarang?," kata Arya dengan nada canggung.
"Tiduran mas. Di sini jam 9 malam. Apa pekerjaan mas sudah selesai? Apa semua berjalan dengan lancar?" Yasmeen bertanya dengan penuh antusiasme.
"Iya sayang.. Semuanya berjalan lancar di sini. Tapi sebenarnya, ada sesuatu yang harus mas sampaikan," kata Arya, sedikit ragu.
"Apakah semuanya baik-baik saja mas?" tanya Yasmeen, mulai merasa cemas.
Arya mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Jadi, mas benar-benar nggak tahu soal ini sebelumnya. Tapi tolong percaya sama mas, disini mas bersikap profesional dalam pekerjaan. Mas mohon Yasmeen jangan berpikir macam-macam soal mas.."
Yasmeen merasa jantungnya berdebar-debar mendengar cerita ini, namun dia mencoba untuk tetap tenang, "Mas mau bicara soal apa? Kenapa Yasmeen cemburu?"
__ADS_1
"Perusahaan yang berkolaborasi dengan mas, mereka memilih Alyna sebagai brand Ambassador produk kami" jelas Arya dengan jujur.
Yasmeen merasa sedih dan kecewa mendengar hal itu. Jantungnya berdegup tak karuan mengingat foto ci*man suaminya dengan wanita itu. Tapi dia mencoba mengumpulkan pikirannya sebelum bertanya lagi, "Lalu, bagaimana reaksi mas?"
Arya menjelaskan, "Jujur mas sangat terkejut. Dan Alyna juga meminta maaf atas tindakannya kemarin. Sebelumnya mas ras itu bukan hal yang bisa dimaafkan. Karena perbuatan dia menyakiti hati istri mas. Tapi mas harus tetap bersikap profesional, jadi kami bersikap selayaknya rekan bisnis saja. Sayang, mas sedang berusaha jujur pada Yasmeen entah bagaimana reaksi Yasmeen setelah mendengar ini. Mas hanya menjaga komitmen kita untuk saling terbuka keadaan masing-masing."
Yasmeen merasa lega mendengar sikap tegas Arya terhadap situasi tersebut. Meskipun hatinya sedikit terluka oleh peristiwa itu, dia tahu bahwa Arya benar-benar mencintainya.
"Terima kasih telah jujur mas.. Meskipun Yasmeen belum bisa menghilangkan rasa cemburu. Yasmeen tahu bahwa kita selalu akan berkomitmen satu sama lain. Yasmeen bangga memiliki suami seperti kamu," kata Yasmeen dengan lembut.
Mendengar kata-kata itu, Arya merasa lega. Walau terpaut usia yang cukup jauh, namun Yasmeen ternyata bisa bersikap dewasa.
. . .
Yasmeen sedang berjalan di halaman rumah. Lahan yang cukup besar itu dipenuhi rumput hias dan pot-pot bunga yang tersusun rapi. Ada sebuah pohon mangga yang cukup besar di halaman. Terlihat ada beberapa buah yang mulai membesar ukurannya. Yasmeen tertarik dengan sebuah mangga muda yang menggantung di salah satu tangkai. Buah itu terlihat mudah untuk dijangkau olehnya.
Namun setelah didekati ternyata posisinya lebih tinggi. Yasmeen menggeser sebuah batu seukuran semangka untuk dipijaknya. Dia mencoba menggapai mangga muda itu. Tanpa diduga permukaan batu yang licin membuat kakinya terpeleset. Dia jatuh dengan keras, menimpa perutnya yang rentan. Rasa sakit yang tiba-tiba menyergapnya dan kepanikan seketika melanda.
Darah mengalir dikedua kakinya. Yasmeen hanya bisa mematung merasakan sakit yang teramat sangat. Secepat kilat, mertua Yasmeen mendapati keadaannya yang sempat terdengar berteriak dari arah halaman.
__ADS_1
Mereka segera membawa Yasmeen ke rumah sakit setempat. Di sana, setelah menjalani beberapa pemeriksaan dan tes medis, berita berat pun datang, kandungan yang masih sangat muda itu telah keguguran akibat kejadian yang tidak terduga.
Arya sedang di tengah-tengah rapat penting, ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ia melihat panggilan itu dari papahnya, dan khawatir terjadi sesuatu dengan Yasmeen, Arya segera menjawabnya.
"Assalamualaikum, nak," sapanya lembut dari sisi lain panggilan.
"Waalaikumsalam Pah, ada apa? Arya lagi meeting", jawabnya.
Papah dengan nada lembut mencoba menenangkan Arya, "Maaf papah harus menyampaikan berita buruk. Yasmeen mengalami kecelakaan. Dia terjatuh dan mengalami keguguran. Kondisinya stabil, tapi dia sedikit terluka."
Arya merasa dunianya seakan runtuh mendengar berita itu. Tak terasa air matanya berlinang dan ia hanya bisa membayangkan betapa sakitnya hati Yasmeen yang harus kehilangan anak yang sedang mereka tunggu-tunggu.
"Dia sedang di rumah sakit sekarang. Mamah sedang merawatnya," sambung papah, mencoba memberikan informasi lebih lanjut.
"Arya segera pulang, Pah. Tolong beritahu Yasmeen bahwa saya sangat merindukannya dan akan selalu ada di sisinya," ucap Arya, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Setelah mengatur perjalanan pulang, Arya segera menuju bandara dan terbang ke Indonesia untuk bersama dengan Yasmeen. Di tengah penerbangan, ia tak henti-hentinya memikirkan bagaimana Yasmeen harus menghadapi keguguran ini tanpa kehadirannya di sampingnya.
Bersambung..
__ADS_1