
. . .
Papah berlari di jalan setapak. Kanan kirinya pohon besar dengan ranting menyeruak menggores-gores tubuhnya yang coba menerobos jalan itu. Dia hanya mengenakan kaos lengan panjang. Dengan suhu 15 °C, disana sangat dingin. Sudah beberapa lama kakinya melangkah, belum juga bertemu pos jaga.
Tiba-tiba terdengar sayup-sayup orang berbicara dan suara langkah kaki. Ternyata itu adalah rombongan pendaki lain.
"Tolong mas.. Tolong teman saya", ucap papah terengah-engah.
"Ada apa mas?", sahut salah satu dari mereka.
"Teman saya hipotermia dan terluka, butuh tandu untuk membawa dia turun mas", terang papah.
Lalu rombongan itu memutuskan untuk mengikuti papah kembali ke tempat temannya di tinggalkan. Mereka berenam, laki-laki semua. Tiba ditempat terakhir papah meninggalkan temannya yang ia selimuti dengan jaket dan beberapa selimut yang dia punya.
"Billy! Bill.. Gue dateng bawa bantuan Bil!", teriak papah. Namun tak ada jawaban.
"Billy! Ini gue, Sultan Bil! Ayo kita pulang!" teriaknya lagi.
Para pendaki yang lain juga meneriakkan nama Billy namun belum ada jawaban. Hingga akhirnya salah seorang pendaki menemukan sesosok tubuh dibalik pohon rindang. Tubuhnya telah terbujur kaku dan ada luka gigitan ular di kakinya.
"Disini!", teriak pendaki itu.
__ADS_1
"Billy! Bangun Bill! Ini gue!"
"BILLY!!!",
Lalu papah terbangun dari tidurnya. Dipandanginya ia masih berada di ranjang rumah sakit. Tangannya masih terpasang selang infus.
Papah adalah seorang pria yang energik dan gemar olahraga. Malam itu, setelah bermain badminton dengan teman-temannya, ia pulang dengan senyuman di wajahnya. Namun, beberapa saat kemudian, ia merasa sesak napas dan mengeluhkan sakit dada.
Mamah sangat khawatir dengan keadaan papah sekarang. Sementara Yasmeen juga setia menemani mamah menjaga papah selama beberapa hari di rumah sakit.
Papah seperti banyak memikirkan sesuatu. Sering kali pandangannya kosong menerawang ke arah langit-langit kamar tempatnya dirawat.
"Pah.. Mikir apa sih?", tanya mamah.
. . .
"Mas, papah sekarang jarang ngomong, lebih sering ngelamun. Kenapa ya?", tanya Yasmeen membuka obrolan saat perjalanan pulang.
"Mungkin karena khawatir kondisi kesehatannya sayang, papah jarang sakit", jawab Arya.
"Oh iya mas, Billy itu siapa?",
__ADS_1
"Billy? Mas nggak tahu siapa itu. Kenapa sayang?",
"Papah pernah ngelindur sambil manggil-manggil nama Billy mas. Tapi Yasmeen nggak sempat tanya mamah",
"Oh ya? Siapa ya? Mas nggak tahu siapa itu",
Mobil mereka melaju menembus padatnya kota jakarta di siang hari. Sesampainya di apartemen ternyata ada kiriman parcel dari seseorang yang ditunjukkan untuk Yasmeen dan Arya. Parcel itu berisi coklat dan makanan ringan.
"Dari Alyna sayang..", ujar Arya.
Yasmeen tersenyum dingin dan melirik rangkaian snack yang cantik itu.
"Nggak usah dimakan ya kalo Yasmeen nggak mau, atau mas kasihkan mba-mba resepsionis aja gimana?", usul Arya.
Yasmeen mengangguk tanda setuju. Arya berjalan ke lobi resepsionis dan memberikan parcel itu pada staff di sana. Mereka sangat senang menerimanya.
"Pak Arya, ini bener buat kita? Coklatnya mahal loh pak", celoteh mbak Rina salah satu resepsionis.
"Iya, istri saya yang suruh ngasihkan ini ke kalian", jelas Arya.
"Wah, tolong sampaikan terimakasih kami ke mba.. Eh.. Bu Yasmeen ya pak", timpal Tari.
__ADS_1
"Iya mba Tari, nanti saya sampaikan", senyum Arya.
. . .