BERPETUALANG Di DUNIA PERSILATAN

BERPETUALANG Di DUNIA PERSILATAN
31. Rawa Bangkai


__ADS_3

Kakek berbaju petani itu terus berjalan mengikuti gadis berpayung yang terus melangkah dengan tenang. Kondisi hutan ini berantakan akibat monyet raksasa mengamuk. Pohon - pohon purba berukuran besar malang melintang berserakan.


Dengan gesit dan lincah gadis she ( Marga ) Yo ini terus berjalan..seolah tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Ia terus berjalan..mata beningnya menatap kedepan dengan roman serius.


" Hati - hati , Paman Cu Keng " katanya pelan namun terdengar jelas oleh kakek petani bernama Cu Keng itu.


Mereka sampai di sebuah rawa..rawa itu sangat luas..dan rawa itu mengeluarkan hawa busuk menusuk hidung. Mayat - mayat hewan dan manusia berserakan di dekat rawa bangkai itu. Bahkan ada beberapa sudah menjadi tulang belulang...


Gadis cantik berbaju merah itu memandang sekitar ..ia meneliti keadaan sekitar rawa itu.


Mata beningnya yang tajam melihat di ujung rawa di sisi berlawanan dimana dia berdiri ada sebuah Goa. Ia melihat ada semacam gerakan atau bayangan di dalam goa tersebut.


Gadis bermarga Yo ini setelah memeriksa keadaan dengan teliti , berkata..


" Kita tak bisa memutar...kita harus menyebrangi rawa busuk ini...Paman Cu lindungi hidungmu dengan tenaga dalam...hawa busuk ini mengandung racun. kau cari dan buatlah sebuah perahu untuk kita menyeberangi rawa ini. "


perintah Gadis itu.


" Baik , Nona .." Segera kakek Cu Keng berkelebat ke arah kanan hutan . Untuk melakukan apa yang diperintahkan nonanya.


Si nona bergerak perlahan...melirik ke kiri dan berkata...


" keluar lah ...aku tahu kau disana..syutt.. " ia berkata dingin sambil menyambit ke arah rawa..dan...segera terdengar suara kekeh...


" Hahaha...gadis betina yang panas...byurr " dari dalam rawa meloncat keluar sesosok tubuh. Tubuhnya bersalto sekali di udara lalu mendarat dengan mulus..menandakan kemampuan ilmu peringan tubuh hebat.


Berdiri seorang kakek tua renta yang hebatnya bajunya tidak terlihat basah , padahal baru keluar dari dalam air.


Kakek renta itu bajunya sederhana hanya kain kasar . kedua mata kakek itu berputar - putar menandakan dia adalah seorang gila. Dan ini membuat gadis itu menjadi hati - hati.


" Hehehehe...sudah 100 tahun lebih kami berdiam disini , di rawa bangkai ini...dan selama itupula aku tak pernah bertemu manusia.." kata kakek itu.

__ADS_1


Mendengar kata " Kami " , membuat gadis bermarga Yo waspada, hemm ada orang lain selain kakek gila ini , batinnya..


" Yah memang , ada beberapa manusia yang secara tak sengaja masuk ke sini..dan ..mereka langsung mati menghirup udara rawa bangkai ini.." lanjut kakek renta itu.


" Dan, belakangan ini aku merasakan banyak manusia masuk ke sini dan ini membuat penghuni Pegunungan ini marah..termasuk si Raja Monyet yang jarang muncul..aku sendiri bersembunyi diseberang rawa...aku melihat bagaimana Si Raja monyet mengamuk membantai manusia yang datang.." kakek itu bercerita.


Gadis berpayung , hanya diam dingin...


Saat itu rombongan pendekar Sekte Pisau Terbang yang mengawal para saudagar atau pedagang telah tiba. Dan mereka menyaksikan apa yang dijelaskan oleh kakek itu. Ji Sok memberi aba - aba waspada pada adik - adik seperguruannya.


" Hehehhe...banyak manusia -banyak manusia...kalian keluarlah ..banyak daging segar datang..kita bisa makan banyak..." kakek renta itu berkata , lalu dari dalam rawa keluar orang -orang aneh. Lebih dari sepuluh orang merayap keluar dan pakaian mereka basah kuyup. Mata mereka sama dengan mata si kakek gila itu menandakan mereka gila juga.


Pucat wajah para saudagar melihat manusia - manusia iblis menurut pandangan mereka. Ji sok dan adik - adik seperguruannya bersiap bertempur. Aura pertarungan menerangi tempat itu. Mereka mencabut senjata masing - masing dan ditangan kiri mereka ada lima pisau kecil.


" kalian bertiga lindungi para pedagang..sisanya kita akan bertarung..mari kita berjuang bersama..mati hidup kita serahkan pada Tuhan.." kata si Rajawali hitam dengan gagah.


Sepuluh orang penghuni rawa itu mengepung gadis berpayung dan rombongan Ji Sok..


Segera para pendekar Sekte Pisau Terbang , bertumbangan satu demi satu , tingkat mereka hanya di ranah Pendekar kelas 1. Hanya Ji Sok yang sanggup menyambut serangan manusia rawa. Serangan manusia rawa ini selain dahsyat juga setiap gerakkan mereka mengeluarkan angin busuk..dan aroma busuk itu mengandung racun pula.


Susah payah Ji Sok...ia bergerak cepat membunuh manusia rawa didekatnya..ia ingin segera menyelesaikan pertarungan ini demi membantu adik - adiknya yang terdesak hebat.


" Keparat... !!! " Bentaknya marah...ia marah melihat adik - adiknya bertumbangan dalam keadaan mandi darah. Bahkan ketiga pendekar yang mengawal para saudagar telah ikut terjun ke pertempuran.


" Syutt...." Jarum merah melesat...menembus masuk kedalam kepala dua manusia rawa yang tanpa bersambat telah tewas .


" Syuttt..." gadis berpayung merah ini kembali menyambitkan jarumnya...ia membantu para pendekar dari Sekte Pisau Terbang yang kepayahan menghadapi manusia rawa itu.


Kembali tiga manusia rawa roboh tewas terkena jarum merah. Kini keadaan menjadi berimbang lima lawan lima...para pendekar sekte Pisau terbang melawan manusia rawa.


Melihat sepak terjang gadis itu yang dengan mudah membunuhi anak buahnya..si kakek gila menggereng lalu mengambil ranting pohon purba raksasa yang bertumbangan karena amukan si Raja Monyet. Ia sambitkan ranting itu ke arah gadis bermarga Yo itu..

__ADS_1


" Syutt..." Ranting itu melesat dan si gadis dengan gerakan ringan laksana burung walet..melompat kesamping menghindari sambitan si kakek.


" brakkk..Ukhhh...". Seorang manusia rawa dan seorang pendekar Sekte Pisau Terbang tewas tersate terkena sambaran ranting itu. Mereka tewas bersama.


Segera si kakek gila melesat menghantam si gadis dan si gadis menyambutnya dengan payung tertutup.


" Plakk...dess...!!! " Begitu tangan si kakek bertemu payung..payung itu terbuka , seketika pandangan si kakek menjadi gelap...dan saat itu dengan kuat sebuah kaki ramping menendang perutnya dengan cepat dan kuat..kakek itu terlempar kebelakang...mulutnya mengeluarkan darah segar ..ia terluka..


Payung yang tadi terbuka lalu menutup lagi...dan pemiliknya memandang tenang melihat hasil dari serangan baliknya kepada lawannya.


" Hemm..kakek gila kau sudah banyak melakukan kejahatan...hari ini kau bertemu denganku...hari ini adalah hari kematianmu.." gadis itu berkata dingin.


" Seni Pedang Seribu Bunga..; Bunga berguguran.." Segera aura merah berkuasa disekitar tubuh gadis itu...munculnya aura ini dibarengi dengan ganda harum merajai sekitarnya...membuat bau busuk yang keluar dari dalam rawa tertutup oleh wangi bunga..


Si Kakek melihat ini juga segera mengeluarkan aura bertarungnya...aura hitam kematian muncul mengelilingi badannya. Ia berteriak...


" Cakar tengkorak..." kedua tangannya membentuk cakar...


kedua kakinya agak menekuk lalu..


" Syutt...." aura hitam kematian melesat kearah sinar merah, payung itu melayang menyambut terjangan si kakek penghuni rawa bangkai...


" Ukkkhh......!! , Begitu cakar si kakek bertemu payung. Payung itu terbuka secara ajaib...lalu payung itu berputar..dari putaran itu keluar seribu jarum merah...


Jarum - jarum merah itu segera melesak masuk kedalam tubuh kakek renta itu. Kakek penghuni rawa bangkai itu tak bisa menghindar karena serangan itu begitu mendadak ...dan serangan itu dilakukan dalam jarak yang sangat dekat ..tak sempat menghindar.


Namun hebatnya , ia masih bisa berdiri tegak ..matanya masih bisa melihat payung itu terbang kembali ke pemiliknya...wajah cantik terlihat dingin..


" Bruakk..." Tubuh si Kakek penghuni rawa bangkai itu roboh tewas....


Perhatian gadis itu teralih..lalu melihat ke arah kanan hutan..ia melihat kakek Cu Keng berlari cepat ke arahnya...dan di samping si kakek petani mengikuti seorang muda berpakaian pelajar ikut berlari dengan gesit pula.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2