
"Enggaklah Bund, Rani justru senang bisa nyenengin ayah sama bunda.
Nanti ayah sama bunda disana seminggu ya.
Minggu depan baru Rani antar pulang ke kampung lagi."
"Iya, nak!
Bunda juga ingin tau, Jakarta itu seperti apa dan bagaimana kamu disana. Iya kan, yah?"
Pak Danu mengangguk dengan senyuman hangat menatap istri dan anaknya. Ucapan syukur berkali kali ia serukan di dalam hatinya.
"Nanti yang jaga rumah siapa kalau kita semua pergi?" Bu Hanna menatap suaminya dan pak Danu tersenyum dengan tenangnya ke arah istrinya.
"Gak usah khawatir bund!
Nanti akan ayah minta si Hamid untuk tinggal disini selama kita di Jakarta, sekalian urus ternak dan ladang." sahut pak Danu yakin.
"Apa Hamid nya mau?
kan dia harus jaga ibunya juga, Hamid pasti repot kalau bolak balik, jagain Ibunya dan ngurus rumah ini. Kasihan!" timpal bu Hanna ragu.
"Ya Hamid biar bawa sekalian ibunya kesini lah Bund.
Sebenarnya, ayah itu sudah lama ingin minta Hamid sama ibunya tinggal disini.
Kan disamping ada paviliun, kasihan.
Rumahnya sudah tidak layak huni.
Kalau bunda sama Rani setuju, ayah besok akan bicarakan sama Hamid soal rencana ayah ini. Gimana?"
"Kalau Rani sih setuju saja, Hamid anaknya rajin dan baik. Kasihan juga sama Bu Ambar sudah tua dan sakit sakitan.
Rani setuju saja, yah.
Kalau Hamid mau, Rani akan menyekolahkan nya ke SMU. Bilang saja ke Hamid sekalian." sahut Rani yang berusaha memahami keadaan pemuda yatim piatu yang dirawat oleh Bu Ambar, janda tanpa anak, yang sudah menganggap Hamid seperti anak kandungnya sendiri.
"Bunda sih setuju saja, Hamid anak yang baik dan jujur. Bahkan saat Rani di buli dan di fitnah dulu, Hamid dan Bu Ambar yang berdiri di pihak kita dan membantu mencari bukti jika Rani memang tidak bersalah.
Sudah sepantasnya kita membalas perbuatan baik mereka." Bu Hanna juga ikut menimpali.
"Alhamdulillah, kalau begitu nanti pas di ladang, ayah akan bicarakan niat kita ke Hamid. Semoga dia mau menerima niat baik kita."
"Aamiin, semoga!" sahut Maharani dan ibunya serempak.
"Kalau begitu, biar ibu bersihkan paviliunnya.
Dan pasang kasur juga seprainya.
Ibu yakin, Bu Ambar dan Hamid gak keberatan.
Ibu senang kalau mereka mau tinggal disini, biar ibu ada temannya saat ayah pergi ke ladang dan Rani kembali ke kota."
"Kalau begitu biar Rani bantu.
Kita taruh barang barang yang dibutuhkan, seperti alat masak, lemari dan kulkas yang satu pintu, di taruh saja disana bund.
__ADS_1
Kan Rani sudah belikan kulkas baru yang lebih bagus buat bunda."
"Iya, nanti biar ayahmu sama Hamid yang pindahin.
Bunda suka kasihan kalau lihat Hamid. Dia itu anaknya cerdas, cuma keadaan saja yang tidak berpihak sama dia.
Terimakasih ya, nduk. Kamu sudah berbaik hati untuk membantunya bisa sekolah lagi. Insyaallah Alloh akan membalas kebaikan kamu. Aamiin!"
"Rani pernah ada di posisi Hamid, jadi Rani tau seperti apa rasanya.
Lagian Hamid kan bunda bilang dia anak yang pintar, dia pasti akan jadi orang sukses nantinya.
Rani ingin membantu dan agar Hamid lebih bersemangat lagi untuk meraih mimpinya."
"Iya, nduk. Kamu benar!
Yasudah, yuk kita mulai bersih bersihnya.
Soal Hamid kita percayakan sama ayah kamu, bunda yakin, dia bisa bujuk Hamid.
Hamid itu tiap hari bantuin ayahmu di ladang dan nyari makanan buat sapi sama kambing kita. Anak itu benar benar rajin."
Maharani dan Bu Hanna bahu membahu membersihkan paviliun milik mereka yang ada di samping rumah, ada dua kamar yang cukup untuk satu kasur. Maharani memasang sprai baru dan membersihkan debu.
Ada dapur kecil untuk memasak dan satu kamar mandi. Meskipun kecil tapi cukup nyaman untuk ditempati oleh Hamid dan ibunya. Karena rumah Bu Ambar sudah hampir roboh, tak ada satupun warga yang Sudi membantu kesulitan mereka.
Sudah jadi kebiasaan, warga yang kaya akan dihormati dan di istimewa kan, sedang orang yang miskin tak akan pernah dianggap keberadaannya. Seperti halnya Hamid dan ibunya.
Hanya keluarga pak Danu yang masih mau perduli dan menolong Hamid serta ibunya.
Dan sekarang, semenjak Maharani kerja di kota, kehidupan mereka berangsur membaik dan bahkan sudah banyak tetangga yang mau menghargai dan menganggap keberadaan mereka.
Apalagi setelah tau, Maharani setiap pulang kampung selalu membawa mobil sendiri. Semakin membuat Pak Danu di segani oleh orang orang sekitar karena sudah dianggap jadi orang kaya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Apa pak Danu tidak bercanda?
Pak Danu mengijinkan saya dan ibu tinggal dirumah bapak?" tanya Hamid dengan mata yang berkaca kaca.
"Iya, kalian tinggal di paviliun yang ada disamping rumah, nanti kamu juga bisa bantu bantu bapak di ladang kayak biasanya dan tetap cari rumput untuk makan sapi dan kambing.
Soal makan, kamu gak usah pikirin. Nanti biar diurus Bu Hanna.
Dan satu lagi, Maharani mau kamu sekolah lagi.
Kejar cita cita kamu, kamu harus jadi orang sukses.
Lihat mbak Maharani, dulu dia selalu diperlakukan tidak adil, tapi sekarang dia bisa sukses dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Berjuanglah, Le!
Kami akan membantumu!" ujar pak Danu dengan menatap wajah Hamid lekat.
Pemuda delapan belas tahun itu, sudah meneteskan air matanya, antara terharu dan bahagia. Masih ada yang perduli dengan nasibnya.
"Ya Alloh, terimakasih pak, terimakasih banyak!
__ADS_1
Hamid janji, Hamid akan sungguh sungguh dan berjuang keras untuk mewujudkan impian Hamid!" sahut Hamid haru, dan pak Danu mengangguk lega, karena Hamid mau menerima niat baiknya.
"Kamu sudah saya anggap anak sendiri, mid!
Jagalah kepercayaan bapak dan keluarga bapak untukmu. Kamu paham kan maksud bapak?"
"Iya, pak.
Insyaallah Hamid akan selalu menjaga amanah ini.
Hamid janji akan membalas semua kebaikan bapak sekeluarga.
Terimakasih sudah mau perduli dengan orang miskin seperti saya ini, pak!"
"Kaya miskin bukanlah ukuran, Le!
Taat dan patuh dengan ajaran Robb MU lah yang jadi tolak ukur kebaikan dari perilaku mu.
Bapak tidak minta apa apa. Cukup jadilah anak yang baik dan taat beribadah, ya?"
"Insyaallah, pak. Insyaallah!" sahut Hamid mantap dan penuh haru. Tak henti hatinya terus menggaungkan kalimat syukur.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1