
"Astaga, Rani!
Mati kita!" pekik Nina yang langsung cemas karena obrolannya terdengar langsung oleh sang atasan.
"Bodoh amat!
Aku justru senang kalau dia akan memecat ku lantaran mendengar kata kata sarkas ku. Kamu tenang saja, aku yang menjelekkan pak Haris, bukan kamu. Aku yang akan bertanggung jawab kalau dia tidak terima!" sahut Maharani dengan senyuman tipis, entahlah hatinya seolah puas melihat wajah marah Haris Mahendra.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Nina yang cemas sedari tadi, kini merasa lega, karena saat dirinya datang keruangan Fawas, laki laki yang jadi kaki tangannya Haris tidak bicara menyinggung soal obrolannya tadi bersama Maharani.
Bahkan Fawas meminta Nina untuk mengerjakan tugas ke luar kota selama tiga hari.
Sedangkan Maharani justru merasa gelisah, karena sejak pagi hingga jam istirahat usai, belum ada panggilan tugas dari Fawas maupun Haris.
Padahal Maharani menunggu dirinya dipanggil dan Haris akan marah marah lalu memecatnya. Justru yang ada dirinya dibiarkan saja tanpa ada ucapan apapun.
Maharani memilih mengerjakan tugas yang lainnya dan menggunakan otak cerdasnya untuk merancang anggaran gedung baru yang kini sedang dikerjakan.
Saat tengah fokus dengan angka angka di laptopnya, sekilas Maharani melihat bayangan Haris yang melewati ruangannya tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Tidak seperti biasanya, Haris yang akan selalu menoleh dan tersenyum saat dirinya melewati ruangan Maharani.
"Apa dia pikir dengan mendiamkan aku, aku jadi susah gitu?
Gak bakalan, yang ada justru hatiku jadi tenang tanpa harus menghadapi manusia dingin sepertinya." gumam Maharani dengan tersenyum kecut, tapi entah kenapa dia merasa ada yang kurang di dalam hatinya. Ada nyeri saat Haris tidak lagi memperhatikan dirinya. Namun Maharani berusaha keras untuk menyangkal perasaannya itu.
Hari Sabtu pagi, Maharani memutuskan untuk pulang menemui orang tuanya, perasaan rindu sudah bergelayut manja di hatinya.
Seperti biasa, Maharani akan membawa mobilnya sendiri dan secara tidak sengaja saat Maharani mampir ke mini market untuk belanja oleh oleh yang akan dibawa pulang, bertemu dengan Akbar yang tengah berbelanja bersama seorang wanita muda.
"Itu kan Akbar!
Sama siapa dia?" batin Maharani dengan mata yang tak berhenti menatap pada dua orang yang tengah berjalan menyusuri lorong seperti seorang kekasih. Sesekali perempuan yang bersama Akbar bergelayut manja di lengan miliknya Akbar.
__ADS_1
"Tidak usah bingung begitu, itu belum seberapa!
Wajah kalem dan gaya alim nya belum tentu menjamin jika orang itu benar benar baik dan tulus." tiba tiba ada suara yang begitu Maharani kenali terdengar, saat Maharani mengalihkan pandangannya, Haris sudah berdiri tegap di belakangnya dengan wajah datarnya.
"Dia kekasihnya Akbar, entah yang ke berapa!
Dan saat ini, Akbar sudah menikah siri dengan seorang wanita yang sudah dia hamili. Mereka tinggal di apartemen mewah mawar biru.
Kalau tidak percaya, datanglah!
Dia tinggal di unit nomor dua ratus sepuluh di lantai sembilan." sambung Haris menjelaskan tanpa diminta.
"Apa kamu tidak sedang menjatuhkan nama baiknya Akbar?" sahut Maharani penuh selidik dengan tatapan tajam diarahkan pada Haris.
"Buat apa?
Meskipun aku cemburu pada laki laki itu, karena orang tua kamu lebih memilihnya. Tapi aku tidak akan berbuat serendah itu untuk menghancurkan harga diri seseorang.
Setelah aku mendengar perjodohan kamu dengan laki laki itu, aku meminta Fawas untuk menyelidiki dia, dan faktanya apa yang sudah aku sampaikan barusan.
Datanglah ke apartemen laki laki itu, tanpa harus kamu meminta ijinnya lebih dulu. Pasti kamu akan menemukan fakta yang sebenarnya tentang dia." sambung Haris yang masih bicara dengan nada dingin. Lalu pergi meninggalkan Maharani begitu saja.
"Apa aku harus membuktikan ucapannya Haris?
Sepertinya aku akan mencari tau setelah bertemu ayah bunda. Jika memang yang dikatakan Haris semua benar, aku tidak akan segan untuk menolak perjodohan ini." gumam Maharani dengan pikiran yang mulai kacau
Matanya masih menatap punggung laki laki yang akhir akhir ini membuatnya tidak tenang.
"Kenapa harus dia, ya Tuhan?
Kenapa tiap kali menatap mata elang itu, hatiku seperti merasakan sesuatu yang aku sendiri tidak tau itu apa!
Semoga saja itu tidaklah benar, tak mungkin aku jatuh cinta pada laki laki kejam itu!" batin Maharani merintih saat mengingat sikap Haris di masa lampau.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️