
"Keluar kamu!" teriak preman preman itu dengan menggebrak kaca.
Maharani masih terdiam dan berharap segera datang bantuan.
Preman preman itu semakin beringas saat Maharani tidak mau keluar dari mobilnya.
Mereka memecahkan kaca, dan membuka paksa pintunya, Maharani diseret masuk kedalam mobil mereka dan meluncur ke markas.
Saat mobil yang ditumpangi Fawas dan Haris sampai, Maharani sudah tidak ada.
Hanya tertinggal pak Danang yang terluka parah dan tak sadarkan diri, bahkan mobil Maharani terlihat sudah hancur.
"Aku tau kemana mereka membawa Maharani.
Kamu sudah menghubungi polisi dan ambulance?" Haris menatap lekat ke arah Fawas yang mengangguk.
"Bagaimana anak buahmu?" sambung Fawas menahan gejolak di dalam dadanya.
"Sebentar lagi mereka akan sampai.
Lebih baik kita langsung mencari Maharani sebelum terlambat.
Biarkan Leo yang mengurus pak Danang, dia sudah dekat dari sini." sahut Fawas serius dan memasuki mobilnya kembali yang diikuti Haris.
Mereka kembali membelah jalanan menuju markas dimana dulu Haris dan gengnya senang berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Haris sangat yakin, tempat itulah yang Belinda jadikan tempat dirinya saat ini untuk menampung para preman dan targetnya.
Dan benar saja, Maharani memang benar benar dibawa kesana bahkan mobil milik Belinda juga ada di halaman.
"Apa yang kamu lakukan Belinda?" Bentak Haris saat Belinda akan membakar wajahnya Maharani.
"Haris!" Belinda langsung pucat pasi aksinya dipergoki oleh Haris.
"Ternyata kamu tak lagi bisa dibajak bicara baik baik, Belinda!
__ADS_1
Lepaskan Maharani, dia tidak punya salah apapun padamu, Kenapa kamu begitu membencinya?" sahut harus dengan wajah datarnya, berusaha bersikap tenang untuk mengelabuhi Belinda agar percaya padanya.
"Dia penghalang bagiku, kamu lebih memilih wanita ini, dari pada aku yang sudah bertahun tahun mencintai kamu Haris!" sahut belinda dengan wajah sendunya, cinta sudah membuatnya gila.
"Kamu jangan gila Belinda. Hanya karena ambisi mu itu, kamu tega mencelakai orang lain.
Cinta tidak bisa di paksa, apalagi d ndang sikap kamu yang seperti ini. Siapapun laki laki itu, pasti tidak akan Sudi mempunyai pasangan kejam dan tidak berhati sepertimu." tekan Haris yang begitu kesal dengan kelakuan Belinda yang keterlaluan.
"Lepaskan Maharani, kalau kamu tidak mau dipenjara!" sambung Haris yang menatap nyalang pada Belinda yang justru menyeringai jahat dan mendekatkan air keras pada Maharani.
"Cukup Belinda, hentikan!" teriak Haris cemas, sementara itu Fawas berusaha mencari celah untuk menggagalkan aksi Belinda.
"Hahahaa, kenapa Haris?
Apa kamu masih mencintai wanita ini saat wajahnya sudah rusak oleh luka bakar dari air keras di tanganku?
Kita lihat, seberapa besar cintamu untuk perempuan buruk rupa ini, hahaa!" Belinda yang akan menggerakkan tangannya untuk menyiramkan air keras ke wajah Maharani tiba-tiba terjatuh oleh tendangan kakinya Fawas, sontak saja, air keras yang ada ditangannya mengenai tubuhnya, Belinda menjerit kesakitan dan membuat suasana seketika hening, tidak ada yang berani mendekat.
Sedangkan Haris langsung membuka ikatan di tengah tubuh Maharani, dan beberapa preman yang tadinya berdiam diri langsung memilih kabur, tapi sudah diatasi oleh beberapa anak buah Fawas.
"Apa yang kamu lakukan, akhirnya berbalik pada dirimu sendiri, Belinda! mungkin inilah hukuman dari perbuatan jahat mu selama ini." Haris menatap Belinda dengan wajah datarnya.
Sedangkan preman preman suruhan belinda sudah diserahkan pada polisi oleh anak buahnya Fawas.
"Kamu gak papa?" tanya Haris cemas menatap wajah kuyu Maharani.
"Aku baik baik saja, terimakasih!" sahut Maharani datar, dan menolak disentuh oleh Haris.
"Pak Fawas, boleh minta tolong antarkan saya pulang?" Maharani menatap ke arah Fawas dengan wajah sendu.
"Baiklah, mari!" sahut Fawas sambil tersenyum miring ke arah Haris yang terlihat kesal dengan wajah meledek saudaranya itu.
"Sialan!" gerutu Haris yang mengikuti langkah Maharani dan Fawas.
Haris memilih naik sepeda motor milik Leo, sedangkan mobilnya di pakai Fawas mengantarkan Maharani pulang kerumahnya.
__ADS_1
"Semoga suatu saat, kamu benar benar memaafkan aku, Maharani!
Aku bisa gila kalau kamu terus mendiamkan aku seperti ini." gumam Fawas sambil menatap kepergian pujaan hatinya bersama saudara sepupunya itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️