
"Iya, pak.
Insyaallah Hamid akan selalu menjaga amanah ini.
Hamid janji akan membalas semua kebaikan bapak sekeluarga.
Terimakasih sudah mau perduli dengan orang miskin seperti saya ini, pak!"
"Kaya miskin bukanlah ukuran, Le!
Taat dan patuh dengan ajaran Robb MU lah yang jadi tolak ukur kebaikan dari perilaku mu.
Bapak tidak minta apa apa. Cukup jadilah anak yang baik dan taat beribadah, ya?"
"Insyaallah, pak. Insyaallah!" sahut Hamid mantap dan penuh haru. Tak henti hatinya terus menggaungkan kalimat syukur.
"Yasudah, setelah dari ladang, kamu pulang dan siap siap. Bawa barang seperlunya saja. Ajak ibu kamu pindah kerumah bapak ya.
Dan kalau bapak boleh kasih saran.
Rumah kamu kan sudah hampir roboh, lebih baik dirobohkan sekalian dan dibersihin.
Lalu tanami apa saja yang bisa dijual. Bisa buat pegangan kamu dan ibumu.
Itu hanya saran dari bapak loh, Mid.
Kamu pikirkan lagi dan diskusikan sama ibumu gimana baiknya."
"Iya, pak.
Terimakasih, nanti akan Hamid bicarakan sama ibuk dirumah. Sekali lagi, terimakasih banyak ya pak. Pak Danu sudah begitu baik saja Hamid dan ibuk." sahut Hamid dengan senyuman haru di wajah manisnya.
"Kalau bisa, mulai malam ini kamu pindah kerumah bapak.
Karena besok pagi pagi, kami semua mau berangkat ke Jakarta.
Kamu gak keberatan to, kalau bapak nitip rumah dan ladang sama kamu?" balas pak Danu dengan wajah tegasnya.
"Insyaallah, gak pak. Hamid tidak keberatan sama sekali. Nanti Hamid akan datang sama ibuk setelah magrib." Hamid tersenyum dengan wajah cerah, tersirat kelegaan di pancar bola matanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah sholat magrib, Maharani dan kedua orangtuanya tengah berbincang di ruang keluarga yang cukup luas, televisi ukuran besar terpampang di tembok. Tidak melakukan makan malam dulu.
Mereka sengaja menunggu kedatangan Hamid dan ibunya, berniat mengajak mereka makan bersama.
Dan yang ditunggu pun akhirnya datang.
Hamid menggandeng ibunya, Hamid membawa tas besar dan ransel di punggungnya.
__ADS_1
"Sini, masuk saja dulu Bu Ambar, Hamid!" sambut Bu Hanna ramah setelah menjawab salam.
"Tas nya taruh saja disitu, kita sudah menunggu kalian. Mari makan dulu. Nanti setelah makan biar diantar Maharani ke paviliun." sambung pak Danu yang juga tak kalah ramah.
Keluarga Maharani memang baik dan hangat. Mereka selalu menghargai dan menghormati siapapun.
"Tapi kami tadi sudah makan, pak!" balas Bu Ambar sungkan. Padahal dari tadi siang perutnya belum terisi apapun, beras sudah habis dan tidak ada sedikitpun persediaan makanan dirumahnya.
"Makan lagi, Bu!
Ini tadi Maharani loh yang masak, spesial menyambut keluarga baru katanya." sahut Bu Hanna dengan senyum sumringah.
"Masyaalloh, terimakasih banyak.
Harusnya tidak perlu repot repot seperti ini.
Diijinkan tinggal disini saja, kami sudah Alhamdulillah banget." balas Bu Ambar dengan senyum haru dan matanya terlihat mengembun.
"Insyaallah ini gak merepotkan sama sekali kok, Rani justru berterimakasih sama ibu dan Hamid, sudah mau tinggal disini. Menemani bunda dan ayah.
Anggap saja kita ini keluarga." Maharani ikut menimpali dan tersenyum hangat menatap Hamid dan Bu Ambar.
Akhirnya Bu Ambar dan Hamid tidak bisa menolak lagi ajakan Maharani juga orang tuanya untuk menikmati makan malam bersama.
Suasana hangat kekeluargaan terasa jelas diantara mereka. Sehingga membuat Bu Ambar merasa nyaman ada diantara keluarga Maharani yang memang memiliki hati yang tulus.
Meskipun tak terlalu besar, tapi jauh lebih baik dari tempat tinggal Hamid sebelumnya.
Bu Ambar sampai meneteskan air mata, sangking bahagia dan terharu dengan kebaikan keluarga Maharani.
"Silahkan istirahat dulu Bu Ambar, Hamid!
Besok pagi, kami akan berangkat ke Jakarta menemani Maharani. Titip rumah dan ternak ya, Bu!
Kalau mau masak, sudah ada bahan bahan sayuran dan lauk di dalam kulkas. Masak saja apa yang Bu Ambar mau. Dan kami juga sudah menyediakan beras dan bahan dapur lainnya.
Semoga betah tinggal disini!" ucap Bu Hanna lembut dengan wajah yang terlihat teduh. Senyum hangat terus mengembang di bibirnya yang tipis.
"Terimakasih banyak Bu, keluarga Bu Hana sudah begitu baik sama kami. Semoga Alloh membalas semua kebaikan kalian. Sekali lagi, terimakasih banyak." sahut Bu Ambar yang sudah basah oleh air mata di wajah tuanya.
"Sama sama Bu!
Kalau begitu kami pamit kembali kerumah ya. Ibu Ambar dan Hamid sebaiknya istirahat." pamit Bu Hanna yang diikuti oleh Maharani.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya, pagi pagi sekali. Maharani dan orang tuanya berangkat menuju Jakarta dengan mengendarai mobil milik Maharani.
Rencananya, mobil yang milik pribadi Maharani akan ditinggal di rumah untuk orang tuanya. Sedangkan di Jakarta, Maharani akan memakai mobil fasilitas dari kantor.
__ADS_1
Tiga jam perjalanan Maharani tempuh dan sesekali berhenti untuk istirahat.
Akhirnya sampai juga di rumah kediaman Maharani yang di dapat dari kantor barunya.
Rumah minimalis yang cukup mewah.
"Wah, ini tempat tinggal kamu nduk?
Bagus banget.
Tempatnya nyaman dan terlihat sejuk.
Ternyata kota Jakarta masih ada tempat yang sejuk kayak di kampung ya, nduk?" Bu Hanna menatap takjub setiap sudut rumah Maharani. Meskipun tidak terlalu besar, tapi cukup mewah dan sangat bagus.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1