
Tiga jam perjalanan Maharani tempuh dan sesekali berhenti untuk istirahat.
Akhirnya sampai juga di rumah kediaman Maharani yang di dapat dari kantor barunya.
Rumah minimalis yang cukup mewah.
"Wah, ini tempat tinggal kamu nduk?
Bagus banget.
Tempatnya nyaman dan terlihat sejuk.
Ternyata kota Jakarta masih ada tempat yang sejuk kayak di kampung ya, nduk?" Bu Hanna menatap takjub setiap sudut rumah Maharani. Meskipun tidak terlalu besar, tapi cukup mewah dan sangat bagus.
Sebenarnya kantor tidak menyediakan fasilitas mobil maupun rumah untuk karyawan. Tapi Maharani memanglah sudah sangat di tunggu kedatangannya oleh pemilik perusahaan yang yang tak lain adalah orang tuanya Haris, laki laki yang sudah membuat banyak kesalahan dan penderitaan di hidup Maharani.
Pak Altaf ingin menebus kesalahan yang sudah dilakukan anaknya.
Apalagi Haris yang selalu tertekan dan terus memikirkan Maharani.
Dari dulu sebenarnya Haris memiliki perasaan kepada Maharani, namun gadis lugu dan dianggap culun itu, selalu sibuk menyendiri dengan dunianya. Sehingga Haris mencari perhatian dengan cara yang salah.
"Bund! Ayah dimana?" Maharani sudah rapi, mau berangkat ke kantor. Keluar dari kamar hanya menemukan ibunya yang sudah sibuk di dapur. Tidak menemukan ayahnya.
"Ayah kamu ada di belakang, katanya lagi bikin kolam ikan, biar semakin sejuk di pandang. Pas kamu pulang kerja, capek. Bisa duduk di teras belakang sambil minum kopi, di temani air gemericik dari kolam dan juga tanaman hijau. Ibu jamin, lelah kamu pasti hilang." balas Bu Hanna panjang lebar.
"Ayah selalu tau, apa yang Rani butuhkan.
Bunda masak apa?"
"Ini cuma bikin nasi goreng daging kambing.
Kamu kan sudah lama gak makan nasi goreng masakan bunda!
Tadi bunda buka kulkas, ada daging. Yasudah bunda bikin nasi goreng kesukaan kamu." sahut Bu Hanna sumringah.
"Panggil dulu ayah kamu, kita sarapan sama sama!" sambung Bu Hanna sambil menuangkan nasi goreng ke mangkok kaca dan menatanya di atas meja makan, lengkap dengan acar dan kerupuknya.
"Masakan bunda memang selalu enak. Rani mau bawa bekal ya, bund?"
"Alhamdulillah, kalau lidah kamu masih cocok dengan masakan bunda. Sudah jadi gadis kota, takutnya gak doyan lagi sama masakan rumah." celoteh Bu Hanna yang membuat Rani tersenyum bahagia, sedangkan pak Danu memilih diam sambil menikmati nasi goreng buatan sang istri.
"Masakan bunda selalu nomor satu buat Rani.
__ADS_1
Buktinya Rani sampai makan dua kali, dan ini juga sampai bawa bekal buat di makan di kantor." sahut Rani sambil memasukkan nasi goreng ke dalam wadah Tupperware kesayangannya.
Maharani berangkat ke kantor dengan wajah berbinar. Paginya begitu cerah oleh suasana hatinya yang merasa sangat beruntung dan bahagia karena cinta dan kasih sayang orang tuanya.
Seperti biasa, Rani selalu bisa menyelesaikan tugas kantornya dengan baik dan cepat.
Tapi sudah beberapa hari ini, ada kabar jika posisi pak Altaf sudah di gantikan oleh putranya.
Tapi Maharani belum pernah bertatap muka dengannya.
Saat menyerahkan berkas untuk di tandatangani, Atasan barunya selalu membelakangi Rani.
"Pak Fawas, boleh nitip berkas ini untuk diserahkan ke direktur yang baru?" Maharani meminta bantuan Fawas untuk menyerahkan berkas yang dia pegang.
"Kenapa tidak diserahkan sendiri.
Itu kan memang tugas kamu, tidak sopan kalau saya yang membawanya." tolak Fawas dingin, membuat Rani menghembuskan nafasnya dalam.
"Ada apa?
Apa kamu keberatan?" selidik Fawas sambil memicingkan matanya, membuat Maharani jadi salah tingkah.
"Bukan begitu, cuma saya merasa aneh saja.
Saya jadi takut dan merasa gak enak saja." jelas Maharani yang dijawab anggukan kepala oleh Fawas.
"Belum waktunya kamu tau siapa beliau.
Untuk itu persiapkan dirimu dengan segala kemungkinan jika saat itu tiba." balas Fawas dingin dan pergi meninggalkan Maharani yang bingung dengan maksud ucapannya Fawas.
"Apa maksudnya?" lirih Maharani.
Namun tak ingin terlalu mengambil pusing.
Maharani menyiapkan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan atasannya dengan hati tak karuan.
"Permisi, pak!
Ini ada beberapa berkas yang harus di tandatangani." Maharani meletakkan tumpukan kertas di atas meja mewah atasannya.
Sejenak Maharani menunggu ada suara yang keluar, namun hingga beberapa saat suara itu tidak terdengar. Seperti biasanya, Maharani memilih keluar dari ruangan direktur barunya dengan perasaan penuh tanya.
"Kalau begitu saya ijin kembali ke ruangan saya. Permisi!"
__ADS_1
Laki laki yang tengah duduk di balik kursi kebesarannya terlihat menganggukkan kepalanya.
"Ada apa sih dengan direktur baru?
Kok aneh banget, seolah tidak mau memperlihatkan siapa dirinya. Apa yang disembunyikan, kenapa aku punya firasat tidak baik dari awal dia menggantikan pak Altaf." batin Maharani yang terus bertanya tanya.
"Ah sudahlah, kenapa aku harus memikirkannya.
Nanti juga tau kenapa beliau bersikap aneh seperti itu." gumam Maharani yang meneruskan langkahnya kembali ke dalam ruangannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️