
"Terserah kalau kamu gak percaya, tapi aku yakin itu si culun. Haris perlu tau kalau dia ada di Jakarta juga." sahut Belinda dengan senyuman sinis.
"Dia tidak pernah ganggu kamu, tapi sepertinya kamu senang sekali mengganggu dia, Maharani sudah tidak polos, dia sepertinya berpendidikan dan hidupnya sudah berubah, jadi menurutku kalau kalian masih menganggu nya, si Maharani gak bakal diam saja. Jadi hemat energi kamu. Lagian dia juga tidak pernah mengganggu kamu." timpal Danil yang tak ingin lagi mengganggu dan usil pada Maharani, karena memang Maharani tidak pernah mengusik hidupnya.
Tapi tidak dengan Belinda yang masih terlihat ingin mengusik kehidupan Maharani, apalagi setelah melihat Maharani dengan penampilan barunya.
"Terserah kamu saja. Aku akan ke kantor Haris, untuk mengabarkan berita baik ini. Dia pasti akan senang kalau mainannya ketemu lagi." Belinda tersenyum jahat dengan pikiran liciknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Benar saja, keesokan harinya. Belinda mendatangi kantornya Haris, dengan angkuh Belinda berjalan menyusuri setiap koridor yang ada di perusahan milik keluarga Haris.
Saat langkahnya menuju lantai lima, dimana ruangan Haris berada, Belinda berpapasan dengan Maharani yang akan memasuki ruangan direktur utama, yaitu dimana Haris sedang berada.
"Ngapain kamu ada disini?" tanya Belinda angkuh.
"Belinda?
Kamu juga kerja di kantor ini?" sahut Maharani tanpa menjawab pertanyaan dari Belinda lebih dulu.
"Oh kamu kerja disini rupanya. Berarti kamu bawahannya Haris dong ya, sebentar lagi aku akan menikah dengan Haris, jadi jangan macam macam!" herdik Belinda dengan wajah tak suka.
"Haris?
Maksudnya?" tanya Maharani yang masih belum paham maksud ucapan Belinda.
"Haris Sadewa Altaf, adalah anak pemilik perusahaan G.M ini, Altaf Mahendra adalah ayahnya Haris.
Masak kamu gak tau, bukannya sekarang yang jadi direktur utama itu Haris, emang kamu gak pernah ketemu sama Haris?" tanya Belinda heran, tak percaya kalau Maharani belum tau semuanya.
"Belum, aku gak pernah mau bertemu dengan Haris selama bekerja disini." sahut Maharani yang mulai cemas, dadanya kembali terasa sesak saat mendengar nama Haris disebut.
"Kamu mau masuk ke dalam kan?
Ikut aku, aku akan buktikan kalau Haris yang ada di dalam ruangan itu." Belinda memasuki ruangan Haris santai, seolah sudah sering keluar masuk di ruangan itu. Karena penasaran, Maharani mengikuti langkah Belinda di belakangnya.
"Hey sayang, kamu lagi sibuk?" Belinda langsung menyapa Haris seolah mereka memang ada hubungan serius. Tapi kenyataannya, hanya Belinda yang menyukai Haris, sedangkan Haris sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepada Belinda.
Haris yang tidak tau, ada Maharani juga diruangan itu, akhirnya menoleh dan langsung membeku saat matanya bertatapan dengan mata indah Maharani.
__ADS_1
"Jadi, kamu benar anak pemilik perusahaan ini?" gumam Maharani sendu, matanya sudah dilapisi kabur tebal sangking sesaknya.
Maharani memilih keluar dari ruangan yang seketika membuat hatinya panas, bayangan masa lalu membuatnya sesak mengingat perlakuan Haris dan kawan kawannya.
"Rani!
Aku bisa jelaskan. Tunggu!" Haris hendak mengejar Maharani yang lari keluar, tapi Belinda mencegahnya.
"Apa apaan sih, gak usah di kejar, gak penting juga!"
"Kamu jangan ikut campur apa yang bukan urusan kamu!" sentak Haris kasar dan membuat Belinda langsung terkejut.
"Apa maksud kamu Haris?
Kamu membentak ku?
Hay, aku jauh lebih segalanya dari gadis kampungan itu, kenapa kamu membentak ku hanya karena si culun itu?" balas Belinda tak terima dengan wajah yang terlihat sudah kesal.
"Kamu bukan siapa siapa bagiku, jadi jangan pernah ikut campur. Dan satu lagi, jangan pernah kamu sebut Maharani dengan kata kata kasar mu itu. Pergilah, aku masih banyak pekerjaan!" herdik Haris yang langsung berlalu meninggalkan Belinda.
"Apa?
Apa Haris sudah jatuh cinta karena dia sudah berubah cantik. Tidak, tidak!
Ini tidak boleh dibiarkan!
Awas saja kamu, Maharani. Aku akan buat perhitungan sama kamu!" gumam Belinda yang emosi melihat Haris tak memperdulikan dirinya dan lebih memilih mengejar Maharani.
"Pergilah, jangan sampai aku memanggil scurity untuk mengusir kamu!" tiba tiba Fawas masuk dengan wajah datarnya, dengan santainya mengusir Belinda pergi dari ruangan Haris.
"Memangnya siapa kamu berani mengusirku?
Kamu gak berhak sama sekali mengusirku dari sini!
Aku calon istri anak pemilik perusahaan ini, jadi jangan macam macam kalau tidak mau di pecat!" balas Belinda dengan angkuhnya, membuat Fawas tersenyum miring, seolah mengejek ucapan Belinda.
"Jangan terlalu pede. Haris tidak pernah menyukai perempuan sepertimu. Dan aku berhak mengusir kamu dari ruangan ini, karena aku asisten pribadi Haris, dan juga keponakan dari pemilik perusahaan ini. Paham?
Jadi keluarlah!" sahut Fawas dingin tanpa melihat sedikitpun ke arah Belinda.
__ADS_1
"Apa?
Kamu masih keluarganya Haris?" Belinda menatap tak percaya ke arah Fawas yang sudah menghadap laptopnya.
"Iya! pergilah, atau aku panggilkan pihak keamanan!" Fawas bicara dengan wajah dingin dan suara datarnya, Belinda mau tidak mau pergi meninggalkan tempat itu, sebelum dirinya dipermalukan dengan diusir oleh scurity.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️