
"Kenapa harus dia, ya Tuhan?
Kenapa tiap kali menatap mata elang itu, hatiku seperti merasakan sesuatu yang aku sendiri tidak tau itu apa!
Semoga saja itu tidaklah benar, tak mungkin aku jatuh cinta pada laki laki kejam itu!" batin Maharani merintih saat mengingat sikap Haris di masa lampau.
Maharani tak lagi mau membuntuti Akbar. Entah kenapa, ucapan Haris barusan membuatnya yakin untuk mempercayainya, tinggal nanti dia membuktikan untuk pergi ke apartemen yang Haris katakan tadi. Jika benar adanya Akbar suka berganti ganti pasangan, sikap lembut, kelakuan sopan dan sikap alim nya hanya wajah palsu semata untuk menutupi kebobrokannya.
Setelah puas berbelanja oleh oleh, Maharani hendak menuju kasir, dan disana sudah terlihat Akbar dan wanita itu juga tengah mengantri.
Bahkan tangan mereka saling menggenggam erat, sesekali mata mereka saling beradu tatap begitu mesranya. Maharani reflek mengambil ponselnya dan menekan kameranya untuk mengambil gambar pasangan yang tengah di mabuk cinta itu.
Perempuan yang bersama Akbar cukup cantik, kulitnya putih, rambutnya hitam legam lurus sebahu, wajahnya glowing terawat.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Asalamualaikum, bund!" Maharani memasuki rumahnya dan langsung disambut sang bunda dengan penuh kasih sayang. Sepasang ibu dan anak itu saling memeluk penuh kerinduan.
"Ayah di ladang, bund?" tanya Maharani dengan masih memeluk bundanya manja.
"Iya, mungkin sebentar lagi juga pulang. Karena tadi bunda tidak bawakan bekal." sahut Bu Hanna dengan wajah berseri.
"Bund!
Em, Rani mau ada yang ditanyakan, boleh?" Maharani berniat untuk menceritakan tentang siapa Akbar pada ibunya, agar perjodohan tidak lagi dilanjutkan. Maharani tidak mau, jika harus berhubungan dengan laki laki munafik pemuja ************.
"Pasti boleh dong, mau tanya apa?
Sepertinya serius banget, ada apa, nak?" sahut Bu Hanna lembut sambil tangannya menggenggam jemari sang putri erat.
"Rani, tidak setuju dengan perjodohan dengan Akbar, bund!
Rani tidak mau jatuh di tangan laki laki yang suka berganti ganti pasangan dan munafik sepertinya.
__ADS_1
Akbar tidak sebaik apa yang kita lihat." Rani mengutarakan apa yang jadi beban pikirannya soal Akbar.
"Maksud kamu apa, nak?
Jangan bicara yang tidak tidak, jatuhnya fitnah. Dosa besar!
Akbar anak yang baik, bahkan dia begitu menyayangi ibunya, dia juga gak neko neko. Lalu apa yang membuat kamu menuduhnya seperti itu?" sahut Bu Hanna dengan wajah kecewa, matanya menatap dalam sang putri.
"Sebelum Rani pulang kesini, tadi Rani mampir dulu ke mini market. Rani tidak sengaja melihat Akbar dengan seorang wanita. Mereka nampak mesra, bund. Seperti pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta. Dan tadi, Rani juga bertemu dengan Haris, dia mengatakan sudah menyelidiki siapa Akbar, dan Haris juga memberikan alamat dimana Akbar tinggal, disana dia sudah menikah siri dan istrinya tengah hamil, tapi Akbar diluar masih jalan dengan wanita lain. Rani tidak mau, kalau harus menikah dengan laki laki seperti itu." sahut Maharani panjang lebar, tanpa ada satupun yang ditutupinya.
Bu Hanna menarik nafasnya dalam, menatap lekat ke arah Maharani.
"Apa kamu percaya dengan ucapan Haris?
Bagaimana kalau itu hanya karangan dia saja?
Bukannya dia juga menginginkan kamu?" sahut Bu Hanna mencoba untuk mencari kebenaran akan ucapan putrinya.
"Rani merasa, Haris bicara jujur, bund!
"Astagfirullah!
Bunda gak nyangka, Akbar bisa berbuat seperti ini.
Biar nanti bunda yang bicara sama ayah kamu.
Bunda gak mau, anak bunda menikah dengan laki laki yang tidak bisa menjaga syahwatnya.
Dan apa kamu sudah buktikan ucapan haris tentang wanita yang katanya istrinya itu?" sahut Bu Hanna nanar, dadanya langsung sesak dengan apa yang baru saja dia ketahui faktanya.
"Belum bund, yang penting Rani sudah tau alamatnya. Nanti setelah pulang dari sini, Rani akan buktikan ucapannya Haris.
Lebih baik, kita diam saja dulu, pura pura bersikap biasa dengan Akbar dan ibunya. Sampai Rani bisa menemui perempuan yang jadi istri sirinya Akbar." Maharani tersenyum kecut, di tatapnya wajah sang bunda yang sudah berubah mendung. Wanita paruh baya itu pasti sangat kecewa, laki laki yang dianggapnya sempurna, ternyata tak lebih hanyalah seorang yang munafik.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️