Bidadari Salju

Bidadari Salju
anggap kita ini keluarga


__ADS_3

"Belum bund, yang penting Rani sudah tau alamatnya. Nanti setelah pulang dari sini, Rani akan buktikan ucapannya Haris.


Lebih baik, kita diam saja dulu, pura pura bersikap biasa dengan Akbar dan ibunya. Sampai Rani bisa menemui perempuan yang jadi istri sirinya Akbar." Maharani tersenyum kecut, di tatapnya wajah sang bunda yang sudah berubah mendung. Wanita paruh baya itu pasti sangat kecewa, laki laki yang dianggapnya sempurna, ternyata tak lebih hanyalah seorang yang munafik.


"Bunda tidak usah sedih begitu.


Karena, apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Alloh. Mungkin ini cara Alloh menegur kita, menyelamatkan Rani dari laki laki seperti Akbar.


Rani juga masih belum mau menikah, bunda dan ayah tidak perlu risau. Maharani insyaallah baik baik saja. Masih belum ada perasaan cinta di hati Rani untuk Akbar." Maharani tersenyum hangat memeluk bundanya penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah, bunda yakin, kamu akan menemukan laki laki yang tulus mencintai kamu, yang rela berkorban demi membuatmu bahagia.


Banyak berdoa ya nak, insyaallah jodohmu nanti adalah laki laki yang baik versi-NYA. Aamiin!" sahut Bu Hanna tulus, tangannya mengusap lembut lengan anak perempuannya.


"Ayah kok belum pulang bund, Rani kangen banget sama ayah!" rengek Maharani, yang memang begitu merindukan ayahnya.


"Sebentar lagi pasti pulang, ini kan sudah waktunya jam makan siang. Gak sabaran banget, mentang mentang kesayangan ayah ya!" sahut Bu Hanna meledek anak perempuannya. Mereka pun akhirnya tertawa bareng.


"Hamid sama Bu Ambar gimana, bund?


Mereka betah kan tinggal disini?" tanya Maharani penasaran.


"Alhamdulillah, mereka betah kok. Dan Hamid anaknya memang benar-benar rajin. Pagi pagi, sudah membersihkan kandang, dan pulang sekolah langsung bantu bantu di ladang.


Sedangkan Bu Ambar, bantu bantu ibu bersih bersih rumah." Sahut Bu Hanna dengan senyuman hangat.


"Alhamdulillah, Rani seneng dengernya. Bunda juga sudah gak kesepian lagi. Kalau ayah ke ladang, bunda ada yang temeni, bisa ngobrol dengan Bu Ambar!"


"Iya, nak. Tapi Bu Ambar kayak masih sungkan gitu sama bunda. Padahal bunda sudah bilang untuk bersikap biasa saja, anggap saja kita keluarga, tapi ya itu, beliau masih canggung, tapi ya bunda maklum sih." sahut Bu Hanna yang masih setia bercengkrama dengan anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Oh iya, tadi Rani belanja oleh oleh. Bentar Rani ambil dulu di mobil ya, bund!" Rani beranjak dari dekapan sang bunda, melangkah ke halaman menuju mobilnya. Mengeluarkan semua barang barang bawaannya. Bu Ambar dengan sigap langsung membantu Maharani.


"Makasih ya, Bu!


Ini oleh oleh buat Bu Ambar dan Hamid. Semoga suka!" Maharani menyerahkan dua kantong pada Bu Ambar. Rani membelikan beberapa potong baju untuk Bu Ambar dan Hamid, serta peralatan sekolah.


"Ya Alloh, mbak Rani kenapa repot repot begini. Ini sangat banyak loh mbak!" Bu Ambar merasa gak enak, sudah diberi tumpangan, makan gratis, Hamid disekolahkan dan masih diberi gaji. Sekarang diberi juga oleh oleh dalam jumlah yang banyak. Bu Ambar benar benar merasa sungkan hingga mulutnya tak bisa berkata kata. Kagum dan merasa begitu dihargai di keluarga Maharani. Mereka memang orang orang yang sangat baik.


"Bu Ambar sudah kami anggap keluarga. Jangan menolak ya, anggap itu rejeki dari Alloh yang dititipkan melalui saya. Dan terimakasih banyak, Bu Ambar sudah membantu bunda selama ini. Rani titip bunda ya, Bu. Jaga dan temani bunda tersayangnya Rani!" sahut Rani dengan senyuman ramah.


"Pasti, mbak Rani!


Tanpa mbak Rani minta, saya dan Hamid pasti akan menjaga rumah ini dan kedua orang tua mbak Rani. Kalian sudah banyak membantu kami. Terimakasih banyak, maaf kalau kami selalu merepotkan!" sahut Bu Ambar dengan bibir bergetar menahan tangis sangking terharunya.


"Mbak!


"Apa Bu Ambar mengetahui sesuatu?


Katakan, Bu! Agar kami tidak salah mengambil keputusan. Anggap kita adalah keluarga, saling menjaga dan melindungi dari yang tidak baik.


Kalau Bu Ambar mengetahui sesuatu, tolong katakan pada kami, jangan sungkan!" Bu Hanna menimpali dengan menatap lekat ke arah Bu Ambar yang terlihat ragu ragu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)

__ADS_1


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2