
"Ada apa sih dengan direktur baru?
Kok aneh banget, seolah tidak mau memperlihatkan siapa dirinya. Apa yang disembunyikan, kenapa aku punya firasat tidak baik dari awal dia menggantikan pak Altaf." batin Maharani yang terus bertanya tanya.
"Ah sudahlah, kenapa aku harus memikirkannya.
Nanti juga tau kenapa beliau bersikap aneh seperti itu." gumam Maharani yang meneruskan langkahnya kembali ke dalam ruangan nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Rani, kamu gak ke kantin?" Abimanyu, teman satu kantor yang dulu juga teman satu kampusnya, tiba tiba sudah ada di dalam ruangan Maharani dengan senyuman yang manis.
"enggak, tadi aku sudah bawa bekal dari rumah. Kamu duluan saja!" sahut Maharani cuek dan kembali fokus ke layar datarnya.
"Tumben bawa bekal, kamu masak sendiri?" Abimanyu masih penasaran dan terus bertanya pada Maharani. Abimanyu teman yang baik dan perduli, tapi dia juga begitu cerewet, kadang membuat Maharani merasa kesal.
"Ada ibuku, ibu yang masakin." balas Maharani.
"Wah orang tua kamu sedang ada di Jakarta?
Kapan kapan aku mampir ya, pingin ketemu dan minta di masakin juga!" celoteh Abimanyu yang membuat Maharani tertawa.
"Iya boleh, tapi mereka hanya disini seminggu saja.
Ayahku tidak tega ninggalin sapi sapinya, hehehee!" Maharani menatap Abimanyu sekilas dengan menyunggingkan senyuman.
"Nanti saja kesana bareng sama si Ririn juga, biar seru. Tapi aku bawa gebetan boleh dong. Iya gak?" bisik Abimanyu yang di jawab gelak tawa oleh Maharani.
"Serius ini, yasudah nanti kita bicara lagi. Aku mau ke kantin dulu, perutku sudah lapar minta di isi." Abimanyu keluar dari ruangan Maharani dan menuju ke kantin yang ada di kantornya.
Saat berjalan Abimanyu berpapasan dengan Haris dan Fawas.
"Siang pak!" tegur Abimanyu yang hanya di jawab anggukan ringan oleh Haris yang selalu menampilkan wajah datarnya.
"Beda banget sama bapaknya, pak Altaf sangat ramah dan murah senyum. Ini anaknya beku, dingin kayak es batu." gumam Abimanyu yang terus berjalan ke arah tujuannya, yaitu Kantin.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Maharani mulai curiga, tapi aku belum siap menampakkan wajahku padanya.
Entahlah, aku takut kehilangan jejaknya lagi.
Banyak tahun aku habiskan untuk menunggunya." lirih Haris menatap kosong gedung gedung menjulang dari jendela kaca yang ada di ruangannya.
"Aku rasa begitu, tadi dia bahkan sempat meminta aku untuk menyerahkan berkas yang dia bawa.
__ADS_1
Dan tanya tentang sikap aneh kamu itu!" sahut Fawas yang memang sudah akrab dengan Haris dari kecil.
Fawas masih ada hubungan keluarga dengan Haris dan mereka juga kuliah di tempat yang sama. Haris mengisahkan semua perbuatannya pada Fawas tentang kejahatannya pada sosok Maharani.
"Menatap fotonya saja dadaku sudah sesak.
Aku bahkan sering memperhatikan dia diam diam dari kejauhan. Dia terlihat begitu anggun, cantik dan tegas. Sangat berbeda waktu masih sekolah dulu. Dia berubah seratus delapan puluh derajat." Haris mengalihkan pandangannya ke arah Fawas dengan wajah yang sudah memerah.
"Sampai kapan kamu akan sembunyi dari kenyataan ini. Hadapi dan terima konsekuensinya.
Kejar cintamu dan perjuangkan dia. Aku yakin, Maharani akan menerima ketulusan seseorang yang begitu mencintainya." jawab Fawas memberi semangat dan dorongan pada sepupunya.
"Kesalahan yang sudah kulakukan dulu, sangat fatal. Mungkin meninggalkan trauma di hidupnya.
Aku sangat bodoh, jiwa mudaku yang sudah menghancurkan mental Maharani waktu itu." lirih Haris penuh dengan penyesalan.
"Kalau kamu mencintai dia, kenapa kamu bisa bertindak kejam padanya?
Sekarang kamu menyesalinya, dan kebingungan untuk mengutarakan perasaan." kesal Fawas yang terlihat menghembuskan nafasnya kasar.
"Entahlah, kenapa aku bisa sebodoh itu." Haris menangkupkan kedua tangannya di wajah tampannya. Penyesalan dan bayangan sikap kejamnya di masa lalu terus saja membayanginya.
Semua itu sungguh menyiksa dirinya selama bertahun tahun.
"Berdoa saja, semoga dia mau memaafkan kebodohan mu itu!" cetus Fawas santai, menatap Haris yang tengah frustasi, kasihan!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Maharani menyelesaikan tugasnya dengan baik dan cepat, ingin buru buru cepat pulang kerumah. Karena hari ini Maharani ingin mengajak kedua orang tuanya jalan jalan menikmati keramaian ibu kota. Maharani ingin kedua orang tuanya bahagia dan memberikan yang terbaik.
Fawas terus memperhatikan Maharani dari layar laptopnya, cctv yang di pasang di tempat tersembunyi membuatnya leluasa untuk melihat apa saja yang dilakukan Maharani.
"Dia sudah pulang!
Sepertinya sedang buru buru dan lagi bahagia. Lihat, wajahnya tidak seceria biasanya. Apa mungkin dia lagi jatuh cinta?" tunjuk Fawas ke arah laptopnya dan menyerahkan pada Haris yang terlihat tegang.
"Ayo, ikuti!
Aku ingin tau siapa laki laki itu.
Jangan sampai dia menyerahkan diri pada laki laki yang salah. Tak akan kubiarkan itu terjadi." geram Haris yang terlihat berjalan dengan tergesa.
Membuat Fawas menahan tawanya melihat sikap Haris yang kebakaran jenggot.
Padahal, Fawas sudah tau, kalau kepulangan Maharani hanya ingin menemani orang tuanya yang sedang berkunjung. Sengaja ingin membuat Haris kelabakan dan terbakar cemburu, sehingga Fawas sedikit memainkan dramanya.
__ADS_1
Fawas mengikuti langkah lebarnya Haris dengan menahan tawa. Tak menyangka jika seorang Haris benar benar dibuat gila oleh wanita yang dulu selalu dia buly.
Tanpa bicara banyak dan raut tegang, Haris memasuki mobilnya dan mulai mengikuti mobil Maharani. Haris sangat tau arah rumah Maharani, saat Maharani terus melajukan mobilnya ke arah rumahnya, Haris terlihat bernafas lega.
"Dia pulang kerumah, aku kira dia janjian dengan laki laki. Huuuuft!" seru Haris yang terlihat lega, seketika membuat Fawas meledakkan tawanya.
"Kenapa kamu ketawa?
Jangan jangan sengaja mengerjai ku?" tatap Haris penuh selidik pada Fawas yang masih dengan tawanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1