Bidadari Salju

Bidadari Salju
ancaman Haris pada Belinda


__ADS_3

"Keluar!


Dalam hitungan lima, kamu tidak keluar, aku pastikan mobilmu rusak dan kamu tidak selamat." ancam salah satu preman yang kini tengah berada di dekat mobil Maharani.


Mereka terus mengetuk dan teriak menakut nakuti Maharani.


Saat ketiga preman itu mulai bersikap bar bar, tanpa diduga, anak buah yang diperintahkan Fawas untuk mengawal Maharani muncul dan langsung menghajar ketiga preman itu.


Tak butuh waktu lama, akhirnya ketiga preman tersebut mampu dilumpuhkan dengan sangat mudah.


Mereka hanya punya badan besar dan wajah sangar saja. Tapi sebenarnya ilmu beladiri tidak ada sama sekali.


"Siapa yang sudah nyuruh kalian?" bentak Leo, salah satu anak buah Fawas.


Preman preman itu tutup mulut dan tak mau bicara, namun Leo dan kedua temannya tak kehabisan akal.


"Bawa mereka ke markas.


Aku akan memastikan, Nina Maharani selamat sampai dirumahnya!" titah Leo pada kedua temannya.


"Nona!" Leo mengetuk kaca mobil Maharani, Terlihat wajah Pucak dibalik kemudi yang masih ketakutan.


"Jangan takut, nona!


Saya akan mengawal anda sampai dirumah dengan selamat.


Apa anda baik baik saja?" tanya Leo yang bicara di balik kaca yang masih tertutup.


Maharani terdiam, masih ragu untuk mempercayai laki laki yang sedang bicara dengannya.


Leo tak habis cara, dia mengeluarkan kartu di balik saku jas hitamnya.


"Saya dari tim pengawal kusus, Memiliki ijin dari kepolisian. Anda tidak perlu khawatir." seru Leo dengan wajah tegasnya.


Maharani yang melihat kartu yang diperlihatkan Leo, akhirnya berani membuka kaca mobilnya.


"Anda tidak apa apa?" tanya Leo memastikan sekali lagi keadaan Maharani.


"Saya tidak apa apa, hanya masih shock saja." sahut Maharani dengan suara bergetar.


"Baik, saya paham.


Apa anda membawa minum di mobil?


Sebaiknya minumlah dulu, agar anda kembali tenang." seru Leo yang masih dengan wajah datarnya.


Maharani melirik botol minumannya, lalu mengambilnya dan meminum hingga hampir tandas. Memejamkan matanya untuk menetralkan perasaannya yang masih diliputi ketakutan.


"Sudah baikan?


Lebih baik anda langsung pulang.


Saya akan mengawal anda hingga sampai dirumah dengan selamat!" kembali Leo berucap d Ngan wajah datarnya.


Maharani hanya mengangguk, dan mulai menjalankan mobilnya.


Sedangkan Leo, menaiki motor besarnya dan mengikuti mobil Maharani dari belakang.


Ketiga preman yang dibawa anak buah Fawas dan di sekap di markas mereka, masih setia menutup mulutnya. Hingga Fawas dan Haris sampai untuk membuka mulut mereka dengan caranya.


"Apa mereka masih belum mau buka mulut?" tanya Fawas dingin pada anak buahnya.


"Belum bos!


Kami sudah menghajar mereka, tapi sepertinya mereka setia sama bos mereka." sahut Andi salah satu anak buah Fawas.


"Baiklah!


Biar jadi urusanku!" sahut Fawas dingin dan mulai mendekati ketiga preman yang sudah di ikat di kursi. Haris hanya diam menatap marah pada ketiga laki laki sangar itu.


"Kalian tentu punya keluarga bukan?


Apa kalian mau mereka akan mengalami nasib yang lebih parah dari kalian?


Sangat mudah bagiku untuk mencari tau keberadaan keluarga kalian. Jadi pikirkan baik baik!" Fawas menatap dingin ketiga preman yang langsung mendadak berubah cemas.


"Apa yang akan kamu lakukan pada keluargaku, hah?


Jangan macam macam, aku pasti akan membunuh kalian!" Geram salah satu preman yang mulai tersulut emosi dan cemas.

__ADS_1


Hahahaaaa! Fawas tertawa mendengar ancaman preman tersebut.


"Kamu pikir aku takut dengan ancaman kamu?


Sebelum kamu membunuhku, akan aku pastikan kamu terbunuh lebih dulu bersama keluargamu, paham?


Jadi, katakan, siapa yang sudah membayar kalian untuk menyakiti wanita tadi?


Katakan!" bentak Fawas murka, membuat tiga preman yang tadinya garang mendadak pucat.


"Belinda!


Kamu disuruh Belinda.


Lepaskan kami, karena kalian sudah tau siapa dibalik semua ini. Kami hanya dibayar, karena kamu membutuhkan uang, itu saja." sahut salah satu preman yang tidak mau keluarganya terancam.


Fawas tersenyum miring menatap Haris yang sudah mengeras wajahnya.


"Belinda!


Wanita ular, dia harus diberi peringatan.


Lakukan sesuatu pada perempuan itu, agar tidak lagi macam macam." seru Haris yang menatap penuh emosi ke arah Fawas yang mengangguk mengiyakan perintahnya.


"Kalian akan aku lepaskan, tapi bawa Belinda kemari dalam waktu satu jam.


Dan jangan berulah, karena anak buahku akan mengawasi kalian. Paham?" bentak Fawas kepada tiga preman tersebut.


"Baiklah!" sahut mereka bersamaan dan Fawas meminta anak buahnya untuk melepas tali yang mengikat mereka, dan mengawasi pergerakan mereka untuk membawa Belinda dihadapan Haris.


"Kamu yakin akan membuat dia jera?" tanya Fawas pada Haris yang mengangguk.


"Dia harus tau, kalau aku tidak akan terjadi nggak diam dengan perbuatannya itu. Belinda harus menerima konsekuensi dari sikapnya yang keterlaluan." sahut Haris dingin.


"Apa kamu sudah siap berurusan d ndang orang tuanya?


Papa belinda seorang dewan yang terkenal bisa melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya!" sahut Fawas yang menatap Haris lekat.


"Kekuasaan ayahku, akan membungkam mulutnya.


Dia tidak akan berani macam macam, kalau tidak mau nasibnya hancur." jawab Haris yang tersenyum miring.


Perempuan itu memang sudah saatnya diberi pelajaran." jawab Fawas yang menatap kesembarang arah.


"Sepertinya kamu sedang menyimpan dendam padanya, apa kamu ditolak cinta oleh dia?" selidik Haris yang sengaja ingin menggoda Fawas yang dari dulu tidak menyukai Belinda.


"Cinta?


Aku masih normal dan waras dalam mencintai perempuan. Yang pasti bukan perempuan gila dan minim adab seperti Belinda.


Tidak usah bicara ngawur. Sialan!" sungut Fawas tak suka dengan ledekan Haris.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Belinda berjalan angkuh menyusuri ruangan yang mirip dengan gudang. Dia pikir, Maharani sudah ada didalam dan terlihat mengenaskan.


Senyum miring terus terukir di wajah Belinda.


"Dimana perempuan itu?


Apa kalian sudah melecehkan nya seperti yang aku mau?" tanya Belinda pada ketiga preman suruhannya.


Namun mereka hanya diam dan membuat Belinda kesal.


"Kenapa kalian diam saja?


Jangan katakan kalian gagal membawa perempuan itu kemari. Sialan, dasar tak berguna!


Aku sudah membayar kalian mahal dan juga membebaskan kalian untuk menikmati tubuh perempuan itu. Katakan, dimana perempuan itu?" teriak Belinda d Ngan nafas yang memburu, namun ketiga preman itu masih terlihat diam.


"Wah hebat!


Kamu sudah bertindak tanpa sepengetahuanku, Belinda!" Haris tiba tiba muncul dengan seringai sinis di wajahnya.


"Haris?


Ngapain kamu ada disini?" tanya Belinda yang mulai cemas.


"Kangen bermain main!" jawab Haris datar.

__ADS_1


"Apa kamu juga ingin melihat Maharani hancur?


Wah, ternyata kita punya tujuan yang sama. Itu artinya kamu memang punya pikiran yang sama denganku, iya kan?" jawab belinda percaya diri.


"Bukan Maharani yang hancur, tapi kamu?


Sekali lagi kamu menyakiti Maharani, aku tidak akan segan segan membunuhmu, Belinda!" tekan Haris yang membuat Belinda langsung melotot tak percaya.


"Apa?


Kamu membela perempuan itu?


Hey sadar, aku lebih segalanya dari pada Maharani kampungan itu." sungut belinda dengan wajah memerah.


"Kamu dan Maharani berbeda.


Maharani perempuan terhormat dan tangguh.


Kamu tak lebih perempuan murahan yang suka menyodorkan tubuhmu pada laki laki yang kamu inginkan. Menjijikkan!" hina Haris yang tak lagi mau diam saja melihat tingkah Belinda.


"Apa?


Keterlaluan kamu, Ris!


Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, aku ingin jadi satu satunya wanita yang akan kamu nikahi. Paham kamu?" teriak Belinda yang sudah tak tahan oleh hinaan Haris yang terang terangan sudah merendahkan dirinya.


"Jangan mimpi Belinda.


Karena aku tidak Sudi punya hubungan dengan perempuan sepertimu.


Dan kamu harus ingat, aku tidak akan segan segan menghancurkan kamu dan keluargamu jika terjadi apa apa dengan Maharani.


Aku tidak pernah main main d Ngan ucapanku!" setelah mengatakan demikian, Haris pergi begitu saja meninggalkan Belinda.


"Aaarrrghh, kurang ajar!


Awas kamu Maharani, aku akan membuatmu menderita!" teriak Belinda murka, menatap nyalang ketiga preman suruhannya.


"Kalian!" Belinda menatap satu persatu tiga laki laki sangar yang ada dihadapannya.


"Aku sudah membayar kalian mahal, tapi apa ini, hah?


Kalian gagal menculik Maharani, perempuan sialan itu sudah menghancurkan impianku untuk mendapatkan Haris.


Sekarang, kalian pasti dan bawa dia di hadapanku, apapun caranya!" perintah Belinda dengan wajah mengeras, dadanya naik turun sangking emosinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


#Bidadari salju


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2