Bidadari Salju

Bidadari Salju
Leo


__ADS_3

"Kalian!" Belinda menatap satu persatu tiga laki laki sangar yang ada dihadapannya.


"Aku sudah membayar kalian mahal, tapi apa ini, hah?


Kalian gagal menculik Maharani, perempuan sialan itu sudah menghancurkan impianku untuk mendapatkan Haris.


Sekarang, kalian pastikan dan bawa dia di hadapanku, apapun caranya!" perintah Belinda dengan wajah mengeras, dadanya naik turun sangking emosinya.


"Maaf nona, kami tidak bisa!


Karena nyawa keluarga kamu taruhannya.


Haris mengancam kami akan menyakiti mereka. Dan kami tidak mau berurusan dengan keluarga GM, sangat berbahaya." sahut salah satu preman yang mampu membuat Belinda terbakar emosi.


"Heh!


Aku sudah membayar kalian!


Jangan main main!" teriak Belinda tak terima.


"Jangan berteriak di hadapan kami.


Apa kamu pikir kamu takut!


Jangan bersikap lancang, atau kamu akan melakukan apa yang nona perintahkan untuk Maharani kepada nona?" sahut preman satunya dengan senyum menyeringai.


"Kurang ajar!


Awas kalian!" sentak Belinda yang memilih pergi sebelum ketiga preman suruhannya itu melakukan hal yang tidak dia inginkan.


"Aaarghh kenapa semua jadi seperti ini?


Aku harus melakukan sesuatu pada Maharani dengan tanganku sendiri. Maharani kamu akan menyesal karena sudah muncul dihadapan ku lagi


Bersiaplah untuk mengalami nasib sial setelah ini." seringai licik tercetak di bibir tipis Belinda.


Haris yang masih cemas meminta Fawas untuk terus menyuruh anak buahnya mengawasi Belinda dan menjaga Maharani.


Karena firasat Haris mengatakan kalau Belinda pasti akan kembali menyakiti Maharani.


Sedangkan dilain tempat, Maharani yang baru sampai memasuki gerbang pintu rumahnya nampak bernafas lega.


Kepalanya menoleh, terlihat Leo masih berada di atas motornya, menatap Maharani, memastikan kalau orang yang harus di jaganya sampai dengan selamat.


Maharani menghampiri Leo, ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menyelematkan dirinya dari niat jahat para preman tadi.


Namun langkahnya terhenti saat Leo masih sibuk dengan ponselnya, sepertinya Leo sedang menerima telepon.


Maharani memilih menunggunya dan sedikit mencuri dengar apa yang Leo bicarakan dengan seseorang diujung sana.


"Baik bis, kami akan melaksanakan perintah dengan baik.


Akan saya pastikan jika nona Maharani selamat dan tidak terjadi apa apa dengannya.


Andi dan Roy masih memantau ketiga preman tadi dan Belinda. Saya baru saja sampai mengawal nona Maharani tiba dirumahnya.


Saya akan terus mengawasi dan memastikan keselamatannya.


Baik bis, terimakasih!" Leo menutup teleponnya dan saat menoleh, Leo terkejut ada Maharani yang berdiri tak jauh darinya.


Leo pikir Maharani sudah masuk kedalam rumahnya sejak tadi.

__ADS_1


"Nona!" sapa Leo dengan wajah datarnya, menyembunyikan rasa kagetnya.


"Apa maksudnya dengan nama Belinda tadi, apa dia orang yang ada dibalik preman preman tadi?" selidik Maharani dengan wajah penasaran dan tatapan penuh selidiknya.


Leo mengangguk tanpa ekspresi, datar dan dingin.


"Wanita itu selalu ingin mencelakai ku sejak dulu. Apa masalah dia sebenarnya. Sepertinya aku tidak akan terjadi nggak diam lagi. Belinda harus tau, Maharani tidak sebodoh dulu yang diam saja saat mereka sakiti." gumam Maharani yang terlihat mengepalkan kedua tangannya.


"Lalu, kenapa kamu melindungi ku?


Siapa yang menyuruh kamu?" kembali Maharani bertanya dengan tatapan menyelidikinya.


"Tugas saya hanya untuk mengawasi dan menjaga anda, nona!


Siapa yang sudah membayar saya untuk melindungi anda, biarlah jadi urusan saya.


Sebaiknya nona Maharani masuk ke dalam rumah.


Saya akan berjaga diluar." Sahut Leo dengan wajah datarnya.


Maharani tidak bisa memaksa karena tau, orang seperti Leo pasti akan bekerja profesional dan akan menjaga rahasia atasannya.


Maharani tak lagi mau ambil pusing, ingin beristirahat dan memikirkan cara untuk membalas perbuatan Belinda.


"Baiklah, terserah kamu saja.


Biar saya siapkan makanan dan minuman untukmu setelah ini." balas Maharani yang tak ingin terlalu memaksa Leo.


Bagaimana pun pria dihadapannya ini sudah menyelamatkan dirinya dari bahaya.


"Nduk, siapa itu, kenapa gak disuruh masuk saja?"


"Saya disini saja, Bu!" sahut Leo sopan dan tersenyum tipis ke arah ibunya Maharani.


"Aku masuk dulu ke dalam. Anda boleh duduk disitu." tunjuk Maharani ke arah saung yang ada di halaman rumahnya.


Leo hanya mengangguk ringan.


Lalu memarkirkan motornya dan berjalan ke arah saung.


"Bu!" sapa Maharani yang mencium punggung tangan ibunya.


"Kenapa teman kamu tidak disuruh masuk saja, nduk?


Gak baik loh, tamu dibiarkan diluar begitu." Bu Hanna masih belum mengerti maksud anak perempuannya yang meminta tamunya untuk duduk diluar.


"Nanti di dalam, Rani akan ceritakan sama ibu apa yang baru saja Rani alami. Sekarang Rani mau buatkan minuman untuk mas itu." sahut Maharani yang menghembuskan nafasnya dalam dan mengajak ibunya masuk kedalam rumah.


"Maksudnya gimana to nduk?


Ibu kok gak paham!" Bu Hanna masih saja penasaran.


"Rani baru saja kena musibah, Bu!


Ada yang berniat jahat sama Rani, untung laki laki tadi sama temannya menolong Rani di waktu yang tepat." Rani tak mau menyembunyikan sesuatu pada ibunya, apalagi menyangkut keselamatan nya.


"Astagfirullah!


Terus jamu gak papakan, nduk?


Apa ada yang terluka, coba ibu lihat!" Bu Hanna langsung panik dan memeriksa tubuh anak perempuannya.

__ADS_1


"Ada apa to Bu, kok heboh begitu?" tiba tiba pak Danu muncul dari arah belakang rumahnya dan menatap heran kelakuan istrinya yang terlihat panik.


"Ini loh yah, Rani baru saja diganggu preman.


Untung ada yang bantuin, Alhamdulillah anak kita gak kenapa kenapa. Ya Alloh ibu takut sekali ini." sahut Bu Hanna dengan wajah cemas.


"Rani gak papa, Bu!


Insyaallah Rani baik baik saja kok.


Ayah sama ibu tidak usah cemas begitu. Alloh masih melindungi Rani dari niat jahat seseorang lewat pertolongan mas tadi sama teman temannya." Maharani menatap bergantian wajah cemas kedua orang tuanya.


"Mas?


Siapa nduk yang sudah menolong kamu?


Ayah harus mengucapkan terimakasih padanya, karena sudah menolong kamu." pak Danu menatap lekat ke arah anak gadisnya.


"Rani tidak kenal, tapi orangnya sekarang ada diluar. Katanya ada yang memintanya untuk menjaga dan mengawasi Maharani, ada yang sedang ingin berniat jahat sama Rani yah!" sahut Maharani yang bicara apa adanya pada sang ayah.


"Yasudah, ibu mau buatkan minum dan cemilan sama pemuda tadi.


Dan ayah, sebaiknya ayah temui dia diluar. Temani dan ajak ngobrol.


Rani, sebaiknya kamu mandi dan sholat dulu." perintah Bu Hanna yang langsung di iyakan sama Maharani dan pak Danu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


#Bidadari salju


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2