
"Aku akan menjadi nyonya Haris Mahendra, dihormati semua orang dengan kekayaan yang keluarga Haris miliki.
Berkorban sedikit tidak masalah, asal tujuanku memiliki Haris terwujud.
Dan kamu Maharani, kamu harus aku singkirkan sebelum kamu benar benar jadi duri untuk impianku!" Belinda bicara sendiri dengan sejuta rencana jahat di otaknya.
Sudah satu bulan berlalu, tidak ada tanda tanda Belinda melakukan kejahatannya pada Maharani.
Sedangkan kedua orang tua Maharani sudah kembali lagi ke kampung. Karena tidak bisa meninggalkan ternak mereka terlalu lama.
Semua berpikir jika keadaan sudah aman dan Belinda tidak lagi mengusik.
Tanpa mereka sadari, Belinda sudah membayar mata mata untuk melaporkan semua kegiatan Maharani di kantor itu.
Hanya dengan uang semua bisa berjalan sesuai apa yang di inginkan.
"Hari ini, Maharani akan meninjau proyek yang ada di perindustrian. Tanpa di dampingi Haris.
Pukul sebelas siang." sederet pesan masuk di ponsel Belinda.
Perempuan berambut pirang itu tersenyum sinis, kesempatan yang dia tunggu akhirnya datang juga. Tidak sia sia dia membayar mahal salah satu teman satu divisi Maharani.
Belinda menekan nomor preman preman bayarannya, memerintahkan mereka untuk segera melaksanakan tugasnya.
"Kalian jangan sampai gagal, buat Maharani hancur dan musnah dari bumi ini!" tekan Belinda begitu bengisnya.
Pukul sebelas kurang, Maharani meluncur dengan menggunakan mobilnya yang ditemani oleh sopir kantor menuju perindustrian, ada hal yang harus dia tinjau disana.
Biasanya Maharani akan pergi bersama Haris, karena itu adalah salah satu proyek baru yang ditangani Haris langsung.
Hubungan antara Haris dan Maharani sudah sedikit mencair meskipun masih terlihat sorot benci di mata indah Maharani.
"Pak Danang tunggu saja di dalam, sambil ngopi.
Nanti kalau saya sudah selesai akan hubungi pak Danang lagi." seru Maharani yang keluar dari dalam mobilnya dan menuju bangunan besar yang akan dibuat pabrik kosmetik dan masih dalam tahap pembangunan enam puluh persen.
"Baik Bu." sahut pak Danang singkat lalu memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Pak Danang maupun Maharani tidak ada yang merasa curiga jika sedari tadi ada yang membuntuti mereka.
"Kita tunggu di sini saja, mereka pasti akan melewati jalan ini, dan disini aman karena jalanan sepi." salah satu orang suruhan Belinda bicara dengan ketiga temannya.
Hampir tiga jam lebih mereka menunggu mobil Maharani lewat, dan apa yang mereka tunggu pun akhirnya menampakkan diri.
__ADS_1
Saat mobil Maharani lewat, sontak ke empat preman itu menghadangnya dengan membawa senjata.
Maharani sudah pucat pasi, tubuhnya bergetar hebat. Bayangan buruk sudah menari di dalam benaknya.
"Bu, telpon pak Haris atau pak Fawas, dan beritahu kalau kita dalam bahaya.
Bu Maharani tetap di dalam mobil, kunci semua pintu dari dalam.
Biar saya yang menghadapi mereka.
Bu Maharani cari kesempatan untuk kabur saat saya turun menghadapi mereka." pak Danang menatap lurus ke arah preman preman yang berdiri sangar di depan mobil.
"Tapi bagaimana dengan pak Danang?
Saya akan merasa berdosa jika terjadi apa apa dengan kak Danang!" sahut Maharani gemetar.
"Jangan pikirkan saya, Bu.
Keselamatan ibu lebih penting, insyaallah saya bisa menjaga diri.
Kalau Bu Maharani sudah menghubungi pak Haris dan pak Fawas insyallah mereka akan segera mengirim bantuan." sahut pak Danang dengan dada yang bergemuruh, keringat dingin sudah mengucur membasahi bajunya.
Namun, sebagai seorang lelaki dan memiliki tugas menjaga keselamatan atasannya, pak Danang harus berani menghadapi apapun resikonya, meskipun harus bertaruh nyawa.
"Ha Lo, pak Fawas, saya sama pak Danang sedang ada dalam bahaya.
Kami menuju arah pulang tapi tiba tak ha ada empat orang preman menghadang kami, tolong kami pak!" Maharani bicara dengan bibir bergetar, tubuhnya lemas sangking takutnya.
"Share lokasi kamu, Maharani.
Aku akan segera kesana. Selamatkan dirimu apapun caranya." sahut Fawas panik, dan terdengar oleh Haris.
"Ada apa?
Kenapa dengan Maharani?" Panik Haris yang baru saja selesai rapat dengan dewan direksi.
"Maharani ada dalam bahaya, aku jelaskan di jalan.
Ayo, kita harus cepat menolongnya!" tak menunggu lama, Haris dan Fawas langsung berlari dan tak lagi memperdulikan tatapan aneh seluruh karyawannya. Keselamatan Maharani dan lak Danang yang utama.
Sedangkan di tempat kejadian, pak Danang sudah tidak lagi berkutik, babak belur dihajar keempat preman suruhannya Belinda.
Sedangkan Maharani masih terdiam,di dalam mobil ketakutan.
__ADS_1
"Keluar kamu!" teriak preman preman itu dengan menggebrak kaca.
Maharani masih terdiam dan berharap segera datang bantuan.
Preman preman itu semakin beringas saat Maharani tidak mau keluar dari mobilnya.
Mereka memecahkan kaca, dan membuka paksa pintunya, Maharani diseret masuk kedalam mobil mereka dan meluncur ke markas.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1