
"Sekarang kembalilah bekerja. Dan nanti kamu juga akan dapat pesangon dari suami saya. Karena kamu akan di pecat. Dan sebagai gantinya, besok kamu kerja dengan saya."
"Baik Bu, terimakasih banyak!
Saya permisi." sahut Maharani yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, tapi setidaknya dia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tentunya dengan gaji yang lebih besar.
Maharani tak mau ambil pusing lagi.Mungkin nasibnya sedang beruntung saja.
"Gimana Rani, kamu jadi di pecat?" bisik Ririn saat melihat Maharani berjalan keluar dari ruangan atasannya.
"Iya," jawab Maharani singkat dan membuat Ririn membekap mulutnya sendiri.
"Kamu serius, Ran?" dengan wajah tegang Ririn terus menyoroti sikap sahabatnya yang terlihat biasa saja, padahal dirinya saja langsung shock dan sedih mendengarnya.
"Iya serius.
Hari ini hari terakhir aku kerja disini. Mau gimana lagi, susah jadi keputusan bos." sahut Maharani tersenyum dan melirik ke wajah temannya yang terlihat sedih itu. Maharani sengaja belum memberitahu kalau dia sudah dapat pekerjaan baru, untuk memberi Ririn kejutan.
"Aku mau lanjutin pekerjaanku dulu, ya Rin!
Gak enak sama yang lain, ini sudah hampir jam dua." Maharani bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan ada salah satu temannya yang mengatakan kalau dia di panggil oleh bagian keuangan.
"Emangnya ada apa sih Ran?
Tadi di panggil bos, sekarang pak Adit, kamu ada masalah?" tanya salah satu teman satu profesinya.
"Gak ada kok, aku hanya mau pindah kerja saja. Mulai besok, aku sudah gak kerja di sini.
Maafin aku ya, kalau selama kerja sama kalian aku ada salah. Aku minta maaf." sahut Maharani tenang dengan senyuman tipis dibibirnya.
"Kok dadakan kayak gini, emang ada apa?
Kita akan kehilangan teman sebaik kamu dong." sahut Rina, gadis pendiam yang sering mengutarakan perasaannya kepada Maharani.
"Yang pasti, Tuhan sedang menjawab doaku untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, demi bisa membahagiakan kedua orang tuaku nantinya." balas Maharani yang membuat semua teman temannya, tersenyum dan saling mendoakan.
__ADS_1
"Yasudah aku mau ke pak Adit dulu, barangkali dapat pesangon yang banyak." sambung Maharani dengan wajah sumringah.
Benar saja, Maharani mendapatkan pesangon tiga kali lipat dari gajinya dan juga ada bonus yang katanya sudah bekerja dengan baik selama ini sebesar satu juta. Maharani tersenyum, akan menyimpan uang itu sebagian dan sebagian lagi untuk dikirim ke orang tuanya di kampung.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Rani menjalani pekerjaan barunya dengan sangat baik. Dasarnya Rani memang cerdas sehingga sangat mudah menerima tugas tugas yang diberikan oleh Jeni. Dan Jeni pun mengagumi cara kerja Rani, yang selalu membuatnya puas dan bangga.
Waktu terus berjalan tak terasa, kurang dua hari lagi, Maharani akan di wisuda.
"Masyaalloh anak gadis bunda. Selamat ya nak, bunda bangga sama kamu." Bu Hana memeluk tubuh ramping putrinya, matanya sudah berembun sejak tadi.
"Selamat anak ayah, ayah sangat bangga sama kamu. Terimakasih sudah mau berjuang sekeras ini, nak!
Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungi kamu. Bahagia terus nduk!" Pak Danu juga tak mau ketinggalan mendoakan dan memberikan ucapan selamat pada putri satu satunya.
Haru dan kebahagiaan menyelimuti hati ketiga orang yang saling berpelukan, yaitu Maharani dan kedua orang tuanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah lulus dengan nilai terbaik, Maharani bertekad untuk memasukkan lamarannya ke kantor milik GM, berharap diterima karena itulah harapan dan impiannya selama ini.
Hampir satu Minggu belum ada kabar dari GM. Maharani semakin cemas dan berusaha untuk menerima jika mungkin dirinya belum pantas berada di perusahaan raksasa itu.
"Gimana, sudah ada panggilan dari GM?" tanya Ririn saat mereka berdua menikmati makan malam di apartemen milik Ririn.
"Belum ada kabar. Mungkin akunya yang terlalu berharap tinggi, Rin!" sahut Maharani lesu.
"Yang sabar, mungkin yang melamar itu ribuan dan punya kamu belum terbaca. Berdoa saja, feeling-aku, kamu pasti diterima. Percaya deh!" sahut Ririn dengan serius, memberi semangat pada sahabatnya.
"Aamiin, makasih ya Rin. Kamu selalu membuatku jadi lebih baik." balas Maharani tersenyum dan menatap Ririn lekat.
"Besok kan hari libur, gimana kalau kita jalan jalan. Sekalian ajak tuh si Amel, kita nge mall.
Gimana?"
__ADS_1
"Wah boleh juga. Aku hubungi Amel dulu. Semoga dia bisa, tuh anak sekarang sulit banget diajak ketemuan, sudah jadi orang penting dia." Maharani terkekeh teringat sahabat satunya itu, Amelia sekarang sudah jadi CEO di perusahaan papanya. Bahkan sudah mengajak Maharani untuk bekerja dengan dirinya, tapi Rani menolaknya. Tak ingin mencampur adukkan pekerjaan dan persahabatan.
"Alhamdulillah, Amelia bisa. Besok kita habiskan waktu bertiga. Aku juga sudah mulai stres dan jenuh, butuh refreshing." Maharani memijat pelipisnya pelan, membuat Ririn tersenyum.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️