Bidadari Salju

Bidadari Salju
Bersikap masa bodoh


__ADS_3

Sedangkan di ruangan Maharani, dia tengah merutuki nasibnya yang sudah membawanya kembali bertemu dengan orang orang jahat seperti Belinda dan Haris.


"Kenapa aku tidak mencari tau lebih dulu seluk beluk perusahaan ini. Sekarang menyesal pun tidak ada gunanya. Aku harus bisa bertahan hingga kontrak kerjaku habis!" Maharani berbicara sendiri di dalam hatinya.


Hatinya kini tengah dilanda amarah dan kecewa.


Bayangan kejahatan Haris dan kawan kawannya kembali mengusik ketenangan hatinya.


"Aku harus bisa berdamai dengan hatiku. Anggap tidak mengenalnya dan tak perlu membangun komunikasi diluar masalah pekerjaan.


Maharani, kamu harus kuat, harus bisa dan harus bisa menunjukkan jika kamu bukanlah gadis lugu yang dengan mudah mereka sakiti." bisik Maharani pada dirinya sendiri.


Hari yang melelahkan, membuat Maharani tak lagi fokus pada pekerjaannya hari ini.


Menutup layar laptopnya, memilih pergi meninggalkan kantor. Tak perduli jika nanti mendapatkan teguran. Pikirannya masih kacau dan hatinya masih berantakan.


Maharani mengambil tasnya dan melangkah keluar ruangan dengan wajah terlihat kuyu.


"Mau kemana, RAN?" sapa Dewi teman satu kantornya yang lumayan dekat dengan Maharani.


"Pulang!" sahut Maharani singkat dengan mimik yang tak bisa dijelaskan.


"Ini masih jam berapa?


Main pulang saja, dimarahi bos baru tau rasa!


Ada apa?


Apa kamu sedang ada masalah?" sambung Dewi yang menatap Maharani penuh selidik.


"Gak papa, lagi kurang sehat saja.


Yasudah aku pulang duluan ya!" sahut Maharani dengan wajah yang sudah terlihat sangat lelah, berjalan gontai meninggalkan Dewi yang masih terpaku.


"Ada apa dengan Maharani?


Sepertinya sedang ada masalah besar, wajahnya seperti sangat sedih begitu." batin Dewi yang masih menatap kepergian Maharani.


"Dewi!


Kemana Maharani?" tiba tiba Fawas datang dan mengagetkan Dewi yang menatap kepergian Maharani dengan perasaan cemas.

__ADS_1


"Katanya tadi mau pulang, pak!


Sepertinya Maharani sedang sakit, wajahnya terlihat kuyu." sahut Dewi sopan.


"Yasudah, kamu lanjutkan pekerjaan kamu." balas Fawas yang langsung pergi menuju ruangan Haris.


"Sepertinya Maharani sedang tak baik baik saja.


Dia pulang." Fawas memberi laporan pada Haris tentang Maharani.


"Biarkan saja, mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


Pastikan, orang orang suruhan kamu mengawasinya, firasat ku mengatakan kalau Belinda punya niat jahat pada Maharani.


"Kamu tenang saja, mereka sudah standby untuk mengawal Maharani dari kejauhan." sahut Fawas tenang dan terlihat tersenyum tipis menatap saudara sepupunya itu, begitu besar keperduliannya akan keselamatan Maharani.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan dilain tempat, Maharani yang tengah menyusuri jalan raya dengan pikiran kacau, tidak fokus dan hampir saja menabrak motor. Namun Maharani bisa menghindar.


"Astagfirullah, ya Alloh kenapa aku jadi lemah seperti ini?


Kamu bisa!" Maharani bicara Sendiri untuk menguatkan dirinya.


Saat mobil Maharani berhenti dipinggir jalan, tiba tiba ada dua motor yang dikendarai tiga orang preman datang mendekati mobil Maharani.


"Keluar!" teriak salah satu preman mengetuk kaca mobil Maharani.


Maharani yang sadar dirinya tengah ada dalam bahaya, sangat ketakutan.


Maharani tidak berani membuka kaca jendela mobilnya, memilih tetap berdiam diri di dalam mobil dengan tubuh bergetar, takut dan ngeri melihat tiga preman yang bertubuh besar dan wajahnya sangar.


"Ya Alloh, tolong hamba.


Jauhkan hamba dari orang orang yang berniat jahat padaku, astagfirullah ya Alloh, tolonglah hambaMU ini." lirih Maharani dengan rasa takutnya.


"Keluar!


Dalam hitungan lima, kamu tidak keluar, aku pastikan mobilmu rusak dan kamu tidak selamat." ancam salah satu preman yang kini tengah berada di dekat mobil Maharani.


Mereka terus mengetuk dan teriak menakut nakuti Maharani.

__ADS_1


Saat ketiga preman itu mulai bersikap bar bar, Rania diduga, anak buat yang diperintahkan Fawas untuk mengawal Maharani muncul dan langsung menghajar ketiga preman itu.


Tak butuh waktu lama, akhirnya ketiga preman tersebut mampu dilumpuhkan dengan sangat mudah.


Mereka hanya tidak badan besar dan wajah sangar saja. Tapi sebenarnya ilmu beladiri tidak punya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


#Bidadari salju


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2