
"Rani tidak kenal, tapi orangnya sekarang ada diluar. Katanya ada yang memintanya untuk menjaga dan mengawasi Maharani, ada yang sedang ingin berniat jahat sama Rani yah!" sahut Maharani yang bicara apa adanya pada sang ayah.
"Yasudah, ibu mau buatkan minum dan cemilan sama pemuda tadi.
Dan ayah, sebaiknya ayah temui dia diluar. Temani dan ajak ngobrol.
Rani, sebaiknya kamu mandi dan sholat dulu." perintah Bu Hanna yang langsung di iyakan sama Maharani dan pak Danu.
Pak Danu melangkahkan kakinya keluar, menuju saung dimana Leo tengah beristirahat namun matanya awas menatap di sekelilingnya.
"Asalamualaikum." sapa pak Danu yang sudah berdiri di hadapannya Leo, dengan wajah teduhnya.
"Waalaikumsallm, pak!
Maaf saya numpak istirahat!" sahut Leo dengan sikap ramah.
"Gak papa, silahkan!
Terimakasih sudah menolong anak saya dari marabahaya." balas pak Danu yang menatap dalam pada manik mata milik Leo.
"Sama sama pak, saya hanya menjalankan tugas saya." sahut Leo yang membuat pak Danu mengerutkan wajahnya.
"Menjalankan tugas, maksudnya gimana ya, nak?
Apa ada yang menyuruhmu untuk menjaga Maharani, putri saya?" tanya pak Danu yang mulai penasaran.
"Lebih tepatnya begitu, pak!
Karena ada yang ingin berbuat jahat pada Nina Maharani, sehingga saya diperintahkan kusus untuk mengawal dan menjaga nona Maharani!" sahut Leo yang bicara jujur tentang apa yang terjadi.
"Kalau boleh tau, siapa yang sudah menyuruh kamu menjaga Maharani?" sahut pak Danu yang ingin menuntaskan rasa penasarannya.
"Pak Fawas, beliau yang meminta saya dan dia teman saya untuk menjaga dan melindungi Nina Maharani." jawab Leo yang tidak mau menyebutkan namanya Haris secara langsung.
"Pak Fawas, siapa dia?" pak Danu semakin penasaran karena tidak mengenal nama pria tersebut.
"Lebih baik tanya sama nona Maharani, sepertinya nona tau siapa pak Fawas." sahut Leo tegas dengan senyuman tipis dibibirnya.
"Lalu siapa yang sudah memiliki niat jahat pada anakku?" tanya pak Danu selanjutnya.
__ADS_1
"Belinda, wanita yang dulu pernah satu sekolah sama Nina Maharani. Dia punya niatan buruk dan ingin mencelakakan Nina Maharani. Itulah kenapa saya ditugaskan untuk menjaga Nina Maharani. Karena bisa saja, Belinda akan berbuat jahat kapan saja. Dia wanita yang berbahaya." sahut Leo yang mengatakan sebenarnya pada pak Danu.
"Belinda?
Sepertinya aku sangat familiar dengan nama itu." gumam pak Danu yang terus berusaha mengingat siapa Belinda. Dan pada menit berikutnya, akhirnya pak Danu mengingat wanita jahat itu, wanita yang selalu berbuat jahat pada anaknya.
"Wanita itu!
Dia dulu selalu berbuat jahat pada Maharani, tapi kenapa sekarang dia melakukan itu lagi?
Padahal Maharani sama sekali tidak pernah menyakiti perempuan itu." gumam pak Danu yang tak mengerti dengan jalan pikiran Belinda yang selalu ingin mencelakai anaknya.
"Lebih baik, nona hati hati untuk sementara.
Kami sedang mencari cara untuk memenjarakan perempuan itu." sahut Leo yang masih bersikap tenang namun tetap sopan.
"Silahkan diminum dulu, dan ini cemilannya juga masih hangat.
Terimakasih ya, nak!
Kamu sudah nolongin anak ibu!" Bu Hanna datang dengan membawa nampan ditangannya, kopi hitam, air putih dan kudapan dia hidangkan untuk Leo.
"Terimakasih banyak Bu, harusnya tidak perlu repot-repot seperti ini. Cukup air putih saja." Leo membalas ucapan Bu Hanna sopan.
Ayo dicicipi, mumpung masih hangat!" sambung Bu Hana ramah.
"Terimakasih Bu!" sahut Leo merasa tak enak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah tiga hari dari kejadian itu, Belinda belum menunjukkan tanda tanda akan kembali melakukan aksinya.
Belinda tau, kalau Haris menyuruh orang untuk menjaga Maharani. Untuk itulah Belinda menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Menunggu lengah musuhnya.
Demi cintanya pada Haris, apapun akan Belinda lakukan, termasuk menyingkirkan Maharani.
"Sekarang, silahkan bersenang senanglah dulu kamu, Maharani!
__ADS_1
Karena saat aku punya kesempatan, kamu akan menangisi nasibmu karena penderitaan yang sudah ku siapkan untukmu." gumam Belinda yang tersenyum sinis menatap hamparan menjulang gedung milik GM, dimana Haris pujaannya berada dan Maharani sang pengganggu juga ada di sana.
"Aku akan menjadi nyonya Haris Mahendra, dihormati semua orang dengan kekayaan yang keluarga Haris miliki.
Berkorban sedikit tidak masalah, asal tujuanku memiliki Haris terwujud.
Dan kamu Maharani, kamu harus aku singkirkan sebelum kamu benar benar jadi duri untuk impianku!" Belinda bicara sendiri dengan sejuta rencana jahat di otaknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️