Bidadari Salju

Bidadari Salju
episode tamat


__ADS_3

"Kita pindah rumah saja!


Besok kita akan tinggal dirumah baru milikku. Agar kamu kembali nyaman!


Karena dia akan lama disini!" sahut Haris yang berusaha menenangkan hati istrinya.


"Ide bagus!


Aku harap kamu benar benar melakukannya, mas!" sahut Maharani dingin.


"Yasudah, kamu bersih bersih sana, terus istirahat.


Biar aku yang ambilin semua baju kotornya buat ditaruh di belakang nanti." Haris tak lagi mau memperpanjang perdebatan hanya gara gara Inggrid.


Tanpa banyak kata, Maharani menuruti perintah Haris dan langsung pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.


"Kak, lebih baik jaga jarak, karena sepertinya mbak Inggrid punya niat tidak baik. Dia bukannya dari dulu suka sama kamu, sudah pasti kedatangannya hanya untuk membuat hubungan kalian berantakan.


Pindah saja di rumahmu sendiri, kasih penjagaan yang ketat, agar ulat bulu tidak seenaknya masuk kerumah kamu itu." Hafsah menatap dalam kakaknya, karena Hafsah juga paham bagaimana sifat Inggrid yang gila itu, dia akan nekad melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Iya, habis ini aku akan bicara sama papa. Besok biar bisa langsung pindah, tanpa sepengetahuan Inggrid. Tolong, bilang ke mama, jangan pernah mengijinkan Inggrid datang kerumahku dengan memberikan alamat pada wanita gila itu. Menyebalkan!" sahut Haris yang membuang nafasnya kasar.


"Kamu tenang saja, kak!


Hafsah sudah punya rencana untuk membuatnya segera pergi dari Indonesia, perempuan kayak dia gak pantes ada di negara ini, memuakkan!" sahut Hafsah dengan senyuman miring penuh misteri.


"Rencana apa?


Jangan macam macam Hafsah!


Bagaimanapun, kakak gak mau punya adik penjahat loh, jangan melebihi batasan." Haris mengingatkan adik kesayangannya.


"Kakak tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun kok, tapi ada seseorang yang akan datang membawa mbak Inggrid kembali ke London. Karena dia tengah hamil anak laki laki itu!" bisik Hafsah yang membuat Haris tak percaya, sampai matanya melotot dengan mulut terbuka lebar sangking kagetnya.


"Biasa saja kali, kak!


Kan, kakak sendiri juga tau, gimana kelakuan mbak Inggrid selama ini, terlalu bebas. Lihat tuh pakaiannya, seksi nya keterlaluan!" desah Hafsah dengan bahu bergidik jijik.


"Yasudah, kakak percaya sama kamu.


Semoga dia segera keluar dari rumah ini, agar tidak ganggu kehidupan kita." sahut Haris yang berusaha tetap tenang agar bisa berpikir jernih menghadapi sikap Inggrid yang absurd.


"Ngomongin apa sih, kayaknya serius banget?" Maharani keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Nampak sangat cantik dan juga seksi.


"Wah, kakak Rani cantik sekali!


Makanya kakakku sampai tergila gila!" kekeh Hafsah yang membuat Rani bersemi merah dengan pujiannya.


"Hafsah balik ke kamar dulu ya, takut ganggu!


Kak, yang santai, yang tenang, ulat bulu pasti dibasmi!" Hafsah terkekeh dan langsung keluar dari kamar kakaknya.


"Kamu gak mandi, mas?" Rani menatap penuh arti ke wajah suaminya yang tampan.


"Iya, aku juga mau ketemu papa untuk bicara soal kepindahan kita nanti. Aku mandi dulu ya!" Haris mencium lembut pipi sang istri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Pa!


Haris mau bicara!" Haris memasuki ruang kerja papanya, karena pak Altaf memang lebih banyak menghabiskan waktunya disana untuk mengontrol usahanya.

__ADS_1


"Mau bicara soal apa, Inggrid?" sahut pak Altaf yang seolah paham dengan maksud putranya.


"Salah satunya, tapi intinya bukan itu.


Haris sama Maharani memutuskan untuk tinggal dirumah kamu sendiri. Semuanya sudah beres dan sudah bisa ditempati. Barang barang juga sudah terisi lengkap. Kamu ingin menjalani rumah tangga tanpa campur tangan siapapun.


Apalagi ada Inggrid disini, Haris merasa tidak nyaman, dia seperti ingin merusak hubunganku dengan Maharani. Tanpa Haris jelaskan, papa juga sudah tentu paham seperti apa Inggrid selama ini." sahut Haris panjang lebar.


"Kamu memutuskan sesuatu yang benar.


Papa merestui kalian. Jaga hubungan kalian, Maharani perempuan baik dan pantas kamu jaga dengan segenap jiwamu." sahut pak Altaf tersenyum hangat.


"Tapi bagaimana dengan mama, pa?" Haris merasa ragu kalau mamanya akan tidak setuju dengan keputusannya pindah rumah.


"Biar papa yang bicara sama mama. Kamu sudah menjadi seorang suami, kenyamanan istri kamu adalah hal yang utama. Gak usah kamu pikirkan mamamu, pasti dia paham." pak Altaf memberikan ketenangan pada putranya kalau semua pasti baik baik saja.


"Terimakasih, pa!


Haris ijin pamit, mau istirahat karena hari ini Haris capek sekali." Haris keluar dari ruang kerja papanya dengan perasaan tenang.


"Haris, aku rindu!" bisik Inggrid yang tiba tiba sudah ada dibelakang harus dan memeluknya dari belakang dengan pakaian minim.


"Jangan gila kamu Inggrid, lepaskan!


Aku tidak mau istriku salah paham dengan sikap gila kamu ini!" bentak Haris marah, wajahnya memerah oleh ulah Inggrid yang keterlaluan.


"Kamu gak usah khawatir, mas!


Aku melihatnya bagaimana wanita ini, menguntit mu dan langsung memeluk kamu tanpa tau malu.


Lepaskan suamiku, kamu tidak pantas menyentuhnya seperti itu. Apalagi pakaian kamu sangat tidak pantas jika digunakan dirumah orang lain. Apa kamu tidak malu, kalau papa Altaf melihatmu berpakaian seperti ini, hah?" suara Maharani memecah keheningan malam, dingin dengan tatapan tajam mengarah pada Inggid yang langsung melepaskan pelukannya, bahkan Haris juga langsung mendorong tubuh mungil Inggrid sampai dia terhuyung.


"Sayang!" Haris sangat cemas, takut kalau Maharani salah paham dengan apa yang dia lihat.


Aku paham posisi kamu. Dia yang memang sudah ingin digaruk. Tapi sayang, aku tidak akan mengijinkan suamiku disentuh perempuan lain." sahut Maharani masih dengan sikap dinginnya.


"Ada apa ini, kenapa rame rame disini?


Inggrid, apa yang sudah kamu lakukan?" pak Altaf yang mendengar keributan langsung keluar, dan langsung paham dengan apa yang terjadi saat melihat pakaian minim keponakan istrinya itu.


"Kenapa kamu keluyuran dengan pakaian seperti ini, Inggrid?" Bu Anindita juga ikut keluar dengan tatapan tak suka pada keponakannya itu.


"Astagfirullah!


Lagi lagi dia bikin masalah, kenapa sih mama ijinkan dia nginep disini, bikin sakit mata saja!" sungut Hafsah yang langsung bicara tajam pada Inggrid.


"Apa salahku, sampai kalian semua menyudut aku seperti ini?


Dia, perempuan itu yang sudah bikin masalah, baru datang dirumah ini saja sudah sok kayak pemilik rumah. Apa kalian gak sadar, kalau dia cuma mau numpang hidup enak disini?" teriak Inggrid dengan nafas memburu.


"Cukup!


Tante sudah muak dengan kelakuan kamu, Inggrid.


Kamu benar benar sudah keterlaluan!


Kemasi baju kamu, dan pergilah!


Tante sudah tidak mau lagi perduli denganmu. Pulang saja kerumah orang tua kamu!


Pantes saja, mama kamu mengusirmu, tingkahmu memang sudah tidak bisa di maklumi!" teriak Bu Anindita yang benar benar kecewa dengan kelakuan Inggrid kali ini.

__ADS_1


"Tante, mengusirku?


Kenapa Tante lebih membela dia, aku keponakan Tante. Dia cuma orang lain yang mau menjarah harta Tante!" Inggrid masih membela diri dan memojokkan Maharani.


"Dia menantuku, Inggrid!


Maharani menantuku, dia istri dari anakku. Sedangkan kamu hanya keponakan yang tidak bisa menjaga harga dirimu dirumah ini, aku kecewa, pergilah sebelum aku yang menyeretmu keluar dengan kasar!" tekan Bu Anindita yang membuat semua orang melongo tak percaya. Karena selama ini Inggrid adalah kesayangannya.


Inggrid langsung lari dan masuk ke kamarnya, membereskan semua barangnya dan beranjak pergi dengan perasaan kesal. Maharani benar benar sudah membuatnya terusir.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Gimana, kamu suka?" Haris menatap rona bahagia di wajah istrinya.


Rumah yang dia bangun untuk bukti cintanya pada Maharani kini sudah bisa ditempati.


"Bagus sekali, mas!


Ini impianku banget!" seru Maharani kegirangan. Bangunan mewah ala eropa itu benar benar membuatnya bahagia.


"Alhamdulillah, aku senang melihatmu sebahagia ini, aku mencintaimu istriku?" Haris memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dan akhirnya berlanjut di ranjang panas milik mereka.


End...


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


New karya : Ternyata Aku Yang Kedua


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


#Wanita Sebatang Kara { on going }


#Ganti Istri { on going }


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2