
"Apa?
Kamu masih keluarganya Haris?" Belinda menatap tak percaya ke arah Fawas yang sudah menghadap laptopnya.
"Iya! pergilah, atau aku panggilkan pihak keamanan!" Fawas bicara dengan wajah dingin dan suara datarnya, Belinda mau tidak mau pergi meninggalkan tempat itu, sebelum dirinya dipermalukan dengan diusir oleh scurity.
Haris yang mengejar Maharani di ruangannya, tertegun melihat wanita anggun itu tengah menangis.
"Rani!
Maafkan aku!" lirih Haris yang terlihat lemas menatap wajah sembab Maharani.
"Apa kalian menipuku?
Kenapa kamu dan ayah kamu menerima ku kerja di kantor ini. Apa tujuan kalian padaku?
Rumah, mobil? apa maksud kalian?
Katakan?" Maharani menatap benci ke arah Haris yang masih terdiam.
"Awalnya, aku tidak tau kamu ada di kantor ini.
Aku baru pulang dari luar negri beberapa Minggu ini. Dan papa, memintaku untuk menggantikannya, karena kesehatan beliau menurun.
Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi, Rani!
Tolong maafkan aku!" lirih Haris yang menunjukkan wajah bersalahnya.
"Maaf?
Setelah begitu banyak kamu membuatku terluka dan sakit?
Sekarang dengan mudahnya kamu ingin minta maaf padaku, jangan mimpi!" sahut Maharani masih dengan wajah tak suka.
"Aku tau, aku sudah begitu banyak dosa terhadapmu, Rani!
Tapi tolong maafkan aku. Aku selama ini tersiksa karena kejahatan yang pernah aku lakukan padamu. Maaf!" Haris masih terus meminta maaf dan berusaha meyakinkan Maharani kalau niatnya tulis dan menyesali semua kesalahan yang pernah dia berbuat sewaktu masa sekolah dulu.
"Haris!
Untuk apa kamu mengemis maaf dari perempuan miskin kayak dia. Jangan merendahkan harga diri kamu seperti ini " tiba tiba Belinda sudah ada di ruangan Maharani dengan memasang wajah angkuhnya.
"Diam kamu, Belinda!
Jangan pernah ikut campur urusanku. Pergilah!" sentak Haris yang geram dengan kelakuan Belinda yang sok tau.
__ADS_1
"Apa?
Kamu mengusirku, Ris?
Di depan perempuan miskin ini kamu membentak dan mengusirku. Lihat saja, aku akan melakukan sesuatu yang lebih kejam dari perlakuan kamu hari ini!" Belinda merasa harga dirinya direndahkan dihadapan Maharani. Dendam dan kebenciannya pada Maharani semakin menggebu. Jiwa jahatnya ingin membalas dan merencanakan hal buruk pada Maharani.
"Aku akan membuat perempuan itu menangis darah. Karena dia, kamu sudah berani menyakiti hatiku!" sungut Belinda yang pergi begitu saja setelah mengatakan isi hatinya.
Haris tak perduli dengan kemarahan Belinda. Baginya Belinda tidak artinya apa apa.
Maaf dari Maharani yang kini ia harapkan.
"Jangan dengarkan dia. Kamu tidak usah khawatir, Belinda tidak akan berani macam macam sama kamu." Haris menatap lekat ke arah Maharani yang bahkan enggan melihat pada dirinya.
"Pergilah, dan jangan mengusikku.
Aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak. Terpaksa harus bertahan di perusahaan ini. Tolong tinggalkan aku sendiri." tekan Maharani yang memalingkan wajahnya. Tidak Sudi melihat wajah laki laki yang begitu dia benci.
"Baiklah!
Sekali lagi, tolong maafkan aku!" Haris melangkah keluar dari ruangan Maharani dengan wajah lesu.
Banyak mata yang memperhatikan langkah orang nomor satu diperusahaan itu, dan bisik bisik karyawan pun mulai saling bersahutan. Haris tak lagi mau perduli. Kakinya terus melangkah menuju ruangannya.
"Bagaimana?" Fawas menyambut Haris dengan pertanyaan yang membuat Haris menarik nafasnya dalam.
"Tapi setidaknya ini jauh lebih baik.
Maharani sudah tau siapa kamu, dan kamu tidak perlu lagi bersembunyi.
Tinggal berusaha meyakinkan dia untuk mau memaafkan kamu.
Aku yakin, lama lama hatinya akan luluh jika kamu memang tulus. Berjuanglah!" Fawas memberi semangat dan nasehatnya. Haris hanya diam mendengarkan dengan pikiran yang sudah kacau.
"Suruh orang untuk mengawasi Belinda.
Dan suruh salah satu anak buahnya untuk terus mengawal Maharani dari kejauhan.
Aku takut Belinda nekad menyakiti Maharani.
Kamu tau sendirikan, wanita itu sangat ambisius dan gila!" Haris menatap tegas ke arah Fawas yang langsung mengangguk dengan perintah yang ia berikan.
"Baiklah!
Aku akan minta mereka berjaga.
__ADS_1
Karena tadi Belinda juga sempat bikin ulah denganku. Wanita satu itu memang menyebalkan!" gumam Fawas yang masih kesal jika ingat kekakuan Belinda.
"Awasi saja terus, pastikan keselamatan Maharani." Haris akan terus berusaha untuk menebus dosa dosanya pada Maharani.
Laki laki tampan itu, semakin merasakan cintanya semakin dalam pada sosok Maharani.
Sedangkan di ruangan Maharani, dia tengah merutuki nasibnya yang sudah membawanya kembali bertemu dengan orang orang jahat seperti Belinda dan Haris.
"Kenapa aku tidak mencari tau lebih dulu seluk beluk perusahaan ini. Sekarang menyesalpun tidak ada gunanya. Aku harus bisa bertahan hingga kontrak kerjaku habis!" Maharani berbicara sendiri di dalam hatinya.
Hatinya kini tengah dilanda amarah dan kecewa.
Bayangan kejahatan Haris dan kawan kawannya kembali mengusik ketenangan hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️