Bidadari Salju

Bidadari Salju
Akbar


__ADS_3

"Terimakasih, maaf saya sudah dijemput!" sahut Maharani ketus dan keluar dari ruangannya dengan senyuman kecut.


Haris yang penasaran siapa yang menjemput wanita pujaannya, memilih membuntuti langkah Maharani dan mengintip di balik jendela kaca salah satu ruangan.


"Apa dia laki laki itu, laki laki yang dijodohkan dengan Maharani." batin Haris terluka, namun tetap tidak akan menyerah, karena janur kuning belum melengkung, Maharani masih bisa dikejarnya.


"Terimakasih sudah mau aku repot kan untuk menjemput ku segala. Maaf ya!" lirih Maharani dengan senyuman tipis dibibirnya kepada laki laki tampan yang tengah fokus mengemudi.


"Sama sama tuan putri!" sahut Akbar dengan senyuman manis. Akbar adalah teman masa kecilnya dulu, saat masuk SMP, keluarganya Akbar pindah keluar kota, karena ayahnya Akbar dipindah tugaskan.


Dan sekarang Akbar sudah kembali pulang ke kampung halamannya, hanya dengan ibunya saja. Ayahnya Akbar sudah meninggal setahun yang lalu.


Bu Rima ingin menikmati masa tuanya di kampung, meskipun Akbar sebenarnya keberatan, karena Akbar harus meninggalkan ibunya di kampung bersama Bulik nya, Lantaran Akbar harus kembali kerja di Jakarta.


Akbar selalu berusaha untuk pulang seminggu sekali demi ibunya.


"Kamu betah di Jakarta, Ran?" tanya Akbar memecah kebisuan diantara mereka.


"Entahlah, aku sebenarnya ingin di kampung saja, menemani ayah dan bunda. Tapi aku terlanjur tanda tangan kontrak kerja untuk lima tahun kedepannya." sahut Maharani lirih, seolah ada beban yang sangat berat dipundaknya.


"Apa kamu keberatan dengan perjodohan ini, Ran?


Karena, aku tidak ingin kamu merasa terpaksa, karena pasti tidak akan nyaman untuk kita nantinya." sambung Akbar yang penasaran dengan pendapat Maharani.


Meskipun cintanya pada Maharani begitu besar, Akbar tidak mau memaksakan kehendaknya, karena pernikahan bukanlah untuk uji coba perasaan.


"Entahlah, aku masih bingung. Tolong berikan aku waktu, kamu gak keberatan kan?" sahut Maharani dengan wajah tak bersemangat.


"Tidak usah dipaksakan kalau memang hatimu menolak, aku memang begitu mengharapkan kamu menjadi istriku, cinta yang selama ini aku simpan untukmu begitu besar, namun aku juga tak ingin menyakiti apalagi menekan kamu harus menerima karena keinginan orang tua. Meskipun orang tua kita sudah sepakat, aku akan tetap mengutamakan perasaan kamu, Rani!" sahut Akbar dengan senyum manis yang selalu terlihat di wajah tampannya.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mau memahami ku dan mengerti keadaan ini. Kita jalani saja dulu. Bukankah kita juga baru bertemu setelah sekian lama tidak pernah tau kabar masing masing." sahut Maharani yang mendadak hatinya perih.


Entah kenapa, akhir akhir ini sering memikirkan Haris dan mulai merasa nyaman dengan perhatian laki laki yang begitu dia benci.


Suasana kembali hening, sibuk dengan pemikiran masing masing.


Hingga mobil yang dikendarai Akbar berhenti di depan rumah minimalis yang jadi tempat tinggal Maharani saat ini.


"Sudah sampai, turunlah!


Aku akan kembali ke toko, karena ada beberapa barang yang masuk!" Akbar menatap dalam manik coklat milik Maharani dengan perasaan yang sulit dijelaskan oleh kata.


"Kamu gak mampir dulu?" balas Maharani yang basa basi menawarkan singgah.


"Terimakasih, lain kali saja.


Lagian juga tidak enak di lihat tetangga, kita bukan muhrim. Yasudah, masuklah!


Asalamualaikum!" sahut Akbar bijaksana, Akbar laki laki pendiam yang tidak banyak tingkah. Sikapnya yang begitu menghormati perempuan karena hasil didikan sang ibu.


Akbar orang yang paham agama, hingga sikapnya begitu santun pada siapapun.


Selain tampan, alim dan juga sukses.


Akbar tak pernah bisa mencintai wanita selain Maharani. Akbar punya beberapa mini market yang tersebar di beberapa kota, namun tak membuatnya jadi orang sombong.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.

__ADS_1


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2